SUMATERA BARAT - Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo melakukan berbagai cara agar pembangunan fasilitas umum terdampak bencana bisa dijalankan secepat mungkin. Didukung anak usaha PT Hutama Karya (persero) yakni, PT Hutama Karya Infrastruktur (HKI), Menteri Dody memberikan instruksi pembuatan jembatan bailey di Malalak Kabupaten Agam dan jalan tol Sicincin-Bukittinggi sebagai alternatif jalan di Lembah Anai.
Jembatan Aur Subarang di Malalak dan Jalan di Lembah Anai memang ditangani PT Hutama Karya Infrastruktur. Dua jembatan itu memang luluh lantak saat bencana banjir dan longsor terjadi pada 27 November 2025. Namun kini, dengan dukungan Menteri Dody dan HKI, dua jembatan itu bisa dioperasikan secara fungsional.
Menteri Dody meninjau langsung pembangunan sejumlah proyek penanganan bencana di Sumatera Barat (Sumbar) selama tiga hari sejak Rabu (28/1) hingga Jumat (30/1). Kunjungan ini dilakukan untuk memastikan percepatan pemulihan infrastruktur.
Dalam peninjauan tersebut, Dody menjelaskan bahwa Jembatan Aur Subarang di Malalak sebelumnya terputus dan mengakibatkan aktifitas warga lumpuh. Pasar sempat tutup. Warga bahkan harus menyeberangi sungai untuk mengantar anak ke sekolah dan menjalankan aktivitas sehari-hari.
“Waktu pertama kali saya ke sini, jembatan memang sudah putus. Awalnya hanya ada rencana membangun jembatan permanen, tapi karena saya melihat langsung kondisi masyarakat yang terdampak, saya minta Kepala Balai segera membangun jembatan bailey sebagai solusi cepat,” ujar Dody.
Menurut dia, pembangunan jembatan bailey bertujuan agar aktivitas masyarakat dan logistik tidak terhambat. Saat ini, satu jembatan bailey telah selesai dibangun. Sementara itu, satu jembatan lainnya masih dalam proses penyelesaian.
Terkait pembangunan jembatan permanen, Dody menjelaskan, prosesnya membutuhkan kajian teknis yang matang. Lokasi jembatan berada di area yang memiliki keterbatasan lahan serta berdekatan dengan kawasan cagar budaya. Selain itu, kondisi alam seperti potensi longsoran batu dari tebing sungai juga menjadi pertimbangan penting dalam desain.
“Semua masih kita desain dan kaji, apakah nanti bentuknya jembatan sekaligus sabo atau desain lain yang paling efektif dan aman, supaya ke depan kejadian seperti kemarin tidak terulang,” jelasnya.
Persiapan Sambut Ramadan
Menjelang bulan suci Ramadan, Menteri PU menegaskan bahwa pemerintah fokus memastikan kelancaran arus logistik dan kebutuhan dasar masyarakat, terutama akses air bersih dan sarana ibadah.
“Masyarakat sebenarnya tidak meminta jembatan bailey, saya yang mendorong karena melihat langsung warga menyeberang sungai dengan kondisi berbahaya. Ini tidak boleh terjadi. Apalagi menghadapi Ramadan, logistik dan kebutuhan air, khususnya di masjid-masjid, tidak boleh terganggu,” tegasnya.
Selain infrastruktur, Dody juga menekankan pelaksanaan program padat karya untuk menjaga perekonomian warga terdampak bencana. Sejak 12 Desember, Kementerian PU telah menginstruksikan agar program padat karya diterapkan di seluruh wilayah terdampak, termasuk Sumatera Barat.
“Masyarakat terdampak bencana tidak boleh ekonominya ikut terganggu. Dari PU, yang bisa kami lakukan adalah melibatkan masyarakat langsung dalam pekerjaan infrastruktur seperti saluran dan sistem air. Program ini sudah berjalan sejak pertengahan Desember,” katanya.
