SUMUT POS- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali memberikan pernyataan yang mengejutkan.
Terbaru, Trump mengklaim perang antara AS dan Iran telah berakhir setelah kedua pihak disebut mencapai kesepahaman awal untuk menghentikan konflik.
Namun, pernyataan tersebut langsung dibantah Iran dan bahkan mengejutkan sekutu terdekat Washington, Israel, yang mengaku tidak mengetahui adanya kesepakatan final.
Baca Juga: Iran Serang 18 Aset Amerika di Timur Tengah
Dalam pernyataannya pada Kamis (11/6) waktu setempat, Trump menyebut Amerika Serikat telah 'mengakhiri perang' dengan Iran dan berhasil mencapai sebuah memorandum of understanding (MoU) yang sangat kuat sebagai dasar penghentian permusuhan.
Trump bahkan mengisyaratkan bahwa kesepakatan resmi dapat ditandatangani dalam beberapa hari mendatang.
"Kami memiliki penyelesaian yang hebat," kata Trump, seraya menyebut proses finalisasi sedang berlangsung dan upacara penandatanganan berpotensi digelar di Eropa dengan kehadiran Wakil Presiden JD Vance.
Meski begitu, Trump tidak menjelaskan secara rinci isi kesepakatan yang dimaksud. Ia hanya menyebut dokumen tersebut sebagai 'memorandum of understanding yang sangat kuat' dan mengakui bahwa sebagian substansinya masih bersifat konseptual.
Trump mengklaim operasi militer Amerika Serikat menjadi faktor utama yang mendorong Iran kembali ke meja perundingan.
Menurutnya, tekanan yang diberikan Washington membuat Teheran bersedia membahas penyelesaian konflik dan isu nuklir yang selama ini menjadi sumber ketegangan utama.
Ia juga menegaskan bahwa blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran akan tetap diberlakukan hingga seluruh kesepakatan benar-benar rampung.
"Blokade akan terus berjalan sampai transaksi ini diselesaikan," ujar Trump.
Presiden AS itu turut menyebut sejumlah negara yang disebut terlibat dalam proses persetujuan kesepakatan, yakni Israel, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Turki, Pakistan, Bahrain, Kuwait, Yordania, dan Mesir.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan laporan mengenai adanya kesepakatan dengan Amerika Serikat masih sebatas spekulasi.
"Iran belum mengambil keputusan final terkait kesepakatan apa pun," kata Baghaei kepada media pemerintah Iran.
Ia juga menilai langkah-langkah yang dilakukan Washington justru berdampak negatif terhadap proses diplomasi yang sedang berjalan.
Trump sebelumnya menyatakan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei secara konseptual telah mendukung penyelesaian tersebut, termasuk membuka jalan bagi pengamanan material nuklir Iran oleh AS dan penghentian ambisi pengembangan senjata nuklir.
Namun, pernyataan itu belum mendapat konfirmasi dari Teheran. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bahkan turut meragukan klaim Trump.
Juru Bicara Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, memperingatkan bahwa Trump bisa saja sedang menjalankan strategi menyesatkan.
"Probabilitas adanya penipuan oleh Trump sangat tinggi," kata Rezaei.
Klaim Trump ternyata juga memicu kebingungan di Israel. Menurut sumber yang mengetahui situasi tersebut, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sedang memimpin pembahasan keamanan terkait Iran ketika pengumuman Trump disampaikan ke publik.
Sumber itu mengatakan Israel tidak mengetahui adanya kesepakatan yang akan diumumkan maupun proses persetujuan yang diklaim telah disetujui seluruh pihak terkait.
Pernyataan tersebut secara tidak langsung bertentangan dengan klaim Trump yang menyebut poin-poin akhir kesepakatan telah memperoleh persetujuan dari semua pihak yang terlibat.
Setelah pengumuman tersebut, Netanyahu diketahui berbicara langsung dengan Trump.
Dalam percakapan itu, Netanyahu menyampaikan apresiasi atas komitmen Washington untuk memastikan Iran melepaskan uranium yang telah diperkaya, membongkar infrastruktur nuklirnya, membatasi produksi rudal, serta menghentikan dukungan terhadap kelompok-kelompok proksi di kawasan Timur Tengah. (jpc/ram)
Editor : Juli Rambe