
Bagi Stephanie Dinda, isu lingkungan tidak berhenti pada pembicaraan tentang perubahan iklim atau energi terbarukan. Ada pertanyaan lain yang menurutnya tak kalah penting: siapa yang mendapat kesempatan untuk memahami, terlibat, dan ikut menentukan masa depan lingkungan?
Pertanyaan itu membawanya dari Jakarta ke Medan, Sumatera Utara. Di kota yang jauh dari tempat ia tumbuh dan belajar, Stephanie—yang akrab disapa Stevi—mencoba memperkenalkan pendidikan lingkungan yang tidak hanya berbicara tentang keberlanjutan, tetapi juga membuka ruang bagi perspektif gender dan partisipasi anak muda.
Perjalanan tersebut berawal dari keresahan yang tumbuh sejak masa kuliah. Sebagai lulusan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Stevi banyak bersinggungan dengan isu politik ekonomi, lingkungan, serta tata kelola sumber daya alam. Dari sana, ia melihat bahwa persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya melalui kebijakan atau intervensi sesaat. Perubahan membutuhkan ekosistem yang memungkinkan masyarakat memahami persoalan, terlibat dalam prosesnya, dan memiliki ruang untuk mengambil tindakan.
Baca Juga: The Citizens Rombak Lini Tengah Rp4,5 Triliun, Enzo Fernandez Jadi Pembelian Termahal
Pemikiran itu kemudian ia bawa ke berbagai kegiatan bersama komunitas anak muda. Bersama sejumlah rekan, Stevi pernah menginisiasi Greeneighbour Indonesia, sebuah komunitas yang bergerak dalam advokasi isu iklim dan transisi energi. Pengalamannya beragam. Ia pernah terlibat dalam inisiatif pemasangan panel surya pada perahu nelayan di Jakarta Utara hingga menyusun kurikulum pelatihan policy advocacy bagi anak muda.
Namun, perjalanan Stevi kemudian membawanya ke medan yang berbeda, secara harfiah maupun sosial.
Mencari Ruang Perubahan di Medan
Pada 2025, Stevi bergabung sebagai salah satu Tanoto Fellow dalam Tanoto Foundation Fellowship Programme. Program ini adalah program pengembangan kepemimpinan berdurasi satu tahun penuh (full-time) bagi profesional muda atau lulusan baru (early-career professionals) berusia maksimal 26 tahun yang bertujuan melahirkan pemimpin masa depan yang mampu merancang dan menerapkan inisiatif berdampak nyata, khususnya di bidang pendidikan dan pembangunan sosial
Melalui program tersebut, ia mendapat kesempatan untuk mengembangkan inisiatif sosial bersama rekan sesama Fellow, Arief. Keduanya melihat adanya peluang untuk memperluas pembelajaran lingkungan di kalangan pelajar di Medan, khususnya dengan pendekatan yang lebih inklusif dan partisipatif.
Dari gagasan tersebut lahirlah SAFE (Student Action for Environment), sebuah proyek yang dirancang untuk mendekatkan isu pendidikan hijau kepada komunitas sekolah.
Alih-alih menempatkan siswa sebagai penerima informasi, SAFE mencoba menjadikan mereka bagian dari proses pembelajaran. Isu lingkungan diperkenalkan melalui aktivitas yang memungkinkan siswa berdiskusi, bereksperimen, membuat karya, sekaligus menghubungkan persoalan lingkungan dengan kehidupan sehari-hari.
Program ini kemudian dilaksanakan bersama dua sekolah di Medan, SMA Sultan Iskandar Muda dan SMA Dr. Wahidin Sudirohusodo. Sebanyak 101 siswa berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan tersebut. Mayoritas peserta merupakan perempuan, yang sekaligus memberi ruang lebih besar bagi mereka untuk terlibat dalam pembicaraan mengenai lingkungan dan masa depan pekerjaan hijau.
Dari Energi Terbarukan hingga Sampah
Pada tahap awal, peserta diperkenalkan pada isu transisi energi dan green jobs. Materi tidak hanya disampaikan melalui paparan, tetapi dikemas dalam diskusi panel, permainan amazing race, dan simulasi instalasi teknologi energi terbarukan menggunakan miniatur yang dapat dirakit dan dibongkar kembali. Pendekatan tersebut sengaja dibuat lebih dekat dengan pengalaman siswa.
Pada tahap berikutnya, perhatian beralih pada persoalan pengelolaan sampah berkelanjutan. Siswa diajak memahami hubungan antara persoalan lingkungan dan gender sebelum kemudian mengembangkan gagasan kampanye mereka sendiri.
Salah satu bentuknya adalah Zine Craft, media advokasi berbasis seni yang memanfaatkan barang bekas dan sampah kering. Melalui medium tersebut, siswa tidak hanya belajar mengenai sampah sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga berlatih menyampaikan gagasan kepada orang lain.
