Yuswardi merupakan salah satu pemain legenda di PSMS dan Timnas Indonesia. Dia merupakan bek tangguh ketika membela Ayam Kinantan dan Merah Putih.
Bagaimana kisahnya?
Berikut tulisan pemerhati PSMS Medan, Indra Efendi Rangkuti.
Yuswardi lahir di Sumatera Barat pada 2 Juli 1945. Dirinya merupakan pemain PSMS Medan dan Timnas Indonesia akhir 1960-an sampai pertengahan 1970-an. Ia memiliki julukan “Ajo” yang berarti Abang (panggilan untuk lelaki keturunan Minang). Yuswardi merupakan pemain berposisi spesialis bek kanan dan belakangan menjadi bek tengah.
Karier sepakbolanya dirintis dan habiskan bersama PSMS Medan. Pada usia 10 tahun Yuswardi hijrah dari tanah Minangkabau untuk ikut dengan “Mamaknya” (paman) yang tinggal di Kisaran. Di Kisaran inilah pula Yuswardi mulai mengenal sepakbola dengan bermain bersama teman-temannya.
Usai menamatkan sekolah dasar, Yuswardi pindah ke Medan untuk melanjutkan pendidikan. Di Medan, Yuswardi mulai bergabung dengan klub anggota PSMS yaitu Medan Putra. Secara kebetulan pada waktu itu Medan Putra sering berlatih di stadion Teladan Medan, yang lokasinya tidak terlalu jauh dari sekolahnya di Dwiwarna dan tempat tinggalnya di Pasar Merah Medan.
Kemampuan olah bolanya kian matang di bawah gemblengan para pelatih di Medan Putra seperti Ramlan Yatim, Miran dll. Selain itu, Yuswardi juga sukses membawa sekolahnya menjuarai beberapa turnamen antar pelajar di Medan, hingga akhirnya membuat pihak sekolah memberi beasiswa atas prestasinya mengharumkan sekolah.
Kemampuannya yang baik ketika membela Medan Putra dalam kompetisi PSMS membuat dirinya mulai dilirik untuk memperkuat PSMS Medan. Pada tahun 1964, di usia yang masih muda dia dipanggil oleh Ramli Yatim yang saat itu melatih PSMS untuk membela Ayam Kinantan.
Walau masih muda, Yuswardi tidak canggung bermain bersama bintang-bintang utama PSMS saat itu seperti Acong, Eddy Simon, Saiban, Aziz Tanjung, Ipong Silalahi, Matseh, Sukiman, Lasiman, Muslim dan lainnya. Yuswardi mampu menunjukkan bakat dan kemampuan hebatnya, hingga dalam waktu yang tidak lama posisi inti di PSMS bisa diperolehnya. Sayang dalam Kejurnas PSSI hingga 1966 PSMS Medan belum berhasil meraih Juara.
Pada tahun 1967, PSMS Medan yang waktu itu dilatih oleh dua Legenda PSMS Medan Yusuf Siregar dan Ramli Yatim mulai melakukan pembenahan untuk meraih kesuksesan dalam Kejurnas PSSI. Keberhasilan PSMS Jr yang waktu itu dilatih oleh Ramli Yatim menjadi Juara Suratin Cup 1967 membuat PSMS semakin diperhitungkan untuk sukses. Apalagi empat pemainnya yaitu Ronny Pasla, Sarman Panggabean, Wibisono, dan Tumsila dipromosikan untuk bergabung bersama PSMS yang akan berlaga di putaran Final pada September 1967.
Perpaduan empat bintang muda tersebut dengan bintang-bintang senior seperti Muslim, Sukiman, Djamal, Ipong Silalahi, Syamsuddin, Sunarto, Yuswardi, Zulkarnaen Pasaribu, Azis Siregar, A Rahim membuat PSMS tampil solid dan mantap dalam putaran Final Kejurnas PSSI 1967 hingga akhirnya PSMS sukses menjadi Juara setelah di final mengalahkan Persib Bandung 2-0.
Kesuksesan ini adalah untuk kali pertama diraih oleh PSMS Medan sejak berdiri pada tahun 1950. Langkah sebelumnya PSMS Medan hanya sampai Runner-Up Kejurnas/Divisi Utama Perserikatan PSSI pada tahun 1954 dan1957.
Keberhasilan PSMS Medan menjadi juara Kejurnas PSSI 1967 membuat PSSI menunjuk Yuswardi dkk untuk mewakili Indonesia di Piala Emas Agha Khan 1967 yang berlangsung di Dhaka pada 1967. Dan PSMS Medan sukses menjadi Juara di Piala Emas Aga Khan 1967 setelah di Final mengalahkan klub tuan rumah yaitu Mohammaden dengan skor 2-0.
Kegemilangan PSMS Medan sepanjang tahun 1967 membuat para pemainnya mulai dilirik oleh timnas. Sebelumnya dari skuad PSMS 1967 ini hanya Ipong Silalahi yang kerap dipanggil. Namun pada saat Timnas dipersiapkan untuk menghadapi King’s Cup 1968 di Bangkok pilar-pilar utama PSMS Medan dipanggil oleh pelatih Endang Witarsa untuk memperkuat Timnas seperti Ipong Silalahi, Yuswardi, Sunarto, Ronny Pasla, Zulham Yahya, Tumsila, dan Sarman Panggabean.
