MEDAN, SUMUT POS- Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Sumatera Utara, Muhammad Lokot Nasution, menyatakan kesiapannya untuk kembali maju sebagai calon Ketua DPD Demokrat Sumut dalam proses pemilihan kepengurusan mendatang.
Menurutnya, tidak ada larangan bagi kader yang ingin maju, sepanjang mampu memenuhi seluruh ketentuan organisasi sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Partai Demokrat.
"Di Partai Demokrat ini semuanya berdasarkan demokrasi. Siapa pun boleh mencalonkan diri, tetapi tentu harus mengikuti aturan yang sudah ditetapkan dalam AD/ART partai," ujar Lokot saat memberikan keterangannya di Medan, Selasa (3/11/2026).
Baca Juga: Residivis Pencuri Ban Serap Ditangkap di Medan Maimun
Ia mengatakan, setiap kader yang ingin menjadi pemimpin tidak cukup hanya mengandalkan dukungan internal. Mereka juga harus mampu menunjukkan kualitas, kapasitas, serta kinerja yang dapat dinilai langsung oleh masyarakat.
Lokot menilai, seorang calon ketua harus bisa membuktikan bahwa dirinya merupakan sosok terbaik, baik di lingkungan internal partai maupun di hadapan publik. Sebab, kepercayaan masyarakat menjadi salah satu modal penting dalam membangun kekuatan politik.
"Setiap orang punya kesempatan untuk maju. Tetapi, tentu harus bisa menunjukkan dirinya sebagai yang terbaik dan mendapatkan perhatian serta dukungan dari masyarakat luas," katanya.
Ia mengakui, berbagai persyaratan dan mekanisme pencalonan yang harus dipenuhi membuat tidak semua kader memiliki keberanian untuk maju. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan niatnya untuk kembali mengikuti kontestasi pemilihan Ketua DPD Demokrat Sumut.
Ia mengaku belum dapat berbuat maksimal ketika mulai memimpin Demokrat Sumut. Sebab, masa awal kepemimpinannya bertepatan dengan proses penyelesaian persoalan hukum dan konflik internal partai yang baru benar-benar tuntas pada 2023.
Situasi tersebut, menurut Lokot, turut memberikan dampak terhadap kepercayaan publik kepada Partai Demokrat. Bahkan, kondisi itu membuat sejumlah calon legislatif potensial memilih meninggalkan partai karena mengkhawatirkan masa depan politik Demokrat di tengah konflik yang berlangsung.
"Ketika saya mulai memimpin, kita masih menghadapi persoalan besar di tingkat nasional. Situasi itu tentu berdampak terhadap partai di daerah. Ada orang-orang yang sebelumnya memiliki potensi untuk maju sebagai calon legislatif, tetapi akhirnya memilih meninggalkan Demokrat karena melihat kondisi saat itu," ungkapnya.
Meski demikian, Lokot menilai kondisi politik Partai Demokrat saat ini sudah jauh berbeda. Bergabungnya Demokrat dalam pemerintahan bersama Presiden Prabowo Subianto dinilai membuka peluang lebih besar bagi partai untuk menjalankan agenda politik dan memperkuat konsolidasi organisasi.
Menurutnya, dukungan terhadap pemerintahan Prabowo harus dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk memperkuat posisi Demokrat, tanpa mengabaikan kerja-kerja politik dan kepentingan masyarakat.
"Ketika sekarang Demokrat bersama Pak Prabowo, tentu ini menjadi kesempatan bagi kita untuk menjalankan visi dan pemikiran Pak SBY di Sumatera Utara. Ini memang tidak menjamin semuanya akan berjalan mudah, tetapi setidaknya kita memiliki ruang dan kesempatan yang lebih baik," ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Lokot juga berbicara mengenai target politik Partai Demokrat Sumut ke depan, khususnya dalam menghadapi kontestasi pemilihan legislatif.
Ia mengingatkan bahwa Demokrat pernah mencatatkan prestasi besar di Sumatera Utara pada Pemilu 2009. Saat itu, Demokrat berhasil memperoleh 10 kursi DPR RI dari daerah pemilihan Sumatera Utara.
"Kita pernah mendapatkan 10 kursi DPR RI pada 2009. Itu merupakan sejarah besar bagi Demokrat di Sumatera Utara dan sampai sekarang belum terpecahkan. Untuk ke depan, kita menargetkan enam kursi. Mohon doa dan dukungan seluruh kader agar target ini bisa kita capai," tuturnya.
Lokot berharap, melalui kepemimpinan yang solid dan semangat kebersamaan, Demokrat Sumut mampu kembali menjadi kekuatan politik yang diperhitungkan.
Ia menegaskan, perjuangan partai tidak hanya berorientasi pada perebutan jabatan maupun perolehan kursi legislatif, tetapi juga bagaimana menghadirkan solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.(san/ram)
Editor : Juli Rambe