Mengenal Brain Rot, Efek Kebiasaan Scrolling Ponsel yang Bikin Otak Kewalahan

Redaksi • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 20:30 WIB
Ilustrasi, kebiasaan scrolling ponsel tanpa henti bisa memicu brain rot. (pexels.com)
Ilustrasi, kebiasaan scrolling ponsel tanpa henti bisa memicu brain rot. (pexels.com)

 

sumutpos.jawapos.com - Brain rot atau kadang diartikan sebagai pembusukan otak belakangan semakin sering dibincangkan, ini terkait dengan paparan konten digital.

Sederhananya, brain rot itu muncul karena kebiasaan scrolling ponsel atau gawai lainnya tanpa henti, menonton video pendek berjam-jam, hingga terus-menerus mengecek notifikasi.

Melansir Inspira Health, Minggu (18/7/2026), meski brain rot bukan diagnosis medis resmi, istilah ini dinilai relevan untuk menggambarkan kelelahan mental akibat konsumsi digital yang berlebihan.

Dengan kata lain, brain rot merujuk pada dampak negatif akibat paparan berlebihan terhadap konten digital yang dangkal, repetitif, dan terlalu merangsang. 

Baca Juga: PT DPM Tingkatkan Kapasitas UMKM Melalui Studi Banding ke PRSU 2026

Seperti diketahui platform digital memang dirancang agar pengguna terus terlibat. 

Setiap notifikasi, like, atau video lucu memicu lonjakan kecil dopamin, zat kimia di otak yang berperan dalam rasa senang dan motivasi.

Jika terjadi terus-menerus, otak bisa terbiasa dengan rangsangan instan dan kesulitan fokus pada aktivitas yang lebih panjang serta mendalam.

Dan, paparan konten digital berlebihan tidak hanya menimbulkan lelah sesaat. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berdampak pada menurunnya rentang perhatian dan mudah terdistraksi.

Baca Juga: Marc Cucurella Siap Tinggalkan Timnas Jika Spanyol Taklukkan Argentina di Final Piala Dunia 2026

Juga menyebabkan sulit menyimpan dan mengingat informasi, meningkatnya rasa cemas akibat doomscrolling, serta gangguan tidur.

Begitupun brain rot bukan berarti Anda harus sepenuhnya menghindari teknologi. Gawai tetap menjadi alat penting dalam pekerjaan dan komunikasi sehari-hari.

Namun, pola penggunaan yang tidak terkontrol bisa berdampak pada kesehatan mental dan kognitif. 

Mengatur ulang kebiasaan digital bisa menjadi langkah sederhana untuk menjaga kejernihan pikiran di tengah derasnya arus informasi.

Baca Juga: Matangkan Pesta Luhutan Bolon 2026, Panitia Gandeng PPRS Siantar Perkuat Konsolidasi Pomparan Raja Silahisabungan

Nah, berikut beberapa langkah sederhana untuk menjaga kesehatan otak di tengah paparan digital:

1. Mulai dari jeda kecil
Sisihkan waktu 30-60 menit tanpa ponsel, terutama pada pagi hari. 

Gunakan waktu ini untuk sarapan dengan tenang, berolahraga ringan, atau sekadar menikmati suasana tanpa notifikasi.

2. Terapkan batas waktu layar
Manfaatkan fitur pengingat waktu layar di ponsel untuk membatasi penggunaan media sosial atau aplikasi hiburan.

Baca Juga: Masih Terbaring di Atas Matras Rumah Sakit, Dua Anak Korban Tabrakan Sibolangit Pulang untuk Mengantar Orang Tua ke Peristirahatan Terakhir

3. Kurasi konten yang dikonsumsi
Pilih akun atau platform yang memberi nilai edukatif dan inspiratif. Hindari konten negatif atau sensasional yang memicu kecemasan.

4. Terapkan aturan 20-20-20
Setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan selama 20 detik ke objek sejauh 20 kaki (sekitar 6 meter). Cara ini membantu mengurangi kelelahan mata sekaligus memberi jeda bagi otak.

5. Perbanyak aktivitas offline
Luangkan waktu untuk membaca buku fisik, berolahraga, berkebun, atau bertemu langsung dengan keluarga dan teman. 

Interaksi tatap muka terbukti meningkatkan empati dan kualitas hubungan.(lin)

Editor : Redaksi
Digital Wellbeing Brain Rot Detoks Digital Scrolling Berlebihan kesehatan otak