Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

79,5 Persen Pengguna Vape Kecanduan, Netizen: “Awalnya Cuma Ikut-ikutan, Lama-lama Susah Lepas”

Redaksi • Rabu, 22 April 2026 | 22:01 WIB
Sebanyak 79,5 persen pengguna vape mengalami kecanduan nikotin. (Instagram @lambegosiip)
Sebanyak 79,5 persen pengguna vape mengalami kecanduan nikotin. (Instagram @lambegosiip)

 

sumutpos.jawapos.com – Di balik popularitas vape yang kian menjamur di kalangan anak muda, muncul fakta yang tak bisa diabaikan. Sebanyak 79,5 persen pengguna vape mengalami kecanduan nikotin, sebuah angka yang memantik kekhawatiran serius, terutama karena remaja menjadi kelompok paling rentan.

Melansir Instagram @lambegosiip, Rabu (22/4/2026), Guru Besar Pulmonologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Agus Dwi Susanto, menegaskan bahwa kandungan nikotin dalam vape tetap bersifat adiktif. Ketergantungan ini bahkan dapat mendorong pengguna beralih menjadi “dual user”, yakni menggunakan vape sekaligus rokok konvensional.

Fenomena tersebut memperkuat anggapan bahwa vape bukan solusi berhenti merokok, melainkan pintu masuk baru menuju ketergantungan nikotin yang lebih luas.

Baca Juga: BNI Tuntaskan Pengembalian Dana CU Paroki Aek Nabara

Di kalangan remaja, vape kerap dipersepsikan sebagai bagian dari gaya hidup modern—ringan, beraroma, dan dianggap lebih aman dibanding rokok. Namun, persepsi ini justru menyesatkan.

Ahli kesehatan mengingatkan bahwa otak remaja masih dalam tahap perkembangan, sehingga lebih mudah mengalami ketergantungan. Selain itu, zat kimia dalam cairan vape juga berpotensi memicu gangguan pernapasan hingga penyakit kronis. 

Bahkan, sejumlah pihak seperti Badan Narkotika Nasional (BNN) telah mendorong pembatasan penggunaan vape pada remaja karena risiko adiksi dan potensi penyalahgunaan zat di dalamnya. 

Baca Juga: Begal Sadis Siang Hari di Marelan-Belawan Dibongkar, Jatanras Polda Sumut Kejar Pelaku hingga Aceh

Di media sosial, perbincangan soal vape tak kalah ramai. Banyak netizen mengaku awalnya hanya mencoba karena tren, namun berujung sulit berhenti.

“Bangun tidur sampai sebelum tidur ngevape… kadang malu sendiri karena merasa kecanduan,” komentar netizen.

Komentar lain juga menyoroti bagaimana vape terasa lebih “menjebak” dibanding rokok karena tidak berbau menyengat. “Vape ini lain… karena nggak berbau, jadi lebih sering dipakai tanpa sadar,” bilang netizen lain.

Ada pula yang mencoba berhenti, namun mengakui prosesnya tidak mudah. “Kalau mau berhenti, harus terima dulu kalau kita memang kecanduan,” aku seorang netizen.

Baca Juga: PH Ngadinah Sebut Tuntutan 1 Tahun Terlalu Berat

Di sisi lain, sebagian netizen menyoroti fenomena ini sebagai masalah serius di kalangan anak muda. Mereka menilai edukasi tentang bahaya vape masih minim, sementara promosi gaya hidup justru lebih masif.

Lonjakan penggunaan vape di kalangan remaja menjadi sinyal bahaya yang tak bisa diabaikan. Di satu sisi, produk ini dipasarkan sebagai alternatif yang lebih aman, namun di sisi lain, bukti menunjukkan adanya risiko adiksi yang tinggi.

Tanpa intervensi yang tepat, baik melalui edukasi, regulasi, maupun pengawasan, tren ini berpotensi menciptakan generasi baru yang terjerat ketergantungan nikotin sejak usia dini.(lin)

Editor : Redaksi
#Bahaya Vape #Kecanduan Nikotin #Remaja Rentan #vape #kesehatan paru