Bagi Stevi, proses tersebut penting karena pendidikan lingkungan tidak cukup berhenti pada bertambahnya pengetahuan. “Saya belajar bahwa pendekatan Behaviour Change Communication (BCC) bukan hanya soal bagaimana kita menyampaikan pesan, tetapi bagaimana membangun kesadaran dan mengubah perilaku melalui komunikasi yang relevan, partisipatif, dan sesuai dengan konteks lokal,” kata Stevi.
Pemahaman itu muncul dari pengalaman langsung berhadapan dengan siswa, sekolah, dan berbagai pemangku kepentingan di lapangan.
Dalam pelaksanaannya, SAFE juga mempertemukan para siswa dengan sejumlah organisasi dan komunitas, antara lain Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sumatera Utara, komunitas literasi Medan Book Party, Society of Renewable Energy Universitas Sumatera Utara, PT Roda Hijau, Forum Anak, SOS Children’s Village, serta sejumlah sekolah mitra Adiwiyata.
Baca Juga: Harlah Kejaksaan ke-81, Kejari Palas Tegaskan Komitmen Penegakan Hukum Berintegritas dan Humanis
Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan lingkungan tidak berdiri sendiri. Sekolah membutuhkan dukungan komunitas, pemerintah, dunia usaha, dan anak muda agar pembelajaran dapat terhubung dengan persoalan nyata di sekitarnya.
Belajar dari Lapangan
Bagi Stevi, pengalaman di Medan pada akhirnya bukan hanya tentang menjalankan sebuah proyek sosial.
Melalui Tanoto Foundation Fellowship Programme, ia memperoleh kesempatan untuk belajar dengan cara yang berbeda: merancang program, berinteraksi dengan siswa dan sekolah, membangun kolaborasi, menghadapi dinamika di lapangan, kemudian mengevaluasi hasilnya.
Pengalaman tersebut sekaligus mengubah cara pandangnya mengenai kepemimpinan. Di ruang kelas, sebuah gagasan dapat terlihat sederhana. Namun ketika diterapkan di lapangan, konteks sosial, karakter peserta, kebutuhan sekolah, hingga cara berkomunikasi dapat menentukan apakah gagasan tersebut diterima atau tidak.
Karena itu, menurut Stevi, mendengarkan menjadi bagian penting dari proses perubahan.
Ia belajar bahwa anak dan remaja bukan sekadar kelompok sasaran yang harus menerima pesan. Mereka memiliki pengalaman, perspektif, dan gagasan yang dapat menjadi bagian dari solusi.
Pemikiran tersebut juga menjadi alasan mengapa isu gender ia tempatkan dalam proyek pendidikan lingkungan yang dijalankannya.
Perubahan lingkungan pada akhirnya bukan hanya persoalan teknologi. Ia juga berkaitan dengan siapa yang memiliki akses terhadap pengetahuan, siapa yang dapat berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, dan siapa yang memperoleh kesempatan untuk mengambil peran dalam ekonomi hijau yang sedang berkembang.
Dari Medan untuk Perjalanan Berikutnya
SAFE mungkin bermula dari dua sekolah dan 101 siswa. Namun bagi Stevi, nilai sebuah proyek tidak semata-mata diukur dari jumlah peserta atau banyaknya kegiatan yang terlaksana.
Yang lebih penting adalah apakah pengalaman tersebut meninggalkan cara berpikir baru yang dapat dibawa pulang oleh para peserta. Begitu pula dengan dirinya.
Perjalanan ke Medan memberinya pelajaran bahwa perubahan sosial membutuhkan lebih dari sekadar gagasan yang baik. Ia membutuhkan kemampuan untuk memahami konteks, membangun kepercayaan, mendengarkan masyarakat, dan menerjemahkan gagasan menjadi tindakan yang relevan.
Bagi seorang anak muda yang sebelumnya banyak bekerja pada isu kebijakan dan advokasi, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa perubahan juga dibangun dari ruang-ruang yang lebih dekat: sekolah, komunitas, dan percakapan sehari-hari.
Merantau, bagi Stevi, akhirnya bukan sekadar berpindah tempat. Ia menjadi proses untuk belajar dari konteks baru, membangun hubungan, dan meninggalkan sesuatu yang dapat dilanjutkan oleh orang lain.
Dari Jakarta ke Medan, dari ruang kebijakan ke ruang kelas, perjalanan itu mempertemukannya dengan satu pelajaran sederhana: perubahan yang berkelanjutan sering kali tidak dimulai dari langkah yang besar, tetapi dari kemampuan untuk hadir, mendengar, dan mulai bertindak dari lingkungan terdekat. (sih)
Editor : Redaksi