Jangan Terburu-buru Beli HP Lipat! Ini 5 Kekurangan yang Wajib Diketahui

Johan Panjaitan • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 08:05 WIB
Harga HP Lipat Tembus Rp30 Juta, Tapi 5 Masalah Ini Masih Menghantui. (ilustrasi/Freepik)
Harga HP Lipat Tembus Rp30 Juta, Tapi 5 Masalah Ini Masih Menghantui. (ilustrasi/Freepik)

 
Sumutpos.jawapos.com– Ponsel layar lipat semakin mencuri perhatian. Desainnya yang berbeda dari smartphone konvensional menawarkan pengalaman baru, terutama bagi pengguna yang menginginkan layar besar dalam bodi yang tetap bisa dilipat.

Namun, di balik daya tarik tersebut, ponsel lipat masih menyimpan sejumlah kompromi. Harganya yang bisa menembus USD2.000 atau lebih membuat perangkat ini dituntut menawarkan ketahanan dan kemampuan yang sepadan.

Tidak mengherankan jika ponsel lipat hingga kini baru menguasai sekitar 2 persen pasar smartphone global. Meski demikian, minat konsumen terus tumbuh. Sejumlah riset bahkan menunjukkan sekitar 59 persen pengguna ponsel konvensional tertarik mencoba perangkat dengan layar fleksibel.

Baca Juga: Hasil Investigasi Kasus Winda Lorenza, LBH Medan Temukan Posisi Senpi Berubah

Dilansir dari rbc. ukraine, apa saja yang perlu dipertimbangkan sebelum membeli ponsel lipat?

Layar Besar dalam Bodi yang Lebih Ringkas

Daya tarik utama smartphone lipat terletak pada kemampuannya menggabungkan portabilitas dengan ruang layar yang luas.

Saat dibuka, beberapa model menawarkan layar hingga sekitar 8 inci. Ukuran tersebut membuat smartphone dapat berfungsi layaknya tablet mini, sehingga lebih nyaman digunakan untuk membaca, menonton video, mengedit dokumen hingga mengerjakan berbagai aktivitas kreatif.

Sistem operasi dan aplikasi modern juga semakin mampu memanfaatkan format layar fleksibel. Pengguna dapat membuka beberapa jendela sekaligus sehingga aktivitas multitasking terasa lebih leluasa.

Selain itu, mekanisme lipat memberikan fleksibilitas dalam penggunaan. Perangkat bisa diletakkan dalam posisi setengah terlipat untuk melakukan video call atau mengambil foto tanpa tripod.

Baca Juga: Usai Menikah, Abe dan Bella akan Lanjut Studi S2

Dari sisi pengalaman, ponsel lipat juga menawarkan sesuatu yang tidak diberikan smartphone biasa. Sensasi membuka layar, bentuk yang futuristis, hingga mekanisme engsel menjadi bagian dari daya tarik tersendiri.

Tetapi Ada Harga yang Harus Dibayar

Di balik teknologi layar fleksibel, terdapat sejumlah keterbatasan yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi produsen.

Salah satunya adalah ketahanan layar. Lapisan pada layar fleksibel lebih rentan terhadap goresan dibandingkan layar smartphone konvensional. Bekas lipatan atau crease juga masih menjadi ciri yang sulit sepenuhnya dihilangkan.

Bagian engsel pun menjadi perhatian. Mekanisme yang kompleks membuat perangkat lebih sensitif terhadap debu dan kotoran. Karena itu, perlindungan terhadap air dan debu menjadi faktor penting pada smartphone jenis ini.

Persoalan lain adalah bobot dan ketebalan. Sebagian besar ponsel lipat populer masih memiliki bobot lebih dari 200 gram. Ketika dilipat, bodinya juga cenderung lebih tebal karena harus menampung dua bagian layar sekaligus serta baterai berkapasitas besar.

Kamera Sering Menjadi Bagian yang Dikompromikan

Ketika produsen berusaha membuat bodi ponsel lipat tetap tipis dan ringan, komponen kamera juga bisa terkena dampaknya.

Pada sejumlah model, kemampuan kamera belum tentu menyamai smartphone flagship konvensional dengan harga yang sama. Ruang internal yang terbatas membuat produsen harus menentukan prioritas antara desain tipis, baterai, sistem engsel, dan kemampuan fotografi.

Bagi pengguna yang menjadikan kamera sebagai pertimbangan utama, hal ini patut diperhatikan sebelum mengeluarkan uang dalam jumlah besar.

Biaya Perbaikan Bisa Menjadi Masalah

Kerumitan konstruksi menjadi salah satu kelemahan terbesar smartphone lipat.

Perangkat ini tidak hanya memiliki layar fleksibel, tetapi juga sistem engsel dan berbagai komponen yang harus bekerja secara presisi. Ketika terjadi kerusakan, proses perbaikannya pun bisa jauh lebih rumit dibandingkan smartphone biasa.

Biaya penggantian layar atau komponen tertentu juga berpotensi tinggi. Sejumlah perangkat bahkan dinilai sulit diperbaiki karena desain internalnya yang kompleks.

Dengan harga perangkat yang sudah tinggi sejak awal, risiko biaya perbaikan tersebut menjadi faktor yang tidak boleh diabaikan.

Tidak Semua Aplikasi Sempurna di Layar Lipat

Perkembangan perangkat lunak memang semakin mendukung smartphone lipat. Namun, belum semua aplikasi mampu beradaptasi secara sempurna dengan perubahan ukuran dan rasio layar.

Dalam kondisi tertentu, aplikasi dapat mengalami masalah tampilan ketika pengguna berpindah dari layar luar ke layar utama atau sebaliknya. Pengalaman multitasking pun sangat bergantung pada optimalisasi sistem operasi dan aplikasi yang digunakan.

Baca Juga: Timnas Voli Putra Wajib Menang Lawan Iran

Artinya, keunggulan layar besar belum selalu otomatis menghasilkan pengalaman yang lebih baik untuk setiap aplikasi.

Siapa yang Cocok Menggunakannya?

Smartphone lipat pada dasarnya bukan perangkat yang cocok untuk semua orang. Pilihan tersebut sangat bergantung pada kebutuhan masing-masing pengguna.

Bagi mereka yang membutuhkan layar besar untuk membaca, bekerja, menonton video, hingga multitasking, smartphone lipat menawarkan format yang sulit ditandingi ponsel konvensional.

Namun, jika prioritasnya adalah ketahanan maksimal, kamera terbaik, bodi lebih ringan, biaya perbaikan yang lebih terjangkau, dan harga yang lebih rendah, smartphone dengan desain konvensional masih menawarkan pertimbangan yang lebih sederhana.(net/han)

Editor : Johan Panjaitan
wajib diketahui kekurangan smartphone hp