Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Dampak Erupsi Gunung Semeru, 1.131 Warga Mengungsi, 143 Ternak Mati, 3 Orang Alami Luka Bakar

Juli Rambe • Jumat, 21 November 2025 | 00:00 WIB
MENGUNGSI: Ribuan warga mengungsi karena erupsi Gununf Semeru. (Dok: jawapos.com)
MENGUNGSI: Ribuan warga mengungsi karena erupsi Gununf Semeru. (Dok: jawapos.com)

 

SUMUT POS- Berdasarkan data sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, dari total sekitar 200 rumah rusak, 21 rumah di antaranya mengalami kerusakan parah dampak dari erupsi Gunung Semeru.

Hingga Kamis malam (20/11), sebanyak tiga orang dilaporkan mengalami luka bakar akibat terkena material vulkanik Gunung Semeru. Mereka adalah Normawati (42), Hariyono (49), dan Dimas (50).

Normawati dan Haryono merupakan pasangan suami istri asal Kabupaten Kediri. Mereka terkena material panas saat melintas di sekitar Gladak Perak. Kini, keduanya dirawat intensif di RSUD Haryoto. 

Sementara Dimas adalah warga Dusun Sumbersari, Desa Supiturang. Ia terjebak di dalam rumah dan terkena banjir lahar Gunung Semeru. Dimas kini dirawat di RSUD Pasirian karena luka bakar grade 1. 

Untuk puluhan rumah warga yang mengalami rusak parah berada di Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. 

Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur Gatot Subroto mengatakan, saat ini petugas masih melakukan pembersihan material vulkanik yang menumpuk di sekitar permukiman warga. 

"Rumah terdampak erupsi Semeru 200 rumah, yang rusak parah 21, saat ini masih pembersihan rumah," kata Gatot di Jembatan Besuk Kobokan, Kamis (20/11/2025).

Kepala Bidang Peternakan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Lumajang, Endra Novianto mengatakan, data sementara hingga Kamis (20/11/2025) pukul 12.00 WIB, terdapat 143 ternak warga yang mati. Terdiri dari empat ekor sapi dan 139 ekor kambing domba.

"Data sementara yang sudah kita temukan ternak dan pemiliknya ini ada 143 ekor," kata Endra di Pronojiwo. 

Menurut Endra, ternak-ternak warga yang telah ditemukan dalam kondisi mati akan dibakar agar tidak menimbulkan bau dan menghilangkan bakteri. 

"Penanganannya kita bakar," jelasnya. Endra menambahkan, saat ini pihaknya masih melakukan pendataan untuk mengetahui jumlah hewan ternak terdampak.

Lebih lanjut, Endra belum bisa memastikan apakah ternak yang mati akan diganti oleh pemerintah. 

"Kalau diganti apa tidak kami belum tahu, tapi kami data dulu supaya akurat," pungkasnya. 

Sementara itu, sebanyak 1.131 warga di Kecamatan Pronojiwo dan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, mengungsi akibat erupsi Gunung Semeru.

Sekretaris Daerah Kabupaten Lumajang Agus Triyono mengatakan, ribuan pengungsi itu saat ini berada di 11 lokasi pengungsian berbeda di 2 kecamatan tersebut. Rinciannya, 7 lokasi pengungsian berada di Kecamatan Pronojiwo dengan jumlah pengungsi sebanyak 806 jiwa.

Sedangkan, di Kecamatan Candipuro, dari empat lokasi pengungsian, terdapat 325 warga yang mengevakuasi diri ke sana. "Jumlah pengungsi sampai hari ini ada 1.000 orang lebih tersebar di 11 lokasi pengungsian di dua kecamatan," kata Agus, Kamis (20/11/2025).

Menurutnya, warga di sekitar lereng Gunung Semeru sudah paham karakter gunung. Sehingga, saat kondisi sudah dirasa normal, warga akan kembali ke rumahnya masing-masing. Meskipun, tidak sedikit juga warga yang memilih tetap bertahan di lokasi pengungsian. "Jumlahnya fluktuatif karena warga sudah paham karakteristik Gunung Semeru dan gejala alamnya," jelas Agus.

Terjadi Erupsi Gunung Semeru pada Rabu (19/11) pukul 14.13 WIB. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat tinggi kolom abu mencapai 2.000 meter di atas puncak atau 5.676 MDPL.

Awan panas berwarna kelabu dengan intensitas tebal ke arah utara dan barat laut. Erupsi terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 40 mm dan durasi sekitar 16 menit 40 detik. (jpc/ram)

 

Editor : Juli Rambe
#Dampak erupsi Gunung Semeru #Eruspi Gunung Semeru #Korban Erupsi Gunung Semeru