Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Penyerangan KKB di Papua, 46 Guru dan Nakes Dievakuasi

Johan Panjaitan • Senin, 24 Maret 2025 | 07:00 WIB
DIEVAKUASI: Salah satu korban berhasil dievakuasi. FOTO: CENDERAWASI/SUMUT POS
DIEVAKUASI: Salah satu korban berhasil dievakuasi. FOTO: CENDERAWASI/SUMUT POS

JAYAPURA, SUMUTPOS.CO-Aksi penyerangan dan tindak kekerasan Kelompok Kriminal Besenjata (KKB) atau Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) di Distrik Anggruk, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua Pegunungan, mengakibatkan 6 orang luka-luka dan 1 orang meninggal dunia karena luka tikaman.

Sehari pasca aksi penyerangan brutal tersebut, sebanyak 46 guru dan nakes dievakuasi dari lokasi aksi penyerangan. situasi ini terjadi dikarenakan penyerangan KKB tersebut diketahui tenaga medis dan guru-guru di distrik lain, sehingga semua memilih mengungsi ke tempat yang lebih aman. Ada yang lari dan berkumpul ke rumah klasis.

Proses evakuasi dihari kejadian sempat tekendala cuaca, sehingga baru bisa dituntaskan pada Minggu (23/3).a Laporan yang diterima Cenderawasih Pos (grup Sumut Pos) total ada 46 guru dan tenaga kesehatan (Nakes) yang dievakuasi. Dan yang terakhir pada Minggu (23/3), da 9 nakes dan guru yang tiba di Jayapura.

“Jumat yang lalu kami mendengar ada penyerangan di Puskesmas Anggruk dan sekolah di Anggruk. Sabtu kemarin cuaca tidak bersahabat, akhirnya kami baru bisa masuk hari Minggu dan kami masuk gunakan lima pesawat. Informasi terakhir adalah satu orang meninggal dunia, dan 3 luka ringan dan bukan 6 orang yang meninggal tapi 1 orang,”ujar Bupati Yahukimo, Didimus Yahuli.

Dikatakannya, karena fasilitas kesehatan sangat terbatas maka semua dibawa ke Jayapura.

“Kami ikut berdukacita atas insiden ini. Ini kejadian luar biasa sejak injil masuk 64 tahun yang lalu kejadian ini tidak pernah terjadi. Dulu kami masuk ke Anggruk bisa istirahat, dan melakukan kegiatan seperti biasa karena itu saya katakan ini luar biasa,” tambahnya.

Dikatakannya, pemerintah kaget dan syok kenapa aksi penyerangan terjadi. Di sini ia juga meluruskan soal isu bahwa nakes ataupun guru yang berada Distrik Anggruk berasal dari intelejen.

“Soal rekrutmen guru ini perlu diluruskan, mereka (guru dan nakes) bukan rekrutmen baru, tapi ini nakes atau guru yang sudah lama. Kami rekrut terbuka dan wajib beragama Kristen serta wajib terima Yesus, sudah dibaptis dan menjadi guru atau tenaga medis missionaris. Dan untuk memenuhi ini kami verifikasi selama 30 hari sampai orangtuanya semua kami tanyakan. Hingga betul-betul diperoleh mereka yang mau mengabdi,”beber Didimus.

“Kami bantah nakes atau guru dari TNI Polri sebab proses rekrutmen secara terbuka dan orang tahu. Hingga pendeta mendoakan mereka lalu menandatangani perjanjian kerja sama. Kalau bilang anggota TNI- Polri yang mata-mata, itu bohong. Itu tidak benar. Jika dia anggota silahkan buktikan, dari satuan mana, nomor anggotanya,”tandasnya.

Dalam memimpin, lanjutnya, pihaknya memiliki etika dan moral sehingga tidak serta merta memasukkan orang sembarang. “Para medis dan guru ini rekrutan tahun 2021,” sambungnya.

Sementara usai para korban dieakuasi dari Anggruk, Minggu siang akhirnya semua tiba di Sentani. Lapangan terbang Doyo Baru Sentani, nampak dikerumuni keluarga dan anggota Yayasan Serafim, sejak pukul 13.47 WIT para kerabat mula berdatangan.

Sesekali, suara isak tangis pecah dari keheningan, masing-masing keluarga juga saling berkoordinasi via telepon. Setelah penantian kurang lebih 1 jam pesawat akhirnya tiba dimana pesawat pertama mengangkut 8 korban luka-luka parah dan luka ringan. Sementara pesawat lainnya landing dengan membawa 1 korban tewas. Para korban ini dikawal langsung oleh Wakil Bupati Yahukimo, Esau Miram. Wakil Bupati Yahukimo, Esau Miram, menjelaskan, 9 korban sudah berhasil dievakuasi yakni 8 guru dan 1 tenaga medis.

"Dari 9 orang tersebut, 1 korban meninggal dunia (MD), 3 orang lainnya luka parah dan sisa lainnya luka-luka ringan, ini langsung dilarikan ke rumah sakit," katanya.

