Usia Masih 20-an, Pria asal Tuban Harus Cuci Darah Ratusan Kali, Diduga Akibat Kebiasaan Makan Mi Instan
Redaksi• Selasa, 12 Mei 2026 | 19:27 WIB
Ilustrasi mie instan. Kebiasaan mengonsumsi mi instan hampir setiap hari sejak kecil diduga sebabkan gagal ginjal. (Freepik.com)
sumutpos.jawapos.com – Di usia ketika banyak orang sedang sibuk membangun karier dan menikmati masa muda, seorang pria asal Tuban, Jawa Timur, justru harus menjalani rutinitas yang menguras fisik dan mental: cuci darah dua kali setiap pekan.
Melansir Instagram @pandemictalks, Selasa (12/5/2026), Edi Utomo, kini berusia 26 tahun, telah didiagnosis menderita gagal ginjal kronis stadium 5 sejak 2019. Artinya, fungsi ginjalnya sudah sangat menurun dan tidak lagi mampu bekerja secara optimal untuk menyaring racun dari dalam tubuh.
Selama tujuh tahun terakhir, Edi memperkirakan dirinya sudah menjalani hampir 700 kali prosedur hemodialisis atau cuci darah.
Namun, kondisi terus memburuk. Tenaga semakin terkuras, aktivitas sehari-hari terasa berat, dan tubuh semakin lemah.
Saat diperiksa lebih lanjut di rumah sakit, dokter menemukan tekanan darah Edi sudah menembus angka 200 mmHg. Pemeriksaan lanjutan menunjukkan ginjalnya telah mengalami kerusakan berat dan ia harus segera menjalani cuci darah.
Edi menduga salah satu penyebab utama kondisi yang dialaminya adalah kebiasaan mengonsumsi mi instan hampir setiap hari sejak kecil.
Dalam sekali makan, ia bahkan bisa menghabiskan lebih dari satu bungkus.
Menurutnya, kandungan natrium yang tinggi dalam bumbu mi instan dapat meningkatkan tekanan darah apabila dikonsumsi terlalu sering.
Hipertensi yang tidak terkontrol merupakan salah satu faktor risiko utama penyebab gagal ginjal kronis.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa gagal ginjal biasanya terjadi karena kombinasi berbagai faktor, termasuk pola makan, hipertensi, riwayat kesehatan, dan gaya hidup secara keseluruhan.
Sejak didiagnosis, Edi harus menjalani pola hidup yang jauh lebih ketat.
Ia membatasi konsumsi makanan tinggi kalium, fosfor, natrium, purin, dan kolesterol. Beberapa jenis sayur, buah, susu, kacang-kacangan, daging, hingga makanan kemasan pun harus dihindari.
Selain itu, ia tidak diperbolehkan mengangkat beban berat pada lengan yang digunakan sebagai akses pembuluh darah untuk cuci darah.
Rutinitas tersebut menjadi bagian dari perjuangan panjang untuk mempertahankan kualitas hidup.
Lewat media sosial, Edi aktif berbagi pengalaman dan edukasi seputar penyakit ginjal kronis.
Ia berharap kisahnya bisa menjadi pelajaran bagi banyak orang, terutama generasi muda, agar lebih memperhatikan pola makan dan memeriksa kesehatan secara berkala.
Gejala seperti cepat lelah, mual berkepanjangan, tekanan darah tinggi, dan tubuh terasa lemah sebaiknya tidak diabaikan.
Deteksi dini dapat membantu mencegah kerusakan ginjal yang lebih parah.
Pada akhirnya, kisah Edi menjadi pengingat bahwa kebiasaan yang tampak sepele, jika dilakukan terus-menerus tanpa kontrol, bisa meninggalkan konsekuensi besar bagi kesehatan.
Kisah Edi Utomo memantik simpati sekaligus perdebatan di media sosial. Banyak warganet mengaku tersentak karena penyakit gagal ginjal bisa menyerang seseorang di usia yang sangat muda.
Sebagian netizen mengaku langsung teringat pada kebiasaan mereka sendiri yang kerap menjadikan mi instan sebagai menu andalan saat sibuk atau saat akhir bulan.
“Baca ini langsung lihat stok mi di dapur. Jadi ngeri sendiri,” tulis seorang netizen.
“Usia 20-an sudah cuci darah, ini benar-benar pengingat buat kita semua,” komentar lainnya.
Ada pula yang menilai bahwa mi instan bukan satu-satunya penyebab, melainkan pola hidup secara keseluruhan yang turut berperan.
“Bukan berarti makan mi instan sekali dua kali langsung gagal ginjal. Yang bahaya kalau terlalu sering, ditambah kurang minum dan tekanan darah tidak terkontrol,” ujar seorang pengguna media sosial.
Sejumlah warganet juga membagikan pengalaman pribadi maupun cerita keluarga yang harus menjalani hemodialisis akibat hipertensi dan diabetes.
“Om saya juga begitu. Awalnya sering pusing dan lemas, ternyata fungsi ginjalnya sudah turun drastis,” tulis netizen lain.
Di tengah berbagai komentar, banyak yang mengapresiasi langkah Edi yang terbuka membagikan pengalamannya.
“Salut, mau berbagi cerita supaya orang lain lebih peduli dengan kesehatan,” tulis seorang pengguna.
Respons netizen itu menunjukkan bahwa kisah Edi bukan sekadar cerita viral, tetapi juga menjadi alarm bagi banyak orang untuk mulai memperhatikan pola makan, konsumsi garam, dan kebiasaan hidup sehari-hari.(lin)
Deskripsi:
Usianya baru 26 tahun, tetapi pria asal Tuban ini sudah menjalani hampir 700 kali cuci darah akibat gagal ginjal kronis. Ia menduga kebiasaan mengonsumsi mi instan sejak kecil menjadi salah satu pemicu. Kisahnya viral dan menjadi pengingat bahwa pola makan serta tekanan darah harus dijaga sejak usia muda.