sumutpos.jawapos.com - Hamparan pasir Gurun Sahara dikenal tak ramah bagi siapa pun. Panas ekstrem, angin kering, dan medan yang menguras tenaga menjadikan setiap langkah sebagai perjuangan. Namun di tengah kerasnya ajang Marathon des Sables 2026, seorang pelari asal Jepang justru tampil tak biasa berlari mengenakan jas lengkap.
Melansir Instagram @cretivox, Minggu (19/4/2026), sosok itu adalah Masahiro Michinaka, 57 tahun. Di antara peserta lain yang mengenakan pakaian teknis ringan, ia tampil kontras dengan setelan jas hitam dan dasi. Penampilan yang identik dengan ruang formal itu justru dibawanya menembus lintasan sejauh 270 kilometer selama sekitar enam hari.
Tak sekadar sensasi, Michinaka berhasil menuntaskan lomba dengan catatan waktu 71 jam 2 menit 28 detik. Sebuah capaian yang tetap impresif bahkan tanpa “beban tambahan” berupa pakaian formal.
Baca Juga: Polsek Batang Kuis Ringkus Pelaku Curanmor dan Pembongkaran Rumah, Terancam 9 Tahun Penjara
Sebagai salah satu ultramaraton paling berat di dunia, Marathon des Sables menuntut efisiensi energi dan strategi matang. Suhu yang bisa melampaui 40 derajat Celsius membuat pilihan pakaian menjadi krusial.
Dalam konteks itu, keputusan mengenakan jas jelas bukan pilihan lazim. Bahan yang tidak dirancang untuk ventilasi tubuh berpotensi mempercepat kelelahan. Namun Michinaka tetap bertahan, bahkan menyelesaikan seluruh etape tanpa insiden besar.
Ia bukan pendatang baru di dunia lari jarak jauh. Pengalamannya di berbagai lomba trail di Jepang menjadi bekal penting menghadapi medan ekstrem. Meski demikian, aksinya kali ini tetap dianggap melampaui batas kebiasaan.
Baca Juga: Status Tahanan Kota, Oknum Ketua OKP di Langkat Dituntut 12 Bulan Penjara
Tak butuh waktu lama, aksi “pelari berjas” ini menyebar luas di media sosial. Warganet dari berbagai negara ramai-ramai memberi komentar mulai dari kagum hingga heran.
Di akun Instagram, salah satu netizen menulis,
“Ini baru definisi kerja keras, literally kerja pakai jas tapi di gurun.”
Komentar lain bernada humor datang dari pengguna lain, “Kalau dia telat meeting, nggak ada alasan lagi sih. Lari di Sahara aja bisa.”
Namun tak sedikit pula yang melihatnya sebagai bentuk disiplin luar biasa.
“Ini bukan sekadar gaya, tapi mental. Di kondisi normal saja sulit, apalagi pakai jas,” tulis seorang netizen.
Baca Juga: KRYD Polres Sergai: Patroli Intensif Jaga Stabilitas Kamtibmas Tetap Kondusif
Ada pula yang menyoroti makna simbolik di balik aksi tersebut.
“Mungkin ini cara dia bilang kalau batas itu cuma di kepala,” komentar lainnya.
Di balik viralitasnya, aksi Michinaka menghadirkan perspektif berbeda tentang olahraga ekstrem. Ia tidak hanya menantang fisik, tetapi juga norma yang selama ini dianggap baku.
Di tengah kerasnya Sahara, seorang pria dengan jas menunjukkan bahwa keberanian tampil berbeda bisa berjalan seiring dengan ketangguhan. Bahwa di lintasan sepanjang ratusan kilometer itu, yang diuji bukan hanya stamina, tetapi juga cara seseorang memaknai batas dirinya sendiri.(lin)
Editor : Redaksi