ZENICA, Sumutpos.jawapos.com– Tak ada lagi ruang pembelaan. Timnas Italia kembali menelan pil pahit setelah dipastikan gagal lolos ke Piala Dunia 2026. Untuk kali ketiga beruntun—setelah edisi 2018 dan 2022—raksasa sepak bola dunia itu absen dari panggung tertinggi, sebuah noda besar bagi negara dengan empat gelar juara dunia.
Kekalahan dramatis di Stadion Bilino Polje, Zenica, Rabu (1/4), menjadi penegas krisis tersebut. Bosnia-Herzegovina menyingkirkan Italia lewat adu penalti 4-1 setelah bermain imbang 1-1 di waktu normal dan tambahan. Malam itu bukan sekadar kekalahan—melainkan simbol keruntuhan mental dan konsistensi Gli Azzurri.
Sorotan utama tertuju pada kartu merah Alessandro Bastoni empat menit jelang turun minum. Keputusan itu mengubah arah pertandingan secara drastis—dari dominasi menjadi kepanikan. Bermain dengan 10 orang, Italia kehilangan kendali permainan sekaligus ketenangan yang selama ini coba dibangun.
Baca Juga: Tsunami Terjang Halmahera Barat, Malut, Bitung dan Sulut
Kiper sekaligus kapten Gianluigi Donnarumma tak mampu menyelamatkan timnya dalam adu penalti. Sementara di pinggir lapangan, pelatih Gennaro Gattuso hanya bisa menahan getir.
“Ini menyakitkan, sangat menyakitkan. Kami sudah memberikan segalanya dalam beberapa bulan terakhir,” ujar Gattuso, seperti dikutip dari La Gazzetta dello Sport. “Kami pantas mendapatkan lebih,” tambahnya, meski realitas berkata sebaliknya.
Namun, kritik tajam datang dari media domestik. Corriere dello Sport menyebut Italia tersingkir tanpa alibi—kegagalan yang berulang akibat kesalahan sendiri, bukan semata faktor eksternal.
Di tengah sorotan, masa depan Gattuso dan direktur tim Gianluigi Buffon ikut dipertanyakan. Keduanya sebelumnya menyatakan siap mundur jika target lolos Piala Dunia gagal dicapai. Meski demikian, Buffon memilih menunggu hingga Juni untuk menentukan sikap.
Presiden federasi FIGC, Gabriele Gravina, justru memberi sinyal dukungan. Ia menilai Gattuso masih layak diberi kesempatan kedua, mengingat catatan enam kemenangan dari delapan laga.
Baca Juga: Rutan Sidikalang Sikat Habis Barang Terlarang, Narkoba Nihil dalam Razia Gabungan TNI-Polri
Di sisi lain, kontroversi turut membayangi laga. Wasit asal Prancis, Clément Turpin, menjadi sasaran kritik setelah dua keputusan krusial terkait Tarik Muharemovic dianggap merugikan Italia. Mulai dari pelanggaran di kotak penalti hingga dugaan handsball di menit akhir—semuanya luput dari hukuman maksimal.
Namun, pada akhirnya, semua kembali pada satu kesimpulan pahit: Italia kalah bukan semata karena wasit, melainkan karena kegagalan menjaga disiplin, fokus, dan mental di momen krusial.
Dari negara dengan sejarah besar, Italia kini terjerembap dalam krisis identitas sepak bola. Dan Zenica menjadi saksi bisu—bahwa kejayaan masa lalu tak lagi cukup untuk menyelamatkan masa kini.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan