Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Stop Beri Gadget pada Anak di Bawah 2 Tahun, Dokter Peringatkan Dampaknya Bisa Serius

Redaksi • Minggu, 10 Mei 2026 | 20:43 WIB
Anak berusia di bawah dua tahun disebut belum siap menerima paparan layar secara rutin karena masa tersebut merupakan periode emas perkembangan otak. (Freepik.com)
Anak berusia di bawah dua tahun disebut belum siap menerima paparan layar secara rutin karena masa tersebut merupakan periode emas perkembangan otak. (Freepik.com)
 
 
sumutpos.jawapos.com – Pemandangan balita yang tenang saat memegang ponsel kini menjadi hal yang lumrah. Di restoran, ruang tunggu, hingga di rumah, layar gawai kerap menjadi “penenang instan” ketika anak rewel.
 
Namun, di balik kemudahan itu, para dokter mengingatkan adanya risiko yang tidak bisa dianggap sepele. Anak berusia di bawah dua tahun disebut belum siap menerima paparan layar secara rutin karena masa tersebut merupakan periode emas perkembangan otak.
 
Melansir Instagram @metahanindita, Dokter Spesialis Anak, dr. Meta Hanindita, menegaskan bahwa anak di bawah usia dua tahun sebaiknya tidak diberikan gadget sama sekali.
 
Baca Juga: Pimpin WI Sumut, Irwan Kwok Ingin Raih Prestasi Lebih Baik
 
Menurutnya, pada usia tersebut otak anak berkembang sangat pesat dan membutuhkan stimulasi nyata dari lingkungan sekitar, seperti kontak mata, sentuhan, permainan, dan percakapan dengan orang tua.
 
“Interaksi langsung jauh lebih penting dibandingkan menatap layar,” ujarnya.
 
Salah satu dampak yang paling sering muncul akibat paparan gadget terlalu dini adalah keterlambatan bicara.
 
Anak yang terlalu lama menatap layar cenderung menjadi penerima informasi pasif. Mereka mendengar suara, tetapi tidak benar-benar berlatih untuk merespons atau berkomunikasi dua arah.
 
Baca Juga: Pemulihan Lingkungan di Blok Rokan Masih Berproses, CERI Soroti Peran SKK Migas
 
Padahal, kemampuan bahasa berkembang optimal saat anak aktif berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.
 
Tak hanya memengaruhi kemampuan bicara, penggunaan gadget juga dapat berdampak pada konsentrasi dan perilaku anak.
 
Paparan visual dan audio yang terlalu cepat dapat membuat anak terbiasa dengan stimulasi instan. Akibatnya, mereka lebih mudah bosan, sulit fokus, dan cenderung tantrum ketika gadget diambil.
 
Selain itu, anak juga berisiko mengalami gangguan tidur akibat cahaya biru dari layar yang dapat mengganggu produksi hormon melatonin.
 
Baca Juga: MILO ACTIV Indonesia Race 2026 Hadir Lagi di Medan, Diikuti 7.300 Pelari Lebih
 
Para ahli menekankan bahwa anak di bawah dua tahun membutuhkan pengalaman nyata untuk belajar.
 
Bermain balok, mendengar cerita, bernyanyi, hingga sekadar diajak berbicara merupakan bentuk stimulasi yang jauh lebih bermanfaat dibandingkan menonton video.
 
Aktivitas sederhana tersebut membantu perkembangan bahasa, motorik, emosi, dan kemampuan sosial anak secara seimbang.
 
Peringatan dokter ini menuai beragam komentar dari netizen. Banyak orang tua mengaku mulai menyadari dampak penggunaan gadget yang terlalu dini.
 
Baca Juga: ADK DPR RI Undang Orangtua Remaja Korban Kamboja Makan Siang di Binjai
 
“Benar sekali. Anak saya dulu sering nonton YouTube, akhirnya telat bicara. Setelah gadget dibatasi, perkembangan bahasanya jauh lebih baik,” tulis seorang warganet.
 
“Kadang gadget memang jadi penyelamat saat anak rewel, tapi kalau dampaknya sebesar ini, harus mulai dikurangi,” komentar netizen lainnya.
 
“Aku memilih bacakan buku dan ajak main. Memang lebih repot, tapi hasilnya terasa,” ujar pengguna media sosial lain.
 
Meski demikian, ada pula yang mengakui bahwa membatasi gadget bukan perkara mudah di era digital.
 
Baca Juga: Reagen Hantavirus Masih Terbatas, Kemenkes Perkuat Sistem Deteksi Dini
 
“Teorinya gampang, praktiknya susah. Apalagi kalau orang tua juga sibuk bekerja,” tulis salah satu netizen.
 
Dokter menekankan bahwa orang tua memegang peran utama dalam membentuk kebiasaan anak.
 
Jika ingin tumbuh kembang optimal, anak membutuhkan kehadiran, perhatian, dan interaksi langsung, bukan sekadar tontonan di layar.
 
Membatasi gadget sejak dini mungkin terasa menantang, tetapi langkah kecil tersebut dapat memberikan manfaat besar bagi perkembangan anak di masa depan.(lin)
 
Deskripsi:
 
 
Tagar:
# #Parenting #GadgetAnak #Balita #TumbuhKembangAnak #KesehatanAnak #StopGadget #TipsOrangtua #TelatBicara #SumutPos
 
Teksfoto: 
Editor : Redaksi
#anak sehat #gadget anak #balita #parenting #tumbuh kembang anak