Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Senegal Juara Piala Afrika 2025, Mane Pamitan Usai Final Sarat Drama

Johan Panjaitan • Selasa, 20 Januari 2026 | 12:15 WIB
Sadio Mané saat mengangkat trofi Juara Afrika 2025. (panafrikafootball)
Sadio Mané saat mengangkat trofi Juara Afrika 2025. (panafrikafootball)

RABAT, Sumutpos.jawapos.com-Senegal kembali menegaskan statusnya sebagai kekuatan utama sepak bola Afrika. Untuk kedua kalinya secara beruntun, Les Lions de la Teranga mengangkat trofi Piala Afrika, usai menaklukkan tuan rumah Maroko dengan skor tipis 1-0 melalui babak perpanjangan waktu, dalam final yang sarat drama di Stadion Prince Moulay Abdellah, Rabat, Senin (19/1).

Gol kemenangan Senegal dicetak gelandang Villarreal CF, Pape Gueye, pada menit ke-94. Meski tak mencatatkan namanya di papan skor, peran Sadio Mané tetap menjadi sorotan utama. Untuk kedua kalinya pula, winger Al-Nassr FC itu dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Turnamen, setelah sebelumnya meraih penghargaan serupa pada edisi 2021 di Kamerun.

Namun, kontribusi Mané di partai puncak tak hanya tercermin lewat performa di lapangan. Di penghujung waktu normal, laga sempat terhenti hampir 14 menit ketika wasit menghadiahi penalti untuk Maroko akibat pelanggaran bek kiri Senegal El Hadji Malick Diouf terhadap Brahim Díaz. Keputusan tersebut memicu protes keras kubu Senegal, bahkan sejumlah pemain dan staf pelatih menolak melanjutkan pertandingan.

Di tengah situasi memanas itu, Mané tampil sebagai penenang. Ia membujuk rekan-rekannya, termasuk pelatih Pape Thiaw, untuk kembali ke lapangan dan menyelesaikan laga.

“Sepak bola adalah olahraga yang disaksikan seluruh dunia. Saya ingin memberikan citra yang baik, bukan hanya untuk tim kami, tetapi juga untuk Piala Afrika,” ujar Mané kepada AFP.

Pamitan Sang Ikon

Final dramatis tersebut sekaligus menjadi panggung perpisahan Mané di ajang Piala Afrika. Pemain berusia 33 tahun itu mengonfirmasi bahwa edisi 2025 menjadi turnamen terakhirnya bersama tim nasional Senegal.

“Jika tidak ada perubahan dan semuanya berjalan lancar, insya Allah saya berhenti di sini. Selanjutnya, saya akan menjadi pemain ke-12 bagi tim nasional Senegal,” ucap Mané kepada RMC Sport.

Selain ketegangan soal penalti, final juga diwarnai sejumlah insiden tak biasa. Handuk kiper utama Senegal, Edouard Mendy, sempat dicuri oleh ball boy, memicu keributan kecil di pinggir lapangan. Kiper cadangan Senegal, Yehvann Diouf, bahkan terlibat adu fisik dengan beberapa ball boy sebelum situasi kembali terkendali.

Di sisi lain, Maroko harus menelan pil pahit. Brahim Díaz, gelandang Real Madrid, gagal mengeksekusi penalti krusial setelah memilih melakukan tendangan bergaya Panenka—keputusan yang berujung petaka dan menggagalkan harapan Singa Atlas mengakhiri puasa gelar Piala Afrika selama 50 tahun.

Malam di Rabat pun menjadi milik Senegal. Di tengah ketegangan, kontroversi, dan emosi yang tumpah ruah, Les Lions de la Teranga kembali berdiri di puncak Afrika—dan Sadio Mané menutup bab penting dalam karier internasionalnya dengan cara yang paling bermakna.(jpg/han)

Editor : Johan Panjaitan
#sadio mane #juara #senegal #piala afrika