Terkait sektor pertanian, Dody memastikan percepatan perbaikan jaringan irigasi. Ia menyebut, berdasarkan informasi dari Menteri Pertanian, endapan lumpur pascabencana justru dapat menjadi humus yang menyuburkan lahan.
“Di beberapa tempat, musim tanam sudah dimulai kembali. Di lokasi-lokasi itu, kami percepat pembenahan irigasi, baik irigasi pusat maupun daerah. Prinsipnya, di mana petani sudah mulai tanam, di situ irigasi langsung kita kerjakan,” ujarnya.
Pembangunan Kawasan Lembah Anai
Setelah meninjau pembangunan jembatan di Malalak, Menteri Dody langsung ke Lembah Anai. Jalan Lembah Anai, di Kabupaten Tanah Datar ini dikenal sebagai area rawan bencana oleh masyarakat Sumatera Barat (Sumbar). Jalur ini dikeliling perbukitan, dengan sungai di tengahnya, sekaligus terdapat Air Terjun. Beberapa kali galodo, longsor dan lahar dingin terjadi di Lembah Anai.
Tahun lalu, jalan nasional penghubung Padang-Bukittinggi di Lembah Anai putus dua kali. Sebelum bencana pada November 2025 yang merusak jembatan kembar, jalan tersebut juga putus di delapan titik pada Mei 2025. Saat itu terjadi banjir lahar dingin dari Gunung Marapi.
Karena begitu rawannya jalan tersebut, Presiden Prabowo Subianto pun menginstruksikan Menteri PU untuk membuat jalan alternatif. Menjalankan instruksi tersebut, Dody berupaya membangun jalan tol penghubung Sicincin-Bukittinggi.
Menteri Dody menyiapkan, pembangunan tol Sicincin–Bukittinggi sebagai jalur alternatif strategis ketika ruas Lembah Anai terdampak bencana. Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan, Lembah Anai merupakan salah satu ruas jalan paling padat sekaligus rawan bencana. Karena itu, diperlukan solusi jangka panjang berupa jalur alternatif yang aman dan andal.
“Kita harus memikirkan alternatif ketika jalan ini bermasalah,” kata Dody saat meninjau penanganan longsor di Lembah Anai.
Menurut Dody, penanganan di Lembah Anai bersifat fungsional sejak Desember lalu, meski masih terbatas jam operasionalnya. Dia menargetkan jalur tersebut bisa kembali berfungsi 24 jam setelah perbaikan permanen rampung.
“Targetnya Juli nanti sudah permanen,” ujarnya. Namun, karena sebentar lagi Ramadan yang membuat aktivitas meningkat karena arus mudik, maka jalan terdampak bencana ini harus dibuka. Setidaknya H-7 lebaran hingga H + 7 lebaran "Untuk jalan di Lembah Anai ini akan dibuka full 24 jam untuk masyarakat," tegasnya.
Pembangunan jalan tol di Lembah Anai memiliki tingkat kesulitan berbeda. Kementerian PU tengah merancang pembangunan jalan tol Sicincin–Bukittinggi yang akan melewati kawasan perbukitan dengan terowongan sepanjang sekitar 3,5 kilometer. Tol ini diharapkan menjadi jalur alternatif utama jika Lembah Anai kembali terganggu akibat bencana.
“Awalnya cuma ngobrol, bagaimana kalau bangun tol lewat terowongan. Di situ ada terowongan bekas jalur kereta api dan secara teknis memungkinkan. Setelah kita kerucutkan, ternyata memang bisa, sekarang sedang kita rancang dan finalisasi,” jelas Dody.
Dody menegaskan, pembangunan jalan tol tersebut akan disinkronkan dengan penanganan jalan nasional di Lembah Anai agar tidak saling mengganggu. Seluruh proyek infrastruktur harus berjalan seiring. “Kita upayakan pembangunan tol ini tidak mengganggu penanganan jalan di Lembah Anai. Semua harus sinkron,” tegasnya.
