Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Eropa Dilanda Panas, Suhu Lebih dari 40 Derajat Celcius, dan 1.300 Orang Meninggal

Juli Rambe • Selasa, 30 Juni 2026 | 13:59 WIB
Ilustrasi gelombang panas landa Eropa. (Dok: New Scientist)
Ilustrasi gelombang panas landa Eropa. (Dok: New Scientist)

 

SUMUT POS- Gelombang panas ekstrem dilaporkan tengah melanda Eropa sejak beberapa hari lalu. 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut suhu tinggi yang melampaui 40 derajat Celsius menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, terutama kelompok lanjut usia.

Tercatat sudah 1.300 orang yang meninggal. Dengan negara Perancis menjadi negara dengan jumlah korban terbanyak.

Baca Juga: Selat Hormuz Kembali Terbuka

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengungkapkan, lebih dari 1.300 kematian berlebih (excess deaths) tercatat di Eropa sejak 21 Juni 2026. Ia menilai banyak negara di kawasan tersebut belum siap menghadapi cuaca panas ekstrem.

"Rumah, tempat kerja, dan sekolah Eropa tidak dibangun untuk suhu ini," tulis Tedros Adhanom Ghebreyesus melalui media sosial pada Minggu.

Fenomena excess deaths merujuk pada jumlah kematian yang melebihi rata-rata normal dalam periode tertentu dan sering digunakan untuk mengukur dampak suatu bencana atau kondisi luar biasa, termasuk gelombang panas.

Sementara itu, mengutip Euronews, Perancis menjadi negara yang paling terdampak dalam gelombang panas kali ini. Badan Kesehatan Masyarakat Prancis (Public Health France) melaporkan sekitar 1.000 kematian tambahan sejak Rabu, 24 Juni.

"Sejak 24 Juni, sekitar 1.000 kematian tambahan (angka yang tidak terkonsolidasi) telah diamati dibandingkan dengan kematian yang tercatat pada bulan-bulan sebelumnya," kata Public Health France dalam keterangannya.

Wilayah yang paling terdampak meliputi Île-de-France, Nouvelle-Aquitaine, Brittany, Centre-Val de Loire, Normandy, dan Pays de la Loire, yang sebelumnya berada dalam status siaga merah akibat suhu ekstrem.

Sebanyak 85 persen korban meninggal merupakan warga berusia 65 tahun ke atas, menunjukkan kelompok lansia menjadi yang paling rentan terhadap dampak gelombang panas.

Sepanjang pekan, sejumlah wilayah di Prancis mencatat suhu di atas 40 derajat Celsius. Kondisi tersebut memicu lonjakan panggilan darurat dan meningkatkan tekanan terhadap rumah sakit serta layanan penyelamatan.

Lebih dari 30 departemen sempat berstatus siaga merah. Pada Rabu lalu, Prancis bahkan mencatat hari terpanas dalam sejarah pengamatan dengan rata-rata suhu harian mencapai 30 derajat Celsius.

Pemerintah Kota Paris juga mengambil berbagai langkah untuk mengurangi risiko selama cuaca ekstrem. Minum minuman beralkohol di ruang publik dilarang sementara pada akhir pekan guna mengurangi beban layanan darurat.

Parade Pride yang semula dijadwalkan berlangsung Sabtu turut ditunda, sementara Menara Eiffel dan Museum Louvre menutup operasional lebih awal.

Gelombang panas tidak hanya melanda Prancis. Inggris mencatat hari terpanas sepanjang sejarah untuk bulan Juni pada Jumat lalu. Data sementara dari Met Office menunjukkan suhu di Desa Santon Downham, Suffolk, mencapai 37,3 derajat Celsius.

Sementara itu, Spanyol dan Jerman juga mengalami suhu di atas 40 derajat Celsius.

Di Spanyol, sistem pemantauan kematian harian MoMo memperkirakan lebih dari 400 kematian berkaitan dengan suhu tinggi antara Rabu hingga Sabtu. Pada periode yang sama, tercatat 174 kematian berlebih.

Gelombang panas yang semakin sering terjadi dalam beberapa tahun terakhir kembali memicu kekhawatiran mengenai dampak perubahan iklim terhadap kesehatan masyarakat.

WHO mengingatkan negara-negara Eropa perlu memperkuat kesiapsiagaan menghadapi suhu ekstrem, termasuk meningkatkan perlindungan bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penderita penyakit kronis. (jpc/ram)

 

Editor : Juli Rambe
#gelombang panas di eropa #korban suhu panas di eropa #suhu panas