Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

8 Kebiasaan Orangtua Boomer yang Diam-Diam Membuat Anak Enggan Berkunjung

Johan Panjaitan • Senin, 20 Oktober 2025 | 09:00 WIB
ILUSTRASI: 8 Kebiasaan Orang Tua Boomer yang Diam-Diam Membuat Anak Dewasa Enggan Silaturahmi. (FREEPIK)
ILUSTRASI: 8 Kebiasaan Orang Tua Boomer yang Diam-Diam Membuat Anak Dewasa Enggan Silaturahmi. (FREEPIK)

Sumutpos.jawapos.com-Hubungan antara orangtua dan anak memang tak pernah sederhana — apalagi ketika anak-anak sudah beranjak dewasa. Banyak orangtua generasi boomer masih berusaha menjaga kedekatan, tapi tanpa disadari justru melakukan hal-hal kecil yang membuat anaknya perlahan menjauh.

Bukan karena mereka tak sayang, tapi karena pertemuan yang seharusnya hangat justru berubah jadi momen yang terasa canggung, penuh nasihat, atau bahkan penilaian.

Dikutip dari geediting.com, berikut delapan kebiasaan umum yang sering dilakukan orangtua boomer — dan bisa membuat anak dewasa mereka malas berkunjung.

1. Terlalu sering bicara tentang “zaman dulu”

Kalimat “waktu Mama muda dulu…” mungkin terdengar biasa, tapi bagi anak, ini bisa jadi repetisi yang melelahkan.
Terlalu sering bernostalgia seolah masa lalu jauh lebih baik bisa membuat anak merasa kehidupannya sekarang kurang berharga.

Cobalah sesekali mendengarkan cerita mereka tanpa membandingkan dengan masa lalu. Nostalgia itu indah, tapi jangan sampai jadi penghalang komunikasi.

2. Menolak mengikuti perkembangan teknologi

Masih memilih telepon biasa ketimbang pesan teks? Menolak belajar video call atau media sosial?
Bagi anak-anak yang hidup di era digital, ini bisa terasa seperti jarak yang makin lebar.

Mau tidak mau, teknologi adalah bahasa baru kedekatan. Sekadar belajar video call atau mengirim emoji bisa jadi jembatan kecil yang berarti besar.

3. Memberi nasihat tanpa diminta

Orang tua sering merasa tahu yang terbaik — tapi anak dewasa ingin diakui mampu menentukan pilihan sendiri.
Saat mereka bercerita, belum tentu mereka butuh solusi. Kadang mereka hanya ingin didengar.

Cobalah ganti “Kamu seharusnya…” dengan “Aku paham perasaanmu.”
Dengar dulu, baru beri saran kalau diminta.

Baca Juga: Bupati Batubara Ajak Masyarakat Biasakan Jalan Pagi untuk Hidup Sehat

4. Membandingkan dengan anak orang lain

“Anaknya Bu Ani sudah punya rumah.”
“Temanmu sudah nikah, kamu kapan?”

Kalimat seperti ini, meski tanpa niat buruk, bisa menimbulkan luka kecil. Anak akan merasa tidak cukup baik, seolah apa pun yang dilakukan selalu kurang.

Lebih baik fokus pada pencapaian anak sendiri, sekecil apa pun. Dukungan yang tulus lebih berarti dari perbandingan apa pun.

5. Terlalu ikut campur dalam urusan cinta

Rasa ingin tahu soal pasangan anak itu wajar, tapi kalau sudah mulai menilai atau menasihati berlebihan, suasana bisa berubah tegang.
Hubungan mereka bukan lagi urusan orangtua. Percayalah, anak lebih nyaman membuka diri kalau tahu orangtuanya tidak akan menghakimi.

6. Terlalu memanjakan

Menyediakan semua kebutuhan anak memang bentuk kasih sayang, tapi ketika mereka sudah dewasa, itu bisa terasa seperti mengontrol.
Membiarkan anak belajar dari kesalahan dan berdiri sendiri adalah bentuk cinta yang lebih matang.

Kadang, tanda cinta terbaik justru adalah memberi ruang.

7. Tidak menghormati batas pribadi

Masuk ke kamar tanpa izin, bertanya soal gaji, atau muncul tiba-tiba tanpa kabar — semua ini bisa dianggap melewati batas.
Anak dewasa butuh ruang dan privasi, sama seperti dulu orang tua pun ingin dihargai pilihannya.

Hubungan sehat tumbuh dari saling menghormati, bukan dari kebiasaan yang terasa “menginvasi”.

8. Lupa memperlakukan anak sebagai orang dewasa

Mereka bukan lagi bocah yang harus diarahkan setiap langkahnya. Anak-anak itu kini punya kehidupan, tanggung jawab, dan cara berpikir sendiri.

Saat orangtua mulai memperlakukan mereka sebagai rekan sejajar, bukan “anak kecil selamanya”, hubungan pun akan terasa lebih hangat dan setara.

Menutup Jarak dengan Kasih dan Pengertian

Setiap generasi punya caranya sendiri dalam mengekspresikan cinta. Orang tua mungkin menunjukkan kasih lewat perhatian yang intens, sementara anak dewasa lebih menghargai kepercayaan dan ruang.

Perubahan ini bukan akhir kedekatan — justru peluang untuk membangun hubungan baru yang lebih dewasa, jujur, dan saling menghormati.

Karena pada akhirnya, bukan seberapa sering anak berkunjung yang terpenting, tapi seberapa nyaman mereka merasa ketika pulang.(han)

Editor : Johan Panjaitan
#boomer #anak #orantua #kedekatan #beranjak dewasa