sumutpos.jawapos.com - Demam tifoid atau yang lebih dikenal sebagai tipes masih menjadi salah satu penyakit infeksi yang perlu diwaspadai di Indonesia. Meski sering dianggap sebagai penyakit ringan akibat kelelahan, angka kasusnya menunjukkan bahwa tipes masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang serius.
Melansir Instagram @pandemictalks, Rabu (22/7/2026), sepanjang 2025, tercatat sebanyak 914.132 kasus suspek demam tipes di Indonesia. Jumlah tersebut menempatkan tipes dalam jajaran lima besar penyakit terbanyak, bahkan melampaui beberapa penyakit infeksi lain seperti pneumonia.
Memasuki 2026, tren kasus tipes juga belum menunjukkan penurunan signifikan. Hingga minggu ke-16 tahun 2026, tercatat sebanyak 266.869 kasus suspek demam tifoid di berbagai wilayah Indonesia.
Baca Juga: Kesal Jalan Rusak 25 Tahun Tak Diperbaiki, Warga Pati Ubah Lubang Jalan Jadi Kolam Lele
Tingginya angka tersebut menunjukkan bahwa tipes bukan penyakit musiman yang hanya muncul sesekali. Penyakit ini dapat menyerang sepanjang tahun, terutama ketika faktor kebersihan makanan, minuman, dan lingkungan tidak terjaga.
Salah satu alasan tipes kerap terlambat ditangani adalah karena gejala awalnya sering dianggap sebagai kondisi biasa. Banyak orang mengira demam yang muncul setelah aktivitas padat hanyalah akibat kelelahan.
Padahal, penyebab utama tipes adalah infeksi bakteri Salmonella Typhi yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau minuman yang telah terkontaminasi. Bakteri tersebut dapat berkembang sebelum tubuh mulai menunjukkan tanda-tanda penyakit.
Baca Juga: Dipimpin Putra Daerah, RSUD Djoelham Siap Buka Layanan Pasang Ring Jantung
Gejala tipes biasanya muncul secara bertahap. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain demam yang berlangsung selama beberapa hari dan tidak kunjung membaik, sakit kepala, tubuh terasa lemas, mual, nyeri perut, hingga menurunnya nafsu makan.
Jika keluhan tersebut muncul, terutama setelah bepergian atau mengonsumsi makanan dan minuman yang kebersihannya diragukan, masyarakat disarankan tidak mengabaikannya.
Kebiasaan menganggap tipes sebagai penyakit “biasa” dapat membuat seseorang terlambat mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat. Padahal, infeksi yang tidak ditangani dengan baik berisiko menyebabkan komplikasi kesehatan.
Baca Juga: Polres Langkat Musnahkan Dua Lokasi Diduga Barak Narkoba di Tanjungpura
Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan diperlukan untuk memastikan diagnosis dan menentukan langkah pengobatan yang sesuai. Tidak semua demam merupakan tanda kelelahan, sehingga penting mengenali perubahan kondisi tubuh.
Selain pengobatan, upaya pencegahan menjadi langkah penting untuk menekan angka kasus tipes. Masyarakat dapat memulai dari kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan dengan benar, menjaga kebersihan makanan, memastikan air minum aman dikonsumsi, serta memilih tempat makan yang menerapkan standar kebersihan.
Perlindungan tambahan juga dapat dilakukan melalui imunisasi tifoid sesuai rekomendasi tenaga kesehatan, terutama bagi kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi.
Pada akhirnya, tipes bukan sekadar demam biasa yang bisa diabaikan. Mengenali gejala sejak dini dan menerapkan pola hidup bersih menjadi kunci agar penyakit akibat bakteri Salmonella Typhi ini tidak semakin meluas.(lin)
Editor : Redaksi