Dody menambahkan, rencana penyediaan ruas alternatif ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar pemerintah menyiapkan jalur cadangan ketika jalan utama mengalami gangguan akibat bencana alam.
“Pak Presiden mengarahkan supaya ke depan, kalau jalan bermasalah karena apa pun, tetap ada ruas alternatif. Itu yang sedang kita siapkan,” urainya.
Selain pembangunan jalan, pemerintah juga menaruh perhatian serius pada penguatan tebing di kawasan rawan longsor. Dody menginstruksikan agar seluruh tebing bermasalah di sepanjang ruas jalan segera ditangani secara menyeluruh.
“Kalau kita cuma menangani jalannya tapi tebingnya tidak, percuma. Tidak akan bertahan lama. Tebingnya harus diperkuat dengan berbagai metode,” tegasnya.
HKI Siap Jalankan Arahan Menteri PU
Sementara itu, Direktur Operasi III HKI, Aditya Novendra Jaya menjelaskan, proyek HKI di Sumatera Barat meliputi beberapa pekerjaan utama. Pertama, penanganan bencana di kawasan Lembah Anai dan Malalak. Selain itu, terdapat proyek Sitinjau Lauik serta pembangunan Jalan Tol Padang–Sicincin yang saat ini terus berjalan.
“Untuk proyek penanganan bencana, tentu dibatasi oleh waktu karena harus segera selesai agar bisa segera dimanfaatkan oleh masyarakat. Waktu pengerjaannya sekitar satu tahun,” ujarnya saat meninjau lokasi bersama Menteri Pekerjaan Umum.
Khusus di kawasan Malalak, sesuai arahan Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo, penanganan dilakukan secara permanen. HKI akan membangun empat jembatan permanen. Selain itu, dilakukan penanganan lereng dengan metode soil nailing (penguatan tanah) dan shotcrete (beton semprot), serta pemasangan bronjong dan sheet pile.
“Target penyelesaian penanganan di Malalak adalah Juli 2026. Namun, untuk menghadapi arus mudik Lebaran tahun ini sesuai instruksi Menteri PU, ruas jalan yang sebelumnya terputus akan disambungkan sehingga sudah bisa dilewati kendaraan dua arah,” jelasnya.
Sedangkan di Lembah Anai, HKI menargetkan pembukaan jalan secara penuh dua arah selama 24 jam selama Ramadan. Saat ini masih diberlakukan sistem buka-tutup jalan karena keterbatasan ruang kerja dan kebutuhan penempatan alat berat.
“Kami mohon kesabaran masyarakat Sumatera Barat. Pekerjaan ini cukup padat dan kondisi cuaca menjadi tantangan, namun sudah kami perhitungkan. Dengan kondisi cuaca saat ini, kami optimistis pekerjaan bisa selesai sesuai target pada Juli 2026,” ujarnya.
Untuk meningkatkan keselamatan kerja di kawasan rawan bencana, HKI juga menerapkan teknologi early warning system. Sistem ini akan memberikan peringatan dini melalui alarm dan notifikasi ke ponsel jika terjadi peningkatan debit air dari hulu.
“Golden time dari aliran air pertama di atas hingga sampai ke lokasi kerja sekitar 20 sampai 30 menit. Waktu ini kami manfaatkan untuk menyelamatkan alat berat dan memastikan keselamatan pekerja,” ujarnya.
Terkait ketahanan infrastruktur di Lembah Anai yang dikenal rawan bencana, Aditya menegaskan bahwa desain penanganan telah disesuaikan dengan analisis curah hujan periode ulang 100 tahun.
“Artinya, jika terjadi bencana atau galodo sesuai dengan parameter desain tersebut, tidak akan ada masalah. Infrastruktur yang kami bangun dirancang untuk lebih tahan terhadap terpaan alam,” tegasnya. (idr/oni)
Editor : Redaksi