Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Pemerintah Larang Siswa Gunakan AI untuk Jawab Soal, Pemerhati: Bukan Solusi Utama

Redaksi • Selasa, 17 Maret 2026 | 03:00 WIB

Ilustrasi anak belajar di sekolah. (Pexels.com)
Ilustrasi anak belajar di sekolah. (Pexels.com)

sumutpos.jawapos.com - Pemerintah mengambil langkah baru dalam dunia pendidikan dengan membatasi penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) bagi pelajar. Melalui pedoman yang disepakati sejumlah kementerian, siswa tingkat SD hingga SMA tidak diperbolehkan menggunakan AI instan seperti ChatGPT untuk menjawab soal dari guru.

Kebijakan tersebut bertujuan mencegah ketergantungan siswa terhadap teknologi yang memberikan jawaban secara instan. Melansir Instagram @lambegosiip, Senin (16/3/2026), pemerintah menilai penggunaan AI tanpa kontrol berpotensi mengganggu perkembangan kemampuan berpikir dan pemahaman materi pelajaran pada anak.

Meski demikian, AI tidak sepenuhnya dilarang di dunia pendidikan. Teknologi tersebut masih bisa dimanfaatkan sebagai alat pendukung pembelajaran, misalnya melalui aplikasi pendidikan yang dirancang khusus bagi siswa.

Direktur Eksekutif Center for Education Regulations and Development Analysis, Indra Charismiadji, menilai kebijakan tersebut perlu dilihat secara lebih bijak. Menurutnya, perkembangan teknologi AI tidak mungkin dihindari sehingga pelarangan saja bukan solusi utama.

Ia menilai teknologi selalu membawa konsekuensi. Di satu sisi memberikan kemudahan, namun di sisi lain dapat mengubah cara manusia bekerja atau belajar.

Menurut Indra, persoalan yang lebih mendasar dalam pendidikan Indonesia adalah rendahnya kemampuan literasi siswa. Kondisi tersebut membuat sebagian pelajar cenderung menggunakan AI sebagai jalan pintas tanpa memahami materi yang sebenarnya.

“Banyak anak mencari jalan pintas menggunakan AI karena kemampuan membaca mereka lemah,” ujarnya.

Karena itu, ia menilai pemerintah seharusnya lebih fokus memperkuat literasi dasar seperti kemampuan membaca dan matematika.

Selain sekolah, Indra juga menekankan pentingnya peran keluarga dalam pendidikan anak. Selama ini, menurutnya, tanggung jawab pendidikan terlalu banyak dibebankan kepada sekolah.

Di sisi lain, AI juga dinilai bisa dimanfaatkan untuk kegiatan yang lebih kreatif. Misalnya membantu siswa membuat animasi cerita rakyat, proyek digital, atau kegiatan inovatif lain yang mendorong imajinasi.

Dengan pendekatan tersebut, AI tidak hanya menjadi alat untuk menjawab soal, tetapi juga sarana untuk melatih kreativitas dan berpikir kritis siswa.

Kebijakan pembatasan penggunaan AI di sekolah ini langsung menuai berbagai reaksi dari warganet di media sosial.

Sebagian netizen mendukung langkah pemerintah karena dinilai dapat mencegah siswa menjadi malas berpikir.

“Setuju sih. Kalau semua dijawab AI, anak-anak nanti tidak belajar proses berpikir,” tulis seorang pengguna X.

Namun ada pula yang menilai kebijakan tersebut kurang realistis di era digital saat ini.

“Teknologi tidak bisa dilawan. Yang penting diajari cara pakai AI dengan benar, bukan dilarang,” komentar netizen lainnya.

Ada juga yang menyoroti pentingnya literasi digital bagi siswa.

“AI itu alat, bukan musuh. Kalau anak diajarkan cara memanfaatkannya untuk belajar, justru bisa lebih pintar,” tulis warganet.

Perdebatan ini menunjukkan bahwa pemanfaatan AI dalam pendidikan masih menjadi isu baru yang memerlukan pendekatan seimbang antara regulasi, literasi, dan pengawasan.(lin)

Editor : Redaksi
#ChatGPT #siswa #ai #gemini