Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Perkuat Peran Dunia Melayu-Islam di Era Presiden Prabowo, UIN Sumatera Utara Gelar Seminar Internasional

Johan Panjaitan • Senin, 24 November 2025 | 22:27 WIB
PEMBUKAAN: Menteri Agama Nasaruddin Umar (tengah) bersama rektor UIN Sumatera Utara dan narasumber membuka seminar internasional. (Deddi Mulia Purba/Sumut Pos)
PEMBUKAAN: Menteri Agama Nasaruddin Umar (tengah) bersama rektor UIN Sumatera Utara dan narasumber membuka seminar internasional. (Deddi Mulia Purba/Sumut Pos)

Sumutpos.jawapos.com-Sebagai bagian dari perayaan dies natalis ke-52 Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara menggelar International Seminar and Conference of the Malay-Islamic World pada 24-25 November 2025.

Forum ini menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan akademisi internasional dari empat negara. Forum ilmiah ini dalam upaya membaca arah geopolitik pemerintahan Prabowo Subianto dan memperkuat kontribusi dunia Melayu-Islam dalam kancah global.

Nasaruddin Umar selaku Menteri Agama Republik Indonesia memberikan keynote speech sekaligus membuka seminar. Gubsu M Bobby Afif Nasution diwakili Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdaprovsu Basarin Yunus Tanjung turut memberikan sambutan.

Rektor UIN Sumatera Utara Prof Dr Nurhayati MAg menyambut para peserta dari dalam dan luar negeri dalam seminar bertema: Reading the Geopolitical Direction of President Prabowo: Revitalizing the Role of the Malay-Islamic World in the New Global Order.

Secara khusus, seminar berusaha menjawab tantangan terkini seperti konflik global, peran diplomasi Islam-Melayu, dan bagaimana perguruan tinggi Islam dapat ikut menyusun rekomendasi kebijakan luar negeri Indonesia.

Empat UIN terlibat secara kolaboratif yakni UIN Alauddin Makassar, UIN Sumatera Utara Medan, UIN Sunan Ampel Surabaya dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Keempat kampus ini didorong untuk merumuskan policy brief strategis yang akan diserahkan kepada pemerintah sebagai partisipasi akademik terhadap arah diplomasi Presiden Prabowo.

Menteri menekankan bahwa dunia Melayu-Islam harus mengambil peran lebih besar dalam percaturan geopolitik global. Ia menyebut bahwa Asia Tenggara, dengan populasi Muslim yang sangat besar, memiliki potensi sebagai episentrum peradaban Islam. Ia juga mengaitkan inisiatif diplomasi perdamaian yang digagas pemerintah dengan peran kampus sebagai produsen gagasan dan kebijakan berbasis riset.

Pengisi materi dalam konferensi ini berasal dari beberapa negara.
Diantaranya Prof Tatiana Denisova (Universiti Teknologi Malaysia), Prof Sher Banu A Latiff Khan (National University of Singapore), Dr Azmil Tayeb (University of Science Malaysia), Dr Laurent Metzger (University of La Rochelle Prancis), Dr Narong Hassane (University of Fatoni (Thailand) dan Said Aldi Al-Idrus, Presiden Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI).

Narasumber membawakan topik-topik seperti historiografi Melayu, Islam Nusantara, ekonomi syariah global, dan politik linguistik dunia Melayu.

Rektor UIN Sumatera Utara Prof Dr Nurhayati MAg menegaskan bahwa penyelenggaraan konferensi ini mencerminkan komitmen UIN Sumatera Utara untuk menjadi pusat kajian strategis dunia Melayu-Islam serta menjembatani dialog lintas negara.

Prof Dr Nurhayati MAg berharap forum ini memperkaya perspektif geopolitik kawasan, memperkuat solidaritas transnasional serta membuka ruang kolaborasi baru antara institusi akademik, pemerintah dan komunitas Melayu-Islam.

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara melalui Basarin Yunus Tanjung, menyatakan dukungan penuh terhadap kegiatan tersebut. Pemda melihat seminar ini sebagai bagian dari upaya memperkuat kontribusi pendidikan tinggi terhadap posisi Indonesia di panggung internasional.

Seminar ini juga memosisikan Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo sebagai aktor aktif dalam diplomasi perdamaian global, khususnya terkait isu Palestina. Menteri Nasaruddin mengingatkan bahwa pernyataan Presiden Prabowo di Sidang Umum PBB telah memicu resonansi luas dan menjadi momentum bagi kampus untuk menerjemahkan gagasan tersebut secara sistematis ke dalam kebijakan.

Dengan tambahan konteks perayaan Dies Natalis ke-52 UIN Sumatera Utara kegiatan ini menjadi dua lapis penting. Perayaan internal kampus sekaligus partisipasi aktif dalam percaturan geopolitik global.

Sebagai universitas yang berlokasi di Medan, UIN Sumatera Utara mendapat peluang untuk menjadi gerbang ide dan kajian bagi kawasan Melayu-Islam, yang secara historis memiliki jaringan budaya dan intelektual luas.

Kedepan, rekomendasi yang dihasilkan dari forum ini akan dirangkum dalam policy brief dan diharapkan menjadi acuan kebijakan bagi kementerian agama, kementerian luar negeri dan lembaga negara lainnya. Upaya ini menunjukkan bahwa pendidikan tinggi Islam tidak hanya sebagai penghantar lulusan, tetapi juga sebagai garda pemikiran strategis dalam era yang terus berubah.

Secara keseluruhan, seminar ini menggambarkan sinergi antara institusi akademik, pemerintah dan aktor global dalam menghadapi tantangan geopolitik, sekaligus mengangkat kembali identitas dunia Melayu-Islam sebagai pemain intelektual dan diplomatik dalam tatanan dunia baru.

Sedangkan untuk kampus UIN Sumatera Utara, momen dies natalis ke-52 tahun ini menjadi titik kebangkitan baru dalam memperkuat reputasi nasional dan internasional. (dmp)

Editor : Johan Panjaitan
#UIN Sumatera Utara #tokoh nasional #Dunia Melayu #Dies Natalis #seminar