Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Tanoto Foundation Dorong Penguatan Pengasuhan Anak Usia Dini di Pakpak Bharat

Redaksi • Selasa, 25 November 2025 | 17:12 WIB
BERSAMA: Kepala Puskesmas, kepala desa, kader TPK dan bindes, serta warga penerima manfaat program pendampingan dari Tanoto Foundation.(Rudi Sitanggang/Sumut Pos )
BERSAMA: Kepala Puskesmas, kepala desa, kader TPK dan bindes, serta warga penerima manfaat program pendampingan dari Tanoto Foundation.(Rudi Sitanggang/Sumut Pos )

Perhatian pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan anak sangat penting karena pada tahap ini terjadi pertumbuhan lebih 80 persen sel otak yang menentukan kecerdasan dan tumbuh kembangnya. Sayangnya, kesadaran masyarakat masih rendah. Hal ini berpotensi menimbulkan berbagai gangguan kesehatan dan tumbuh kembang anak. Di Kabupaten Pakpak Bharat, Sumatera Utara, dengan intervensi yang dilakukan lembaga Filantropi Tanoto Foundation, masyarakat dapat memperbaiki pola pengasuhan dan perubahan perilaku. Ini berdampak signifikan, satu di antaranya menekan angka stunting di daerah ini. Seperti apa?

Asih Astuti-Rudi Sitanggang, Pakpak Bharat

Siang itu, kepala Puskesmas, bidan desa, kepala desa beserta kader Tim Pendamping Keluarga (TPK) berkesempatan mengunjungi seorang warganya di Dusun 2 Desa Kuta Meriah, Kecamatan Kerajaan, Kabupaten Pakpak Bharat, Rosmianti Tinendung (40). Selain bersilaturahim, kunjungan ini merupakan kunjungan rutin dalam upaya memberi edukasi serta pendampingan kepada warga desa terkait pola pengasuhan dan perubahan perilaku hidup sehat dan bersih untuk mendukung tumbuh kembang anak khususnya anak usia dini di desa ini.

Tim mengaku senang melihat pertumbuhan buah hati Rosmianti yang berusia 5 bulan tersebut tampak sehat dan lincah. Rosmianti adalah seorang warga yang mendapat pendampingan dari tim kader desa. Secara rutin Rosmianti mendapat edukasi baik dalam hal pemenuhan nutrisi keluarga, pemberian ASI yang tepat, penyediaan makanan yang benar, perhatian terhadap sanitasi lingkungan hingga tindakan yang dapat menstimulasi perkembangan anak.

Rosmianti mengaku, mendapat pendampingan dari bindes dan kader TPK mulai dari hamil, hingga usia anaknya Enmo Risky Sagala saat ini lima bulan. "Edukasi serta pendampingan bindes dan TPK sangat bermanfaat. Saya jadi banyak tau cara mengasuh anak dengan baik," ucapnya saat ditemui Sumut Pos di kediamannya, Rabu (12/11).

Upaya perubahan perilaku ini salah satunya untuk menekan prevalensi stunting di daerah ini. Seperti diketahui, stunting tidak hanya terkait dengan nutrisi, tetapi juga soal kesadaran dan kepedulian terhadap prilaku dan pola pengasuhan yang seharusnya mendapat perhatian bahkan sebelum calon ibu hamil dan menikah.

Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 dan Survei Status Gizi Indonesia tahun 2024, menunjukkan, 95 persen perempuan di Indonesia kurang makan daging, sayur dan buah. Akhirnya 28 persen mengalami anemia. Hanya 66 persen ibu yang memberikan ASI ekslusif di 6 bulan pertama dan baru 65 persen anak di bawah lima tahun yang mencapai target pertumbuhan. Sementara 17,7 persen mengalami malnutrisi. Kemudian 19,8 persen anak-anak di bawah usia lima tahun ini masih disebut stunting.

Di Sumut sendiri, salah satu daerah yang menjadi perhatian terhadap stunting adalah Pakpak Bharat. Pada 2023, stunting di daerah ini terbilang tinggi, melebihi angka nasional yakni 28.90 persen. Desa Menjanggut 1 Kecamatan Kerajaan mencatat angka tertinggi, yaitu 42 persen, Sementara Kuta Meriah memiliki prevalensi stunting 28 persen. Untuk menekan angka ini, Pemda Pakpak Bharat melibatkan mitra pembangunan dari swasta. Salah satu mitra yang berkontribusi adalah Tanoto Foundation.

