Sumutpos.jawapos.com-Suasana haru mewarnai tasyakuran wisuda doktor Dr. H. Muhammad Daud Siagian, M.A Gr di Yayasan Pusat Pendidikan Addaudy Jalan Brigjen Bejo Pulobrayan Medan, Jumat (8/5). Selain aktif sebagai mubaligh dan penggerak pendidikan Al-Quran, Dr. H. Muhammad Daud Siagian, M.A Gr merupakan dosen di FDK UIN Sumatera Utara dan kepala Sentra Layanan Universitas Terbuka (Salut) Abatasa Medan.
Dibalik pencapaian gelar strata-3 yang diraih dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara pada 7 Mei 2026 terungkap suatu kisah pilu dan tekad membara dari Dr. H. Muhammad Daud Siagian, M.A Gr. Diusia 13 tahun, ia sudah menjadi anak yatim dengan sepuluh bersaudara. Ia nyaris tak bisa menamatkan pendidikan madrasah tsanawiyah karena belum membayar uang sekolah senilai Rp.9 ribu.
Muhammad Daud Siagian merupakan alumni ke-163 UIN Sumatera Utara angkatan wisuda ke 88 pada 7 Mei 2026. Ia berasal dari Ujung Padang, Kecamatan Aek Natas, Kabupaten Labuhanbatu Utara ini nekat mengambil rambutan orang lain agar bisa membiayai uang sekolah.
Takut dimarahi sang ibu yang berjualan goreng pisang karena mengambil rambutan yang belum terjual, Muhammad Daud pun tak berani pulang ke rumah.
Ia pergi keluar kampung ke Aek Natas. Pernah menjadi tukang cuci piring penjual lontong, agar dapat dikasih makan gratis. Setelah itu ia pun 'merantau' di Aek Kanopan dan disana membantu penjual nasi juga agar dapat dikasih makan gratis.
'Perantauan' terus berlanjut ke Tanjungbalai jadi penarik becak. Selama dua pekan menarik becak, ia berhasil mengumpulkan uang Rp.9 ribu, lalu kembali ke rumah hingga dapat mengikuti ujian madrasah.
Setelah lulus tsanawiyah, Muhammad Daud Siagian pun memilih sekolah aliyah di Tanjungbalai sembari menarik becak selama tiga tahun hingga menamatkan pendidikannya.
Kemudian ia pun lulus di IAIN Medan dan selama tiga malam tidur di masjid kampus. Lalu berpindah ke musala Jalan Utama Medan. Saat jadi mahasiswa, ia pun berdagang buku di Masjid Al-Ikhlas Jalan Timor Medan. Namun karena buku terkena hujan, ia pun tak lagi berdagang buku.
Tak lama berselang, ia pun menjadi penarik gerobak sampah di Pusat Pasar Sambu Jalan Bintang Medan. Kemudian kembali menarik becak. Namun, ia belakangan kena penertiban. Butuh 8 tahun, 3 bulan dan 10 hari, ia berjuang menjadi sarjana dari fakultas dakwah tersebut.
Kehidupan barunya dilalui dengan ngekost di Pulobrayan sembari jaga parkir hingga tengah malam. Jadi juru parkir digelutinya selama hampir empat tahun. Setelah itu, ia memilih berjualan koran, jual es dan jual roti. Ia pun sering dipanggil dengan sebutan 'Bule'.
Sesuai targetnya, ia pun menikah di usia 25 tahun. Sempat dekat dengan tujuh perempuan, namun pihak keluarganya tak memberi restu. Para orangtua khawatir tentang masa depan putri mereka.
