Sumutpos.jawapos.com-Situasi langka dan nyaris tak masuk akal terjadi di kubu FC Bayern Munich. Krisis kiper memaksa raksasa Jerman itu menurunkan remaja 16 tahun, Leonard Prescott, saat menghadapi Atalanta BC di babak 16 besar UEFA Champions League.
Bayangkan, di tengah panggung sebesar Liga Champions, Bayern justru mengandalkan pemain yang bahkan belum cukup umur untuk “lembur”!
Semua Kiper Cedera, Muncullah Prescott
Cedera beruntun menghantam lini terakhir Bayern. Nama-nama besar seperti Manuel Neuer dan Sven Ulreich tak bisa tampil. Dua kiper lain juga tumbang. Tak ada pilihan, Prescott pun naik dari bayang-bayang menjadi sorotan utama.
Usianya? Baru 16 tahun 176 hari!
Masalahnya: Bukan Lawan, Tapi Jam!
Di sinilah drama sebenarnya dimulai. Berdasarkan aturan ketenagakerjaan di Jerman, pemain di bawah umur tidak boleh bekerja lewat pukul 23.00.
Artinya? Prescott boleh main… tapi ada “deadline”!
Kickoff pukul 21.00 masih aman. Tapi kalau pertandingan berlanjut ke perpanjangan waktu? Bisa jadi masalah hukum besar bagi Bayern!
Lebih ekstrem lagi, Prescott bahkan tidak boleh ikut wawancara setelah pertandingan. Jadi, kalau dia tampil gemilang sekalipun, publik mungkin tak akan langsung mendengar suaranya.
Bayern Santai, Tapi Tetap Deg-degan
Di atas kertas, Bayern sebenarnya cukup nyaman. Mereka sudah unggul agregat 6-1 dari leg pertama. Tapi tetap saja, menaruh kiper 16 tahun di Liga Champions bukan hal sepele.
Baca Juga: Jaga Selera Menyantap Daging Ayam, Ada Bahaya yang Tersembunyi
Satu kesalahan kecil bisa jadi bencana. Apalagi di panggung sebesar ini.
Dari Bangku Cadangan ke Sorotan Dunia
Kisah Prescott langsung mencuri perhatian. Dari pemain muda yang nyaris tak dikenal, kini ia jadi pusat perhatian dunia sepak bola—bukan hanya karena talentanya, tapi juga karena aturan unik yang membatasi waktunya di lapangan.
Ini bukan sekadar pertandingan. Ini drama: antara mimpi besar, tekanan besar, dan… batas jam malam!
Satu hal yang pasti—kalau Prescott benar-benar tampil, ini akan jadi debut yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidup.
Editor : Johan Panjaitan