Project Management Unit Coordinator Tanoto Foundation Sumut Felly Ardan mengatakan, dalam program penurunan stunting di Pakpak Bharat, Tanoto Foundation melakukan pendampingan/pemberdayaan kader dan perangkat desa. Fokusnya pada perubahan perilaku terkait pola makan, pola asuh, hidup bersih dan sehat.

"Kita berfokus pada penguatan kapasitas dan keterampilan Komunikasi Perubahan Perilaku (KPP) Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) dan Tim Pendamping Keluarga (TPK) di tingkat daerah dan desa," ujarnya.
Lewat projeck ini Tanoto Foundation juga mendorong kemampuan advokasi di tingkat lokal agar perencanaan dan penganggaran desa lebih berpihak pada percepatan penurunan stunting.

"Jadi pelatihan yang kita berikan menjadi dasar bagi tim kader untuk melakukan edukasi," katanya. Untuk 2025 ini, lanjut Felly, selain stunting, program kedua adalah program pengembangan anak usia dini.

"Terkait dengan pola asuh, orang tua dilatih, diedukasi tentang parenting, bagaimana perlindungan terhadap anak. Bagaimana juga pemeliharaan dari penyakit, stimulusnya seperti apa pada tahapan usia," tuturnya.

Regional Lead Tanoto Foundation Sumatera Utara Medi Yusva menjelaskan, pilot project pengembangan anak usia dini ini bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Program ini memanfaatkan fasilitas layanan kesehatan primer sebagai pusat kegiatan stimulasi anak usia dini yang disebut dengan project Early Stimulation in PRImary Health Service INteGration (SPRING). Project SPRING menyasar anak usia 0 6 tahun. Hal ini sejalan dengan dengan semangat program SIGAP Tanoto Foundation.

"Pilot project SPRING akan diimplementasikan di Kabupaten Pakpak Bharat pada periode 2025 2026, sebagai bagian dari upaya integrasi layanan stimulasi dini di fasilitas kesehatan dasar," papar Medi.

Kegiatan program pendampingan teknis Percepatan Penurunan Stunting di Kabupaten Pakpak Bharat yang digelar Tanoto Foundation bersama Pemkab Pakpak Bharat. (foto ; Dok Tanoto Foundation)
Kegiatan program pendampingan teknis Percepatan Penurunan Stunting di Kabupaten Pakpak Bharat yang digelar Tanoto Foundation bersama Pemkab Pakpak Bharat. (foto ; Dok Tanoto Foundation)

Program di Pakpak Bharat telah berdampak ke masyarakat. Bidan Desa Kuta Meriah, Marhenni Tarigan dan Kader Tim Pendamping Keluarga (TPK), Derhana Banurea menyatakan, setelah mengikuti pelatihan dari Tanoto Foundation, mereka mendapat tambahan pengetahuan.

"Saya lebih memahami tugas-tugas sebagai kader TPK, dan lebih mendekat dalam melaksanakan aksi komunikasi perubahan perilaku (KPP) kepada masyarakat termasuk dalam pencegahan stunting," tutur Derhana.

Marhenni menambahkan, ilmu yang didapat langsung dipraktekkan kepada masyarakat khususnya ibu-ibu di Desa Kuta Meriah. "Kepedulian kaum ibu terkait perilaku pola asuh, hidup bersih dan sehat di Desa Kuta Meriah mengalami perubahan.

Misalnya, dari segi kebersihan mereka saat ini lebih peduli. Selanjutnya, kami juga mengedukasi ibu-ibu cara pengolahan makanan bergizi yang ada di sekitar lingkungan. Kami menggerakkan ibu-ibu menanam sayur di setiap pekarangan rumah sebagai sumber makanan bergizi dan sehat," kata Marhenni.

Data yang diperoleh dari Kepala Desa Kuta Meriah Kecamatan Kerajaan, Candra Sitakar, jumlah masyarakat Desa Kuta Meriah sebanyak 252 kepala keluarga (KK) yang mayoritas adalah petani. Terdata, hingga bulan November 2025 ini, jumlah bayi di bawah lima tahun (balita) di Desa Kuta Meriah ada sebanyak 58 jiwa.

