Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Indonesia-Australia Percepat Obat Infeksi Luka Diabetes: Terobosan Medis Cegah Amputasi

Johan Panjaitan • Rabu, 19 November 2025 | 07:00 WIB
ILUSTRASI: Pemeriksaan kadar gula darah. (ILUSTRASI/SUMUT POS)
ILUSTRASI: Pemeriksaan kadar gula darah. (ILUSTRASI/SUMUT POS)

SIDNEY, Sumutpos.jawapos.com-Indonesia dan Australia resmi memperkuat kolaborasi kesehatan dengan mengembangkan obat antibakteri inovatif yang digadang mampu mengobati infeksi luka pada penderita diabetes—penyebab utama amputasi. Obat berbentuk gel topikal tersebut kini memasuki uji klinis fase III di Indonesia dan diharapkan menjadi solusi baru dalam penanganan diabetic foot ulcer (DFU).

Kolaborasi ini digarap oleh Recce Pharmaceuticals bersama BPOM dan PT Etana Biotechnologies Indonesia. Vice President of Corporate Affairs Recce, Cherise Ang, mengungkapkan bahwa beban diabetes di Indonesia sangat besar. Dari sekitar 600 juta penderita diabetes dunia, hampir 300 juta berada di Asia Tenggara—dan 10% di antaranya adalah penduduk Indonesia.

Ancaman Nyata: Risiko Amputasi Tinggi

Data RS Hasan Sadikin Bandung mencatat, 37,5% pasien DFU harus menjalani amputasi akibat infeksi yang sulit disembuhkan. Ang menegaskan bahwa bakteri pada luka diabetes sering kali kebal dan memperlambat pemulihan.

“Obat ini dirancang untuk melawan bakteri penyebab infeksi pada luka diabetes. Dengan begitu, risiko amputasi bisa ditekan,” ujarnya dalam dialog media di Sydney.

Uji Klinis Fase III Dimulai di Indonesia

Sejak September 2025, uji klinis fase III telah berjalan dan menargetkan 310 pasien di Jakarta, Surabaya, dan Bali. RS Siloam menjadi salah satu mitra tempat pengujian berlangsung.
Uji klinis fase II di Australia menghasilkan kesembuhan 86% dalam 7 hari dan 93% dalam 14 hari—hasil yang sangat menjanjikan untuk terapi luka kronis.

Tim uji klinis Recce, yang berpengalaman lebih dari 100 tahun di industri farmasi global seperti Pfizer, turut mendampingi tenaga klinis Indonesia sekaligus melakukan transfer pengetahuan.

Indonesia Dipilih Karena Tingginya Kebutuhan

Commercial Director Recce, Andre Serobian, menyebut Indonesia sebagai mitra strategis karena kebutuhan besar terhadap inovasi penanganan diabetes. Selain itu, respons cepat pemerintah dan dukungan BPOM mempercepat terlaksananya penelitian.

“Kami sangat beruntung bermitra dengan Indonesia. Pemerintah Indonesia responsif dan mendukung penuh percepatan izin uji klinis,” ujarnya.

Kerja sama ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam penanganan diabetes nasional—memberikan harapan baru bagi jutaan pasien, sekaligus mengurangi angka amputasi yang selama ini menjadi momok besar bagi penderita.(jpg/han)

Editor : Johan Panjaitan
#diabtes #Antibakteri #amputasi #indonesia #australia