Para korban lainnya nampak masih diselimuti dengan trauma dan memilih diam. Beberpa nama korban yang diketahui yakni Rosalina sogen (meninggal dunia), Fidelis De Lena (31) mengalami luka terbuka di kaki dan tangan kanan kiri, luka sobek di telinga kiri, luka terbuka di betis kiri, Cosmas Paga (29) mengalami luka tusuk di punggung belakang, Irmawati Nenowahan (26) mengalami luka robek di bahu kiri dan trauma tumpul di dada atas, Fantiana Kambu (32) mengalami luka terbuka di jari manis tangan kanan dan dicurigai patah, Paskalia Liman (29) mengalami luka terbuka di kepala ada 2 luka tusuk di lengan kanan dan Donesia Tari More (28) mengalami luka terbuka di dahi kiri, luka terbuka di jari manis dan kelingking tangan kanan dan dicuriga putus tendon.

Kasatgas Operasi Damai Cartenz, Brigjend Faisal Ramadhani mengungkapkan yang dilakukan KKB adalah tindakan biadab dan sangat keji. Para guru dan tenaga medis itu bukan militer, mereka adalah pendidik yang mengabdikan diri untuk anak-anak Papua,” tegas Kepala Operasi Damai Cartenz 2025, Brigjen Pol. Faizal Ramadhani.

Faizal menegaskan bahwa kekejaman yang dilakukan KKB merupakan upaya menciptakan ketakutan dan menghambat pembangunan, terutama di sektor pendidikan. "Tindakan kekerasan ini tidak akan menyurutkan komitmen negara dalam memberikan pelayanan pendidikan dan kesehatan kepada masyarakat Papua, justru menjadi bukti bahwa kekejaman yang dilakukan KKB semakin nyata," ujarnya.

Ia menyampaikan seluruh korban, baik yang meninggal dunia maupun yang mengalami luka-luka, telah dievakuasi ke Jayapura dan dirujuk ke Rumah Sakit Angkatan Darat (RSAD) Marthen Indey Kota Jayapura. "Sementara itu, dua korban lainnya, Lenike Saban (guru) dan Erens Sama (petani), yang merupakan warga asli Yahukimo, tidak ikut dievakuasi atas permintaan sendiri dan dalam kondisi aman," jelasnya.

Salah satu warga di Yahukimo yang enggan namanya dikorankan, menjelaskan bahwa ada salah satu korban selamat usai diselamatkan oleh Kepala SMP di daerah itu. Ia tak tahu pasti penyebab kejadian itu, namun beberapa hari sebelumnya, diperoleh informasi bahwa KKB atau TPNPB sudah tersebar di distrik – distrik yang ada di Yahukimo.

Ada juga yang menganggap bahwa statemen Panglima TNI, Jenderal TNI Agus Subianto yang menyampaikan kepada wartawan bahwa yang menjadi tenaga guru dan tenaga medis di Papua adalah anggotanya, itulah yang memantik kecurigaan KKB untuk langsung masuk ke kampung dan distrik melakukan penyerangan.

Ketika itu Agus Subianto menjawab pertanyaan wartawan seputar pengesahan UU TNI. Selain itu muncul asumsi lain, bahwa pengesahan UU TNI membuat TPNPB khawatir jika TNI bisa masuk ke Yahukimo sebagai tenaga pengajar, nakes dan pegawai.

“Sehingga TPNPB berfikir semua orang yang saat ini berada di distrik-distrik yang menjadi guru, dokter dan suster dianggap sedang menyamar. Sehingga mereka nekat melakukan tindakan itu,” pungkasnya.

Ditambahkan akademisi Uncen, Marinus Yaung bahwa dirinya sebagai tenaga pengajar ikut berdukacita yang mendalam atas terbunuhnya para sejawat dan rekan kerja guru – guru. “Saya mengutuk perbuatan biadab tersebut, dan saya mau katakan kepada anggota KKB Papua atau OPM bahwa membunuh para guru dan tenaga kesehatan, tidak akan pernah bisa membuat perjuangan Papua Merdeka mendapat dukungan dan simpati masyarakat Indonesia dan komunitas internasional,”ujar
Yaung.

Baca Juga: Polisi Tangkap Pembunuh Kekasih yang Jasadnya Dibuang di Kebun Tebu, Kesal karena Selalu Dituntut Menikahi
Ia juga meminta perwakilan pemerintah pusat di Papua jangan memberikan pernyataan provokatif dan konfrontatif yang akhirnya menimbulkan kegaduhan. “Saya kenal Sebby (Jubir TPNPB) ini cukup lama dan saya tahu karakter dia. Jika diancam mereka akan membalas dengan menyerang kelompok masyarakat sipil yang paling rentan dalam konflik, yakni para tenaga kemanusian seperti guru dan perawat.
“Sebby Sambom dan OPM harus bertanggung jawab atas pembunuhan ini,” imbuhnya.

Sementara Jubir TPNPB, Sebby Sembom menyatakan bahwa pihaknya siap bertanggungjawab atas iniden penyerangan nakes dan tenaga medis tersebut. “Kami mendapat laporan bahwa ada penyerangan guru dan perawat. Kami bertanggungjawab atas itu dan sudah kami ingatkan bahwa semua yang masuk area konflik harus siap menerim sanksinya,” singkat Sebby.

Hanya saja, hingga kini belum ada statmen resmi dari pihak kepolisian maupun TNI terkait penyerangan di Anggruk. (fia/ana/rel/ade/jpg/han)

Editor : Johan Panjaitan
#kkb #nakes #distrik #guru #papua