Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Wabah Muntaber Meluas ke Tiga Desa di Pantai Labu

Admin-1 Sumut Pos • Kamis, 19 Maret 2015 | 13:46 WIB
Foto: Hulman/PM Atas-Bawah: Lia boru Manurung dan Horas Manalu menjalani perawatan karena terkena muntaber, Rabu (18/3/2015).
Foto: Hulman/PM Atas-Bawah: Lia boru Manurung dan Horas Manalu menjalani perawatan karena terkena muntaber, Rabu (18/3/2015).
 

Photo
Photo
Foto: Hulman/PM
Atas-Bawah: Lia boru Manurung dan Horas Manalu menjalani perawatan karena terkena muntaber, Rabu (18/3/2015).

PANTAI LABU, SUMUTPOS.CO - Muntaber (muntah berak) yang menyerang 4 dusun di Desa Durian, Kec. Pantai Labu, Deliserdang, menyebar ke 2 desa lain. Jumlah korban yang opname juga bertambah. Bakso bakar, saos dan air minum yang dikonsumsi warga, diteliti.


Kedua desa lain yang terserang muntaber yakni Desa Kubah Sentang, Kec. Pantai Labu dan Desa Sidourip, Kec. Beringin. Korban yang dirawat hingga Rabu (18/3) sore sudah mencapai 40 orang.


Korban terbaru yakni Lia br Manurung (14) pelajar Kelas II SMPN 2 Pantai Labu. Anak Kadus VII Barisan Porsea Desa Durian itu, sudah lebih lima kali mengalami muntaber mulai pukul 03.00 WIB. Dia akhirnya dirawat di klinik praktek bidan Sabrina br Tarigan, yang menjadi salah satu lokasi posko penanggulangan muntaber.


Kemudian, Horas Manalu (14) pelajar kelas II SMP warga Dusun IV Desa Durian, yang dirawat di RS Patar Asih. Horas pun sempat mendapat pertolongan pertama di klinik praktek bidan Sabrina sekira pukul 05.00 WIB. Karena masih dua kali mencret, sulung dari enam bersaudara ini awalnya hanya diberikan obat. Namun Horas dirujuk ke RS Patar Asih sekira pukul 08.30, setelah berulang kali buang air dan membuat kondisinya lemah.


Lalu Wahyudi (18) warga Dusun I Desa Durian. Dia masih dirawat di ruang ICU RSU Sari Mutiara Lubuk Pakam. Kamsiah br Situmorang (28) dan Romantika br Sinaga (15), keduanya warga Dusun VIII Huta Bagasan Desa Durian, dirawat di praktek Sabrina. Sedangkan Hendriwan Samosir (18), Tuti Simarmata (17), Renta Sinaga ketiganya warga Dusun VIII Huta Bagasan Desa Durian, Saring (50) warga Desa Sidourip, dirawat di praktek bidan Mes di Sidourip.


Dumaria br Situmorang (61) warga Dusun IV Desa Durian dirawat di praketk bidan Sabrina boru Tarigan. Selanjutnya Febriyanu (1) warga Dusun II Desa Kubah Sentang, berikut empat warga asal Dusun II Desa Durian mendapat perawatan di Puskesmas Pantai Labu.




Terpisah, setelah menegaskan kasus muntaber di Deliserdang termasuk Kasus Luar Biasa (KLB), Dinkes Sumut mengirimkan tim gerak cepat ke Pantai Labu, Rabu (18/3). Ditegaskan Sekretaris Dinkes Sumut, Afwan Lubis, pihaknya sudah menerima laporan dari Dinkes Deliserdang.


"Kami sudah kirimkan tim investigasi ke daerah tersebut, untuk mengetahui penyebab meninggalnya satu orang dan dirawatnya puluhan orang di Deliserdang. Ada 3 orang yang kita turunkan ke sana, karena sifat kita hanya membantu," jelasnya.


Menurutnya, Dinkes Sumut belum mengirimkan obat-obatan ke Deliserdang karena pihak Pemkab Deliserdang belum ada meminta obat. "Kalau masalah obat-obatan akan kita kirimkan jika terjadi kekurangan di kabupaten atau kota. Obat-obatan mereka mungkin masih cukup, sehingga belum meminta kepada kami," ujarnya.


Afwan menjelaskan, munmen atau muntaber merupakan gangguan pencernaan yang menyebabkan seseorang muntah dan buang air besar secara bersamaan atau terpisah. "Jika tidak segera diatasi maka terjadi dehidrasi, sehingga bisa membahayakan penderitanya," jelasnya.


Bisa disebabkan oleh kuman, bakteri, atau virus. "Bisa disebabkan oleh kuman, bakteri, atau virus. Tetapi yang paling sering adalah bakteri Escherichia Coli (E. Coli) yang menyerang usus," jelasnya kembali.


Afwan mengatakan, biasanya muntaber terjadi karena seseorang mengonsumsi makanan yang sudah tercemar dengan bakteri E.coli dan saat itu daya tahan tubuhnya sedang turun. "Saya berharap masyarakat harus berprilaku hidup bersih dan sehat. Cuci tangan pakai sabun sebelum dan sesudah melakukan aktivitas, hati-hati dalam memilih makanan, jangan mengonsumsi makanan dari wadah yang terbuka," harapnya.




BAKSO, SAOS DICEK KE LAB

Terkait kasus muntaber ini, Kasi Kesehatan Lingkungan Dinkes Deliserdang, CD Sembiring SKM, saat dikonfirmasi di posko penanggulangan muntaber menyebutkan, hingga kini penyebabnya masih diteliti. “Masih menunggu hasil penelitian laboratorium kesehatan terkait sampel yang dikirim. Yaitu bakso tusuk, saos dan air pengisian ulang yang dikonsumsi warga,” jelasnya.


“Kita belum bisa bicara banyak kalau hasil laboratorium belum ada. Sambil menunggu hasilnya, kita melakukan penyuluhan kepada masyarakat agar dibiasakan hidup pola sehat. Selain itu kita juga mendirikan posko penanggulangan di tiga lokasi yakni di Dusun VII, VIII dan Kantor Kepala Desa Durian serta Puskesmas Pantai Labu. Saat ini kita telah membagikan kaporit untuk dimasukkan ke dalam sumur. Hasil laboratorium bias diketahui sekira sepekan lagi,” sebutnya

Sementara Kades Durian, Hulman Manurung menyebutkan, diperkirakan 40 warga terjangkit penyakit muntaber dan dirawat. Sejumlah korban juga mengaku jika tempat tinggal mereka tidak pernah terlihat lalat warna hijau yang merupakan salah satu penyebar penyakit muntaber.


“Air isi ulang saja tetap kami rebus hingga mendidih untuk diminum. Kalau soal air sumur tak pernah digunakan untuk dijadikan air minum. Dari dulu cuma kaporit ajanya yang diberikan kepada kami,” sebut Br Sinaga.(man/mag3/trg) Editor : Admin-1 Sumut Pos
#sumut #wabah muntaber #muntaber di pantai labu