Kepala Puskesmas Sukaramai Kecamatan Kerajaan, Nurmaya Sihite SKM mengatakan, literasi masyarakat di wilayah Puskesmas Kerajaan terkait pola pengasuhan anak usia dini secara umum memang masih tergolong rendah. Tantangannya selama ini seperti tingkat pendidikan, status sosial ekonomi dan budaya atau tradisi yang masih diterapkan.

"Karenanya ada beberapa kebiasaan yang mesti diubah. Misalnya, perubahan dari pengasuhan yang tidak terlibat menjadi lebih terlibat, mengganti kebiasaan membentak dengan kesabaran dan pengertian. Kita juga melakukan deteksi dini kepada Ibu hamil resiko tinggi dan lain-lain," paparnya didampingi Listra Siregar, nutrisionis.

Dikatakan Nurmaya, program yang dijalankan Tanoto Foundation di wilayah Puskesmas Sukaramai sangat membantu program kerja Puskesmas Sukaramai.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pakpak Bharat dr Tomas mengapresiasi kerja sama dengan Tanoto Foundation. Disebutkan dr Tomas, kerja sama Pemkab Pakpak Bharat dengan Tanoto Foundation ini, memberi dampak signifikan. Terutama dalam penurunan stunting.

Baca Juga: Ops Zebra Toba 2025, Sat Lantas Polres Labuhanbatu Beri Teguran Tertulis kepada Pelanggar

Pada 2024, dua desa binaan Tanoto Foundation, Desa Majanggut I dan Kuta Meriah mengalami penurunan prevalensi stunting. Desa Majanggut I: prevalensi stunting per November tercatat 15,80 persen. Angka ini turun 26,70 persen dari 42,50 persen di 2023. Kuta Meriah prevalensi stunting 15 persen, turun 13 persen dari 28 persen di 2023. Sinergi ini diharapkan tetap berkesinambungan termasuk dalam program pengembangan anak usia dini yang mulai berjalan pada 2025 ini.

Berbicara pengasuhan dan pengembangan anak usia dini, saat ini di dunia, anak-anak, khususnya anak di usia dini sangat kehilangan kesempatan untuk belajar dan berkembang di usia dini. Di Indonesia, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak 2023 merilis, empat dari 100 anak usia dini pernah mendapatkan pengasuhan tidak layak. Tantangan inilah yang mendasari Tanoto Foundation mulai fokus pada parenting dan stimulasi dini. Salah satunya dengan program SIGAP (Siapkan Generasi Anak Berprestasi) yang merupakan inisiatif Tanoto Foundation di bidang pengembangan anak usia dini. Mendukung ini, Tanoto Foundation juga menghadirkan Rumah Anak SIGAP yakni pusat layanan pengasuhan dan pembelajaran dini untuk anak usia 0-3 tahun.

"Kita ingin meningkatkan kualitas pengasuhan atau kualitas orang tua. Ini dapat menciptakan sebuah lingkungan yang mendukung perkembangan seorang anak," ujar Head of Early Childhood Education and Development (ECED) Tanoto Foundation, Michael Susanto. Dikatakan Michael, mengambil data dari sejumlah Rumah Anak SIGAP yang ada, Tanoto Foundation melihat, 57 persen dari anak-anak di umur 0-3 memiliki risiko tidak mencapai potensi sepenuhnya. Karena hampir satu per tiga dari anak-anak di Indonesia itu hidup di dalam lingkungan di mana parentingnya itu kualitasnya tidak baik. Karena itu, dengan programnya, Tanoto Foundation berharap setiap anak perkembangannya itu on track, baik itu kognitif, sosial emosional, motorik, maupun komunikasinya, Dan yang utama, perubahan pola pengasuhan itu terjadinya di rumah.

"Jadi, orang tua bukan sekedar membawa anaknya ke Rumah Anak SIGAP, tapi caregiving practices-nya itu berubah sampai ke rumah," jelas Michael.
Sampai 2024, untuk program SIGAP, Tanoto Foundation telah bermitra dengan 81 kabupaten di Indonesia dengan 75.238 anak usia 0-3 tahun terdampak dan 134.388 orang tua terdampak. Tanoto Foundation didirikan oleh Sukanto Tanoto dan Tinah Bingei Tanoto pada 1981 silam, yang berfokus pada pendidikan dan kesehatan. Selain menyentuh program pegembangan Anak Usia Dini, Tanoto Foundation juga memiliki program untuk Pendidikan Sekolah Dasar dan juga Perguruan Tinggi. (*)

 

Editor : Redaksi
#Tanoto Fondation