Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Mengenal Onychophagia, Kebiasaan Menggigit Kuku yang Dimulai Sejak Anak-Anak hingga Dewasa

Redaksi • Jumat, 3 Juli 2026 | 22:00 WIB
ilustrasi, doyan menggigit kuku atau onychophagia adalah tanda dari orang yang mengalami gangguan psikologis. (pexels.com)
ilustrasi, doyan menggigit kuku atau onychophagia adalah tanda dari orang yang mengalami gangguan psikologis. (pexels.com)

 sumutpos.jawapos.com - Pernah melihat orang yang doyan menggigit kuku? Kesannya tentu jorok, tapi hal itu memang sulit terhindar karena dia adalah onychophagia.

Melansir Psychology Today, Kamis (2/7/2026) dalam istilah medis, kebiasaan menggigiti kuku disebut sebagai onychophagia, yang dikategorikan sebagai perilaku berulang pada tubuh atau body-focused repetitive behavior (BFRB).

Dan, onychophagia atau perilaku menggigit kuku ini bisa jadi serius dan mengarah pada gangguan psikologis tertentu, terutama jika sangat sering dan sulit dihentikan.

Baca Juga: Studi SSI Ungkap Citra Prabowo di Ruang Digital, Komunikasi Pemerintahan Masih Terpusat pada Figur Presiden

Kebiasaan menggigit kuku biasanya dimulai sejak usia anak-anak dan meningkat intensitasnya selama masa remaja, serta berlanjut hingga dewasa.

Berikut kondisi yang dapat mendasari perilaku menggigit kuku atau onychophagia:

1. Stres
Stres menjadi alasan orang menggigit kukunya. Bagi sebagian orang, perilaku ini dapat memberikan rasa tenang dan lega secara sementara. 

Baca Juga: Jumat Berkah, KPU Labuhanbatu Santuni Belasan Anak Yatim Piatu

Menggigit kuku kemudian kemudian menjadi mekanisme coping untuk meredakan stres.

2. Gangguan kecemasan
Menggigit kuku juga terjadi ketika seseorang memiliki gangguan kecemasan. 

Sama dengan stres, saat seseorang merasa gelisah dan cemas, tubuh akan mencari cara untuk menenangkan diri.

Namun pada orang dengan gangguan kecemasan, kebiasaan menggigit kuku biasanya lebih sulit dihentikan. 

Baca Juga: Tarif Listrik Triwulan III 2026 Tak Naik, PLN Komitmen Tingkatkan Kualitas Layanan

Jika sudah demikian, kebiasaan menggigit kuku menjadi sinyal bahwa gangguan kecemasan atau psikologis lainnya tidak mendapatkan penanganan dengan baik.

3. Bosan
Menggigit kuku juga bisa muncul saat seseorang merasa bosan atau sedang tidak banyak melakukan aktivitas. 

Kebiasaan ini kemudian muncul sebagai cara otak untuk mencari rangsangan.

Secara psikologis, orang yang terbiasa melakukan ini tangan dan mulutnya akan bergerak tanpa sadar untuk membuat otaknya kembali merasa "sibuk".

4. Kecenderungan perfeksionisme
Berapa studi menyebutkan bahwa kebiasaan menggigit kuku juga kerap dikaitkan dengan perfeksionisme.

Baca Juga: Ahli Waris TD Pardede Beri Jawaban Terkait Tuntutan Kampus ISTP Kembali Dibuka

Orang dengan kecenderungan ini memiliki dorongan untuk 'merapikan' kuku yang dirasa tidak rata, kasar, atau mengganggu. 

Namun tanpa disadari, ini menjadi kebiasaan yang dilakukan berulang.(lin)

 

Editor : Redaksi
#Onychophagia #Kebiasaan Menggigit Kuku #BFRB #psikologi #Kesehatan Mental