Kemampuan Yuswardi sebagai bek kanan yang piawai menjaga sisi kanan pertahanan sekaligus menyisir lapangan membantu serangan menjadikan dirinya sebagai pilihan utama untuk menempati posisi bek kanan di Timnas. Dan pada akhirnya, Timnas sukses menjadi Juara di King’s Cup 1968 setelah di Final mengalahkan Birma (Myanmar) 1-0 lewat gol yang dicetak oleh Soetjipto Soentoro.
Pilihan utama di Timnas terus dipertahankan hingga pertengahan tahun 70-an. Sosoknya yang tenang dan kerap berpenampilan rapi membuat dirinya memiliki “aura” positif dalam mengawal sisi kanan pertahanan Timnas. Demikian juga dengan kiprahnya di PSMS. Dirinya adalah pilihan utama sebagai bek kanan. Ketika bek tengah andalan PSMS Sukiman gantung sepatu dan Anwar Ujang pindah ke PSL Langkat,Yuswardi pindah menempati posisi bek tengah. Dan ternyata di posisi bek tengah Yuswardi juga tampil mantap dan berdiri kokoh di jantung pertahanan PSMS berduet dengan Mariadi maupun Suharno.
Seusai King’s Cup 1968 para bintang-bintang utama Timnas seperti Soetjipto Soentoro, Anwar Ujang, Iswadi Idris, Yudo Hadianto, Mulyadi, Sinyo Aliandoe, Abdul Kadir, Jacob Sihasale, Max Timisela dan M Basri bergabung dengan Pardedetex Medan. Walau bersifat profesional Pardedetex pada waktu itu berkompetisi di kompetisi antar klub PSMS.
Bergabungnya para bintang-bintang timnas ini ke Pardedetex membuat para bintang Timnas ini memperkuat PSMS di Kejurnas PSSI 1969. Dan Yuswardi tetap menjadi pilihan utama skuad PSMS yang dilatih oleh Ramli Yatim dan EA Mangindaan ini. Akhirnya PSMS pun sukses menjadi Juara Kejurnas PSSI 1969. Ini merupakan kali kedua PSMS menjadi Juara Kejurnas PSSI.
Kemudian pada tahun 1969 ini berlangsung PON VII yang berlangsung di Surabaya. Pada PON itu Yuswardi dan rekan-rekannya di PSMS yang memperkuat Sumatera Utara sukses membawa Sumatera Utara meraih medali emas setelah di final mengalahkan DKI Jakarta 2-1. Ini adalah kali ketiga Sumatera Utara meraih medali emas sepakbola PON setelah sebelumnya pada 1953 dan 1957.
Pada tahun 1969 ini, Timnas juga mengikuti dua kejuaraan besar yaitu Merdeka Games di Malaysia dan King’s Cup di Bangkok. Yuswardi kembali menjadi pilihan utama di kedua turnamen tersebut. Pada Merdeka Games 1969 ini Timnas sukses menjadi juara setelah di final mengalahkan tuan rumah Malaysia dengan skor 3-2. Namun di King’s Cup Timnas gagal mempertahankan gelar juara yang diraih tahun 1968 karena di final harus mengakui kehebatan Korea Selatan setelah takluk dengan skor 0-1.
Pada tahun 1970 PSMS Medan tampil di AFC Champions Cup 1970 yang berlangsung di Teheran. Dan inilah kali pertama klub Indonesia tampil di AFC Champions Cup. Yuswardi kembali dipercaya untuk menjadi pilihan utama dan bersama rekan-rekannya sukses membawa PSMS lolos hingga Semifinal.
Usai tampil di AFC Champions Cup 1970 bintang-bintang Timnas kembali ke klub asalnya sebelumnya kecuali Anwar Ujang yang tetap bertahan di PSMS. Kondisi ini membuat PSMS tidak diunggulkan untuk menjadi Juara pada Kejurnas PSSI 1971.
Namun dengan semangat juang yang tinggi Yuswardi cs yang didampingi Ibu Moen Sarwono sebagai pimpinan rombongan danAffan Achmad sebagai Manajer dan didukung Gubsu Marah Halim Harahap dan Walikota Medan H.Sjoerkani berhasil menjadi Juara Kejurnas PSSI 1971. Gelar ini mengantar PSMS menjadi klub Indonesia pertama setelah kemerdekaan yang menjadi juara Kejurnas/Divisi Utama Perserikatan PSSI tiga kali berturut-turut .