Baca Juga: 2.000 Sivitas Akademika USM Indonesia Ikuti Cek Kesehatan Gratis yang Ditangani Empat Puskesmas
Rupanya, Sujanna Astuti Siregar, S.Pd, AUD, M.Psi berbeda dengan tujuh perempuan yang pernah dekat Muhammad Daud Siagian. Setelah berpacaran selama enam bulan, Sujanna Astuti Siregar yang berasal dari Pematangsiantar pun menerima untuk menjadi istri, bagaimanapun kondisi Muhammad Daud Siagian. Mereka bersua pertama kali saat bersamaan ikut sebuah pelatihan. Setelah mendapat restu kedua keluarga mereka menikah pada November 1995.
Dua anak yang lahir dan besar di Masjid Al-Jihad. Kehamilan istri hingga berusia tiga bulan, tidur tanpa tilam karena keterbatasan biaya. Saat ini, Muhammad Daud Siagian bersama istri memiliki empat anak yakni Adam Brayans Mujtahid Ad-Daudy, Miftahuljannah Ad-Daudy, Salsabillah Jannah Ad-Daudy dan Azza Ghina Jannah Ad-Daudy serta seorang cucu yakni Ashila Aghnia Humaira Siagian.
Keinginan untuk untuk melanjutkan kuliah jenjang magister terus membara. Tahun 2001, ia menjadi mahasiswa di University Putra Malaysia di fakulti pendidikan. Dapat beasiswa, tapi hanya satu semester karena nilai akademisnya tak memenuhi standar minimal. Lalu ia terus berupaya hingga tamat S2.
Karena pendidikan S2 tak linear dengan pendidikan S2, Muhammad Daud Siagian kembali kuliah S2 Komunikasi Islam di Pascasarjana IAIN Sumut tahun 2008 hingga 2013. Ia pun terus lanjut pendidikan S3 di tahun 2013 tersebut. Namun karena kesibukan diluar kampus, doktornya baru selesai tahun 2026.
Kesibukannya antara lain pada tahun 2014, pernah menjadi calon legislatif, namun ia tak berhasil. Tahun 2015, ia mendapat amanah memimpin sebuah perusahaan milik temannya dari Malaysia hingga ditugaskan keliling Indonesia dan sejumlah negara. Saat ini rezeki keluarga turut meningkat.
Tahun 2019, kembali mendapat dorongan teman agar menjadi calon legislatif. Lagi-lagi, Muhammad Daud Siagian tak berhasil menjadi wakil rakyat di parlemen. Saat Covid-19 tahun 2020, perusahaan Malaysia tadi pun 'gulung tikar'.
Lewat opsi 're-NIM', Muhammad Daud Siagian yang nyaris di-DO, ia dapat melanjutkan kuliah doktornya. Satu sosok yang menginspirasi Dr. H. Muhammad Daud Siagian, M.A Gr untuk terus kuliah hingga jenjang tertinggi adalah H. Syamsul Arifin, S.E yang pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Langkat, bupati Langkat dan gubernur Sumut.
"Lanjutkan kuliah, tuliskan tentang Aku nanti," begitu H. Syamsul Arifin, S.E senantiasa memotivasi Muhammad Daud Siagian untuk menyelesaikan kuliah doktoralnya. Ia pun menulis disertasi Komunikasi Politik H. Syamsul Arifin, S.E dalam Membangun Citra Positif di Kalangan Lintas Suku di Sumatera Utara.
Tatkala H. Syamsul Arifin, S.E yang dikenal sebagai 'Sahabat Semua Suku' wafat, Muhammad Daud Siagian pun merasa sangat kehilangan. Ia pun mewawancarai para sahabat H. Syamsul Arifin, S.E untuk menuntaskan disertasi tersebut.
Atas raihan meraih gelar doktor, ia berharap kisahnya dapat menginspirasi generasi penerus bangsa untuk terus belajar, belajar dan belajar walau dengan keterbatasan yang ada. "Perjalanan ini tidak mudah. Kami bukan orang berada, kami tak punya ayah," katanya penuh haru
Muhammad Daud Siagian memiliki motto dan prinsip bahwa jangan mau gagal hanya gara-gara tak ada uang. "Uang bisa dicari, tapi kemauan yang kuatlah modal utama. Jika ada kemauan pasti ada jalan," tegasnya.
Contoh Nyata
Tasyakuran tokoh kelahiran pada 1 Februari 1970 ini dihadiri sejumlah tokoh diantaranya Ketua Badan Pembina Harian Universitas Muslim Nusantara (BPH UMN) Al-Washliyah Assoc. Prof. Dr. KRT H. Hardi Mulyono Surbakti, M.AP, Guru Besar UIN Sumatera Utara Prof. Dr. Hasrat Efendi Samosir, M.A dan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumut H. Farianda Putra Sinnik, S.E. Mereka memberi apresiasi atas perjuangan Dr. H. Muhammad Daud Siagian, M.A Gr meraih gelar doktor.
Assoc. Prof. Dr. KRT H. Hardi Mulyono Surbakti, M.AP (sahabat dekat H. Syamsul Arifin, S.E) dan Prof. Dr. Hasrat Efendi Samosir, M.A (dua penguji penguji eksternal dan internal sidang terbuka promosi doktor).
Turut hadir pada kegiatan tasyakuran tersebut, H. Farianda Putra Sinnik, S.E (mewakili narasumber etnis Minang), Guru Besar Universitas Medan Area (UMA) Prof. Dr. Taufik Siregar, M.Hum, Wakil Dekan Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumatera Utara Dr. Abdul Karim Batubara, M.A, mantan Anggota DPRD Medan Herri Zulkarnain Hutajulu, lurah Polubrayan, pimpinan dan anggota perwiridan, keluarga serta undangan lainnya.
Dr. KRT. H. Hardi Mulyono K Surbakti, M.AP selaku penguji eksternal promosi doktor sekaligus orang dekat almarhum H. Syamsul Arifin, S.E mengutarakan bahwa perjalanan hidup Dr. H. Muhammad Daud Siagian, M.A, Gr dari seorang penarik becak hingga meraih gelar doktor disebut sebagai contoh nyata kekuatan rasa syukur dalam kehidupan.
Ketua BPH UMN Al-Washliyah mengatakan bahwa kehidupan Dr. H. Muhammad Daud Siagian, M.A, Gr penuh dengan perjuangan dan keterbatasan. Namun, kesabaran dan rasa syukur membuat kehidupannya berubah hingga akhirnya berhasil menyandang gelar doktor. "Karena kesabaran dan rasa syukur, Allah angkat derajat mereka sampai hari ini,” katanya.
Baca Juga: Terangi Rumah Ibu Atik, PLN Sumut Hadirkan Harapan Lewat Program Light Up The Dream
Rektor UMN Al-Washliyah periode 2018-2023 mendukung penelitian disertasi yang mengangkat tema komunikasi politik almarhum H. Syamsul Arifin. "Saat sidang promosi doktor, saya banyak bertanya tentang Syamsul Arifin. Ternyata beliau mengetahui hal-hal yang bahkan lebih detail dari saya. Disitu saya melihat penelitian ini dilakukan dengan sangat serius," ujarnya.
Dr. KRT. H. Hardi Mulyono K Surbakti, M.AP menilai perjalanan hidup Daud sendiri layak dijadikan karya ilmiah atau penelitian akademik. "Perjalanan hidup Dr. H. Muhammad Daud Siagian, M.A, Gr juga sangat layak diangkat menjadi disertasi. Kisah perjuangannya luar biasa," katanya.
Ketua PWI Sumut H. Farianda Putra Sinik, S.E terharu mendengar kisah hidup Dr. H. Muhammad Daud Siagian, M.A, Gr. "Kehidupan saya mungkin cukup, tapi hanya sampai S1. Sementara Daud, dari tukang becak dan tukang parkir bisa sampai S3. Itu sesuatu yang sangat luar biasa,” ujarnya. (dmp)
Editor : Johan Panjaitan