JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com-Pemerintah Arab Saudi memberikan perhatian serius terhadap tingginya jumlah jemaah haji asal Indonesia yang wafat selama penyelenggaraan haji 2025. Data resmi menyebutkan, lebih dari separuh angka kematian jemaah haji tahun ini berasal dari Indonesia, dan hal ini menjadi sorotan langsung dari otoritas Saudi.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Penyelenggara Haji (BPH), Mochammad Irfan Yusuf, dalam acara Silaturahmi Nasional Forum Komunikasi Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (FK KBIHU) yang berlangsung di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Selasa (20/8).
“Haji tidak boleh menjadi ajang kematian massal,” tegas Irfan saat mengutip pesan dari pemerintah Arab Saudi.
Menurut Irfan, pemerintah Saudi sempat menyampaikan keprihatinan saat awal pelaksanaan haji. Tercatat, sudah ada 28 jemaah haji Indonesia yang wafat bahkan sebelum wukuf. Selain itu, enam jemaah lainnya dilaporkan meninggal di dalam pesawat.
“Saudi mempertanyakan, bagaimana standar istitoah (kemampuan) kesehatan jemaah haji Indonesia? Kita tidak bisa menjawab itu dengan alasan bahwa ada jemaah yang memang ingin wafat di Tanah Suci,” ujar Irfan.
Sehari sebelum puncak haji, Irfan dan Menteri Agama Nasaruddin Umar bahkan dipanggil secara khusus oleh Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi untuk membahas isu ini.
“Ironisnya, dari ratusan jemaah yang wafat, separuhnya berasal dari Indonesia,” imbuhnya.
Saudi Minta Perketat Aturan Istitoah
Arab Saudi mendesak pemerintah Indonesia untuk meninjau kembali ketentuan istitoah kesehatan — syarat kemampuan fisik dan medis yang menjadi salah satu syarat wajib sebelum melaksanakan ibadah haji.
“Saudi ingin pelaksanaan haji tidak menjadi ladang kematian. Mereka minta agar yang berangkat benar-benar jemaah yang sehat,” tegas Irfan.
Ia juga mengimbau agar KBIHU tidak hanya fokus pada bimbingan ibadah, tetapi juga memberikan pemahaman kepada calon jemaah terkait pentingnya menjaga kesehatan dan kebugaran sebelum berangkat.
“Kalau memang tidak layak terbang karena kondisi kesehatan, tidak perlu kecewa terlalu dalam. Ini demi keselamatan dan kesempurnaan ibadah juga,” katanya.
Ketua Umum FK KBIHU, KH Manarul Hidayat, menyambut baik masukan dari pemerintah dan menyatakan siap berkolaborasi untuk menyukseskan ibadah haji dan umrah di masa depan.
“Kami siap bekerja sama, termasuk dengan badan atau kementerian baru yang nanti berwenang menyelenggarakan haji,” katanya.
Ia juga mendorong para pembimbing KBIHU untuk terus menyampaikan pesan-pesan positif kepada calon jemaah agar tidak takut untuk berhaji.
“Sampaikan dengan baik, jangan sampai masyarakat malah takut berhaji. Sebaliknya, kita harus membuat mereka semakin ingin berhaji,” tuturnya.
Manarul juga menekankan bahwa doa-doa saat haji tidak harus dalam bahasa Arab. Ia menjelaskan bahwa doa dengan bahasa daerah sekalipun akan tetap didengar dan dipahami oleh Allah SWT.
Selain aspek spiritual, kesiapan fisik juga menjadi hal penting yang harus disosialisasikan, seperti mendorong jemaah untuk mulai rutin berjalan kaki sebelum berangkat ke Tanah Suci.
“Karena ibadah haji itu sebagian besar adalah aktivitas fisik. Jadi, persiapkan juga tubuhnya, bukan hanya batinnya,” pungkasnya. (jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan