JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com- Kunjungan Presiden ke gudang Bulog di Danurejo, Magelang, Jawa Tengah, dinilai bukan sekadar agenda seremonial. Akademisi pertanian Prima Gandhi melihat langkah tersebut sebagai konfirmasi langsung bahwa sistem pangan nasional bekerja secara terintegrasi dan efektif, mulai dari hulu hingga hilir.
Dalam perspektif teori sistem pangan, kehadiran negara di titik penyimpanan strategis seperti gudang Bulog menunjukkan keterhubungan yang solid antara produksi petani, penyerapan oleh pemerintah, hingga penguatan cadangan sebagai buffer nasional.
“Kunjungan ini mengonfirmasi bahwa siklus produksi, penyerapan, dan penguatan cadangan berjalan dalam satu mekanisme utuh. Gudang yang penuh bukan hanya soal stok, tetapi bukti bahwa produksi terserap dengan baik,” ujarnya.
Baca Juga: KRYD Polres Sergai: Patroli Intensif Jaga Stabilitas Kamtibmas Tetap Kondusif
Menurut Prima, kondisi gudang yang terisi penuh mencerminkan keberhasilan pengelolaan surplus produksi. Alih-alih menekan harga di tingkat petani, surplus tersebut justru dikonversi menjadi cadangan strategis yang menjaga stabilitas pasokan bagi konsumen.
Ia menegaskan, dalam ekonomi pangan, stabilitas tidak hanya ditentukan oleh besarnya produksi, tetapi oleh kemampuan negara mengelola kelebihan produksi secara tepat. Dalam konteks ini, peran Bulog sebagai instrumen penyangga dinilai berjalan sesuai fungsi.
“Bulog berperan sebagai penyeimbang. Ia menyerap kelebihan produksi saat panen dan memastikan pasokan tetap terjaga saat dibutuhkan,” jelasnya.
Lebih jauh, dalam kerangka rantai pasok pangan, keberadaan cadangan beras pemerintah (CBP) yang kini mencapai sekitar 4,8 juta ton—dan terus bergerak menuju 5 juta ton—menjadi indikator penguatan buffer pangan nasional. Kondisi ini ditopang oleh tren produksi beras yang meningkat, dengan capaian 34,69 juta ton pada 2025 atau naik 13,29 persen dibanding tahun sebelumnya.
“Kombinasi produksi yang meningkat dan serapan yang optimal membentuk cadangan yang kuat. Stok tinggi bukan berdiri sendiri, melainkan hasil dari sistem yang bekerja,” tambahnya.
Prima juga menyoroti aspek lain yang tak kalah penting, yakni dampak kunjungan Presiden terhadap persepsi pasar. Dalam dinamika pangan global, gejolak tidak selalu dipicu oleh kelangkaan, tetapi juga oleh ketidakpastian informasi.
Kehadiran langsung Presiden di lapangan, menurutnya, memberikan sinyal kuat bahwa pengelolaan pangan berada dalam kendali negara, sekaligus memperkuat kepercayaan publik.
“Verifikasi langsung seperti ini penting untuk menjaga stabilitas. Ketika negara hadir, ada kepastian bahwa sistem berjalan dan pasokan aman,” tegasnya.
Temuan di lapangan, seperti kapasitas gudang yang penuh hingga kebutuhan tambahan ruang penyimpanan, menjadi bukti bahwa kebijakan pangan tidak berhenti pada tataran administratif, melainkan benar-benar terealisasi di lapangan. (jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan