Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Program Akselerasi SD Percobaan Tuai Polemik Plt Kepala Sekolah Tegaskan Hanya Menunggu Regulasi Baru

Johan Panjaitan • Senin, 13 Juli 2026 | 10:30 WIB
SD Negeri Percobaan Pembina di Jalan Sei Petani, Medan. (dok Pribadi)
SD Negeri Percobaan Pembina di Jalan Sei Petani, Medan. (dok Pribadi)

 

MEDAN, Sumutpos.jawapos.com – Rencana penghentian penerimaan siswa baru pada program akselerasi di SD Percobaan, Jalan Sei Petani, Medan, memicu keberatan dari sejumlah orangtua murid. Mereka menilai kebijakan tersebut berpotensi menghilangkan salah satu program unggulan yang selama ini menjadi ciri khas sekolah.

Polemik mencuat setelah Plt Kepala SD Percobaan, Ermansyah Lubis, yang baru sekitar setahun memimpin sekolah, memutuskan untuk tidak melanjutkan pelaksanaan program akselerasi bagi siswa berkemampuan akademik tinggi.

Keputusan itu menuai protes karena dinilai diambil tanpa terlebih dahulu melibatkan orangtua siswa dalam proses pembahasannya.

Salah seorang orangtua murid mengungkapkan, sedikitnya 26 siswa telah mengikuti proses penjaringan sejak kelas II dan dinyatakan memenuhi kriteria untuk mengikuti program percepatan belajar tersebut.

"Kami keberatan jika program akselerasi dihilangkan. Anak-anak sudah melalui proses seleksi sejak kelas dua dan dinilai mampu mengikuti program ini," ujarnya, Jumat (10/7).

Baca Juga: KPK Didesak Ambil Alih Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Penanganan Kejagung Dinilai Rawan Konflik Kepentingan

Menurutnya, selama bertahun-tahun program akselerasi telah menjadi identitas SD Percobaan. Bahkan, banyak alumninya yang berhasil menyelesaikan pendidikan lebih cepat dan kini telah menempuh pendidikan tinggi.

Ia menilai, tanpa program tersebut, keunggulan SD Percobaan akan sulit dibedakan dari sekolah dasar negeri lainnya.

"Kalau program akselerasi dihapus, apa bedanya SD Percobaan dengan sekolah negeri biasa? Justru program inilah yang menjadi nilai lebih sekolah ini dan menjadi alasan kami menyekolahkan anak di sini," katanya.

Para orangtua juga mengaku khawatir penghapusan kelas akselerasi akan berdampak terhadap perkembangan akademik maupun psikologis siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata.

Menurut mereka, kebutuhan belajar anak-anak berbakat semestinya mendapatkan ruang yang sesuai agar potensi yang dimiliki dapat berkembang secara optimal.

"Kami khawatir anak-anak yang memiliki kemampuan akademik tinggi tidak lagi memperoleh layanan pembelajaran yang sesuai karena harus diseragamkan dengan siswa lain," ujarnya.

Baca Juga: Bangun Desa Cerdas, Universitas Amir Hamzah Terapkan Smart Energy untuk UMKM

Mereka berharap kebijakan tersebut dapat ditinjau kembali dan program akselerasi tetap dipertahankan.

Sekolah: Bukan Dihapus, Menunggu Regulasi

Menanggapi keberatan tersebut, Plt Kepala SD Percobaan Ermansyah Lubis menegaskan bahwa pihak sekolah tidak menghapus program akselerasi, melainkan menunggu kepastian regulasi terbaru dari pemerintah.

Menurutnya, perubahan kebijakan mengacu pada ketentuan pendidikan yang berlaku, termasuk Permendikbud Nomor 12 Tahun 2024, yang disebut tidak lagi mengatur pelaksanaan kelas akselerasi sebagaimana regulasi sebelumnya.

"Sebenarnya saya tidak menghapus program akselerasi. Kami hanya menunggu regulasi terbaru. Dalam aturan yang sekarang belum ada nomenklatur yang mengatur pelaksanaannya seperti sebelumnya," jelas Ermansyah.

Ia menambahkan, peserta didik dengan kemampuan istimewa tetap memperoleh layanan khusus. Hanya saja, pendekatannya dilakukan secara individual, bukan melalui pembentukan kelas akselerasi.

"Anak-anak yang memiliki kemampuan khusus tetap bisa diakomodasi, tetapi prosesnya secara personal, bukan lagi dalam bentuk kelas khusus," katanya.

Ermansyah juga mengungkapkan bahwa selama ini terdapat sejumlah evaluasi terhadap pelaksanaan kelas akselerasi. Salah satunya berkaitan dengan munculnya kesan eksklusivitas di lingkungan sekolah.

Baca Juga: Meski Dikepung Konflik, Warga Tetap Nobar Piala Dunia

"Saya melihat ada sisi lain dari program akselerasi, yaitu munculnya eksklusivitas di kalangan siswa. Selain itu, pengembangannya juga cukup sulit karena kurang bersifat inklusif," ujarnya.

Meski demikian, ia memastikan sekolah tetap berkomitmen memberikan layanan pendidikan terbaik bagi seluruh peserta didik, termasuk siswa yang memiliki kemampuan akademik di atas rata-rata.(rel/han)

Editor : Johan Panjaitan
sd percobaan regulasi akselerasi program