SUMUTPOS.CO - Designer Asal Kota Mataram, membuat satu karya unik dan menarik yakni gaun terbuat dari bahan koran. Gaun ini merupakan karya keduanya setelah dulu pernah membuat baju kemeja berbahan koran juga.
ASAL merancang satu gaun yang menawan. Terbuat dari bahan koran. Pada Lombok Post (Grup Sumut Pos), designer kenamaan dari Kota Mataram ini mengungkapkan ihwal ia ingin membuat sebuah gaun mewah dari bahan koran bekas.
“Jadi saat itu, memang kebetulan lagi sepi job. Bosan diam saja. Saya kemudian tergerak ingin membuat gaun dari bahan yang tak biasa,” tuturnya.
Beragam saran diberikan rekan-rekannya. Mulai dari membuat gaun berbahan daun, plastik, dan barang-barang yang dapat didaur ulangn
“Tapi saya sudah biasa membuat gaun dari bahan-bahan itu. Saya butuh bahan yang eksklusif tetapi punya kenangan yang kuat,” tuturnya.
Beberapa rekan berpikirnya mengatakan, bila bahan eksklusif harganya lebih mahal. Misalnya gaun dari bahan bulu binatang. Setelah berpikir cukup lama, Asal memutuskan membuat gaun dari bahan koran. “Membuat gaun dari koran selain mendaur ulang bahan yang sudah tak terpakai, juga sarana edukasi untuk generasi muda, koran adalah salah satu sumber informasi,” katanya mengulangi ucapannya kala itu.
Mulailah ia dan rekan-rekannya mengumpulkan koran-koran bekas. Untungnya bahan itu bisa segera diperoleh dari sejumlah kelurahan yang biasa berlangganan koran.
“Dibantu pak Camat Ampenan (Muzakkir Walad, Red), beliau memang camat yang luar biasa. Mendukung karya-karya kami. Pak camat juga yang mengumpulkan koran-koran di berbagai kelurahan dan membawakannya ke mari. Saya berterima kasih sekali pada beliau,” ungkapnya.
Asal mengungkapkan sebanyak lima dus koran bekas terkumpul. Selanjutnya koran-koran itu mulai dipotong-potong dan disusun satu persatu menjadi bagian dari gaun yang telah di sketsa. “Kami bersepuluh mengerjakannya,” tuturnya.
Pemilik Asal Gallery di Jalan TGH Abdul Hanan, Kebon Bawak Nurul Yakin, Pejeruk, Ampenan ini semakin termotivasi menyelesaikan gaun itu setelah mendapat dukungan dari banyak sahabat-sahabatnya. “Selama dua hari kami mengerjakannya. Tidak boleh berhenti. Berhenti hanya saat salat, kemudian lanjut lagi,” tuturnya.
Asal menjelaskan alasan pengerjaan gaun tidak boleh berhenti. Menurutnya, sekali saja mereka istirahat dan bersantai-santai maka gaun itu alamat tidak selesai. “Ada jerih payah pak camat yang sudah membantu mencarikan bahan yang tidak boleh kami sia-siakan,” tekannya.
Tepat di hari kedua sejak mulai pengerjaan, gaun itu pun tuntas. Asal mengaku puas dan bangga dengan hasil akhirnya. “Dulu saya pernah membuat kemeja dari bahan koran juga, tapi bentuknya masih sangat sederhana, nah yang gaun ini sangat puas hasilnya,” ungkapnya.
Di galeri miliknya sejumlah fotografer sering berkumpul. Setiap karya yang dihasilkannya akan langsung diabadikan dalam jepretan cahaya foto. Selain fotografer, Asal juga punya banyak sahabat berprofesi sebagai model. “Jadi kami sering berkumpul di sini, saya mendesain baju, ada model yang memperagakan penggunaannya, dan ada teman-teman fotografer yang mengabadikan hasilnya dalam bentuk foto yang keren-keren,” tuturnya.
Asal mengatakan, respons dari para pencinta fashion juga luar biasa. Gaun koran itu telah disewa beberapa kali saat ada lomba fashion atau acara di berbagai tempat.
“Gaun ini saya buat permanen, biaya sewanya juga lumayan. Kalau gaun biasa, sewanya Rp350 ribu sampai Rp500 ribu, tapi gaun koran ini disewa Rp1.250.000, alhamdulillah. Gaun ini pernah disewa saat acara di Unram dan Poltekpar,” terangnya.
Asal mengatakan, gaun ini cukup berat. Ia memperkirakan mencapai 10 kilogram. “Kalau bajunya tidak terlalu berat. Yang berat itu bawahannya,” pungkasnya. (*/r3)
Editor : Redaksi