Selain itu bersama PSMS pada tahun 1972 Yuswardi ikut berperan besar membawa PSMS Medan menjadi juara Soeharto Cup I dan Marah Halim Cup I. Pada tahun 1972 ini pula Yuswardi ikut berperan membawa Timnas meraih juara di Djakarta Anniversary Cup dan di Pesta Sukan Singapura. Pada tahun 1973 Yuswardi ikut berperan membawa PSMS Medan menjadi juara Piala Marah Halim
Pada tahun 1974 seiring dengan mundurnya Sukiman dan pindahnya Anwar Ujang ke PSL Langkat, posisi Kapten PSMS pun dipindahkan ke Yuswardi. Dengan posisi Kapten ini pula Yuswardi berperan besar memimpin rekan-rekannya membawa PSMS menjadi Juara Piala Yusuf di Ujung Pandang.
Lalu pada kejuaraan Antar Wilayah/PSSI Regional 1974 Yuswardi memimpin rekan-rekannya membawa PSSI Wilayah I yang bermaterikan 90% pemain PSMS Medan menjadi juara. Kesuksesan menjadi juara Kejuaraan Antar Wilayah/Regional PSSI ini membuat PSSI Wilayah I ditunjuk mewakili Indonesia di Piala Presiden di Seoul. Sayang PSSI Wilayah I kalah dari tuan rumah Korea Selatan yang diperkuat legenda Korsel Cha Bum Kun dan harus puas menjadi Runner-up.
Pada tahun 1975, Yuswardi sukses memimpin rekan-rekannya di PSMS Medan yang waktu itu bernaung bersama PSSI Wilayah I ketika bertanding melawan klub besar Belanda Ajax Amsterdam di Medan. Pada pertandingan ini, Tim PSSI Wilayah I (PSMS Plus) sukses mengalahkan Ajax 4-2. Kemenangan yang sangat sensasional bagi PSSI Wilayah I (PSMS Plus) menaklukkan Ajax yang diperkuat oleh bintang-bintang Timnas Belanda masa itu seperti : Ruud Krol, Johnny Rep, Wim Suurbier, Ruud Gels, Arie Haan dan lainnya. Saat itu, Ajax datang dengan status juara Champions Cup 1971,1972, dan 1973.
Pada tahun 1975 itu juga Yuswardi bersama rekan-rekannya membawa PSMS menjadi juara Kejurnas PSSI untuk keempat kalinya. Saat itu, PSMS dan Persija ditetapkan menjadi Juara Bersama.
Setelah pensiun menjadi pemain maka Yuswardi beralih menjadi pelatih PSMS Medan. Yuswardi sempat membawa PSMS Medan menjadi Runner-up Marah Halim Cup 1978, Runner-up Kejurnas PSSI 1979 dan Juara Tugu Muda Cup 1979.
Pada tahun 1980 ketika putaran enam Besar Divisi Utama Perserikatan PSSI, Yuswardi mempromosikan empat bintang muda PSMS yang sebelumnya sukses membawa PSMS Jr menjadi Juara Suratin Cup ke tim Senior PSMS yaitu Ricky Yacob, Juanda, Bambang Usmanto dan Supardi. Dan, ternyata keputusan ini tidak salah karena bintang-bintang muda ini mampu beradaptasi dengan baik dan tidak kagok bermain dengan bintang-bintang senior PSMS seperti Nobon, Amansyah Harahap,Taufik Lubis dan lainnya. Walau gagal meraih gelar juara namun penampilan PSMS dinilai cukup baik dengan perpaduan bintang senior dan bintang muda tersebut.
Setelah melatih PSMS, Yuswardi melatih PSSI Jr pada 1982-1983. Kemudian melatih Timnas PSSI Perserikatan bersama dengan Hengky Heipon yang sempat berkiprah di Merdeka Games 1984 di Malaysia. Pada masa ini pula dia mengorbitkan anak-anak Medan seperti Sakum Nugroho, Ponirin Meka, Yusnick Adiputra, dan Reno Latuperissa untuk menjadi bagian Timnas yang tampil lumayan bagus dalam kejuaraan tersebut. Yuswardi juga sempat melatih Persija Jakarta, Semen Padang dan PSSA Asahan.
Pada November 2005 Yuswardi sempat kembali menangani PSMS yang dipersiapkan menghadapi Piala Emas Bang Yos III yang digelar pada Desember 2005. Pada Piala Emas Bang Yos III yang digelar Desember 2005 Yuswardi yang berduet bersama M Khaidir berhasil membawa PSMS jadi Juara setelah di Final mengalahkan Persik Kediri 2-1.
Kini Yuswardi bermukim di Jakarta dan lebih banyak menghabiskan waktunya dengan berkumpul bersama keluarganya. Walau demikian Yuswardi sering berkunjung ke Medan untuk bertemu dengan rekan-rekannya sesama mantan pemain PSMS maupun mantan anak-anak asuhnya ketika dirinya melatih PSMS Medan.
Hingga kini kecintaannya kepada PSMS tidak pudar. Dirinya begitu prihatin dan kecewa melihat kondisi PSMS yang saat ini berada di luar kasta tertinggi persepakbolaan Indonesia. Walau demikian dirinya tidak henti berdoa agar PSMS bisa bangkit dan kembali meraih kejayaan di persepakbolaan Indonesia. (*/han)