Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Pengalaman Masa Kecil Diam-Diam Bisa Bentuk Anak Jadi Egois, Orang Tua Perlu Waspada

Redaksi • Kamis, 5 Februari 2026 | 21:00 WIB
Lingkungan keluarga dapat memengaruhi cara anak memahami empati, berbagi, dan menghargai orang lain. (Freepik.com)
Lingkungan keluarga dapat memengaruhi cara anak memahami empati, berbagi, dan menghargai orang lain. (Freepik.com)

sumutpos.jawapos.com - Sifat egois pada anak sering kali dianggap muncul begitu saja. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa pengalaman masa kecil memiliki peran besar dalam membentuk karakter anak, termasuk kecenderungan untuk mementingkan diri sendiri.

Lingkungan keluarga, pola asuh, hingga pengalaman emosional yang dialami anak dapat memengaruhi cara mereka memahami empati, berbagi, dan menghargai orang lain.

Sejumlah studi mengungkap, ada beberapa pengalaman masa kecil yang berpotensi membuat anak tumbuh dengan sifat egois. Orang tua perlu memahami hal ini agar dapat membangun pola asuh yang lebih sehat dan seimbang.

Salah satu pengalaman yang dapat memicu sifat egois adalah ketika anak selalu dituruti keinginannya. Anak yang terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkan tanpa usaha cenderung sulit memahami arti berbagi atau menghargai orang lain. Kondisi ini bisa membuat anak merasa dirinya adalah pusat perhatian dan kebutuhan orang lain menjadi kurang penting baginya.

Selain itu, anak yang kurang mendapatkan perhatian emosional juga berisiko mengembangkan sikap egois. Ketika kebutuhan emosionalnya tidak terpenuhi, anak mungkin berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain. Hal ini bisa muncul sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri terhadap perasaan kurang dihargai.

Pengalaman lain yang dapat memengaruhi adalah pola asuh orang tua yang terlalu memanjakan atau terlalu melindungi anak.

Anak yang tidak pernah diberi tanggung jawab atau kesempatan untuk menghadapi konsekuensi dari tindakannya dapat kesulitan memahami batasan dan empati terhadap orang lain. Akibatnya, anak lebih fokus pada kepentingan pribadi.

Lingkungan keluarga yang penuh konflik juga berpotensi membentuk sifat egois. Anak yang tumbuh dalam suasana pertengkaran atau hubungan keluarga yang tidak harmonis sering kali merasa harus menjaga dirinya sendiri.

Hal tersebut dapat membuat anak mengembangkan sikap defensif dan cenderung memprioritaskan diri sendiri dibanding orang lain.

Selain konflik keluarga, anak yang jarang diajarkan berbagi atau bekerja sama juga berisiko memiliki sifat egois. Kemampuan sosial seperti berbagi, menunggu giliran, dan bekerja sama sebenarnya perlu dilatih sejak dini. Tanpa pengalaman tersebut, anak mungkin kesulitan memahami pentingnya hubungan sosial yang sehat.

Pengalaman diperlakukan tidak adil juga dapat memicu sifat egois. Anak yang sering dibandingkan dengan saudara atau teman, misalnya, bisa merasa harus membuktikan dirinya lebih baik dari orang lain. Perasaan ini dapat memicu kompetisi yang tidak sehat dan menumbuhkan sikap individualistis.

Terakhir, pengalaman kurang mendapatkan contoh perilaku empati dari lingkungan sekitar turut memengaruhi pembentukan karakter anak. Anak belajar dari apa yang mereka lihat. Jika orang tua atau lingkungan terdekat jarang menunjukkan kepedulian terhadap orang lain, anak cenderung meniru perilaku tersebut.

Dilansir dari situs Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, kemkes.go.id, Rabu (4/2/2026), menekankan bahwa masa kanak-kanak merupakan periode penting dalam pembentukan karakter. Penelitian menunjukkan perkembangan otak anak berlangsung sangat pesat pada usia dini, sehingga pengalaman pada masa ini berpengaruh besar terhadap pola pikir dan perilaku saat dewasa.

Meski demikian, sifat egois pada anak bukanlah sesuatu yang tidak dapat diubah. Orang tua dapat membantu anak mengembangkan empati dengan memberikan contoh perilaku yang baik, mengajarkan pentingnya berbagi, serta memberi kesempatan anak untuk belajar memahami perasaan orang lain.

Pola asuh yang seimbang antara kasih sayang dan penanaman tanggung jawab menjadi kunci dalam membentuk karakter anak yang peduli dan tidak egois.

Dengan memahami berbagai pengalaman masa kecil yang berpotensi memengaruhi pembentukan sifat egois, orang tua dapat lebih bijak dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Lingkungan yang penuh kasih sayang, komunikasi yang sehat, serta pembelajaran nilai empati sejak dini dapat membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih peduli terhadap sesama. (lin)

 

Editor : Redaksi
#psikologi anak #pola asuh anak #tips orang tua #parenting #tumbuh kembang anak