Sumutpos.JawaPos.com-Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah serangan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel ke Iran memicu serangan balasan dari Teheran. Konflik yang semakin eskalatif ini tidak hanya mengguncang kawasan, tetapi juga diprediksi membawa dampak serius bagi perekonomian global, termasuk Indonesia.
Menurut lembaga riset ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios) menilai, efek domino dari konflik tersebut berpotensi memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), melemahnya nilai tukar rupiah, hingga tekanan pada daya beli masyarakat.
Situasi semakin dramatis setelah kabar tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan yang disebut melibatkan kekuatan militer AS dan Israel. Khamenei diketahui telah memimpin Iran selama lebih dari tiga dekade dan menjadi figur sentral dalam politik serta militer negara tersebut.
Harga Minyak Dunia Terancam Meledak
Menurut Celios, perang yang melibatkan negara produsen energi di kawasan Timur Tengah bisa memicu lonjakan harga minyak dunia. Saat ini saja, harga minyak mentah jenis Brent sejak awal 2026 sudah melonjak sekitar 20,7 persen hingga mencapai USD 72,8 per barel.
Jika konflik terus meluas, skenario terburuknya harga minyak dunia bisa menembus USD 100 hingga USD 120 per barel.
Lonjakan harga ini jelas menjadi ancaman bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak. Dalam simulasi APBN 2026, setiap kenaikan harga minyak sebesar USD 1 per barel di atas asumsi pemerintah sebesar USD 70 dapat menambah beban belanja negara hingga Rp10,3 triliun.
Selat Hormuz Jadi Titik Panas Energi Dunia
Ketegangan juga mengancam jalur vital distribusi minyak global di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu nadi perdagangan energi dunia yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman.
Sekitar 20 persen kapal tanker minyak dunia melintasi selat tersebut setiap tahun. Bahkan, pada Februari 2026 saja volume pengiriman minyak mentah yang melewati jalur ini diperkirakan mencapai 2 hingga 4 juta metrik ton per bulan.
Jika konflik meluas dan jalur ini terganggu, pasokan minyak dunia bisa tersendat dan memicu lonjakan harga energi secara global.
Rupiah Terancam, Emas Makin Diburu
Celios juga memprediksi nilai tukar rupiah berpotensi tertekan akibat gejolak geopolitik ini. Dalam situasi konflik global, investor biasanya mengalihkan dana dari aset berisiko ke instrumen yang dianggap lebih aman.
Fenomena ini dikenal sebagai flight to quality, yaitu pergeseran investasi menuju aset safe haven seperti emas.
Tak heran jika harga emas global dalam enam bulan terakhir sudah melonjak hingga 48,4 persen, seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik dunia.
Harga Pangan Bisa Ikut Melonjak
Dampak konflik juga diprediksi merembet ke sektor pangan. Kenaikan biaya energi berpotensi meningkatkan harga sejumlah komoditas pokok seperti ayam, telur, beras, hingga sayuran.
Kondisi tersebut dikhawatirkan semakin menekan daya beli masyarakat, terutama kelas menengah, karena pendapatan yang bisa dibelanjakan (disposable income) berpotensi terus tergerus.
Apalagi pemerintah tengah menjalankan program makan bergizi gratis yang membutuhkan pasokan komoditas pangan dalam jumlah besar.
Jika konflik di Timur Tengah terus memburuk, bukan hanya kawasan tersebut yang merasakan dampaknya—perekonomian global, termasuk Indonesia, juga harus bersiap menghadapi efek gelombang kejutnya.(jpc/han)
Editor : Johan Panjaitan