Sumutpos.jawapos.com-Satu hari menjelang dimulainya ibadah puasa Ramadan 1447 Hijriah, Kerajaan Kejeruan Metar Bilad Deli melaksanakan ritual tradisi mandi belimau sebagai bagian dari adat istiadat Melayu Deli. Tradisi sakral digelar, Selasa (17/2) di kediaman Raja Kejeruan Metar Bilad Deli di Jalan Abdul Sani Muthalib, Pasar II Barat, Kecamatan Medanmarelan.
Mandi belimau merupakan tradisi mandi masyarakat adat Melayu di Sumut khususnya di Kota Medan Tanah Deli Bumi Melayu. Ritual ini dilakukan dengan air yang dicampurkan limau atau jeruk nipis, jeruk purut, akar wangi, bunga rampai, daun pandan, daun sereh, nilam, mayang pinang, akar usar dan akar sitanggis. Tradisi ini memiliki kemiripan dengan ritual mandi pangir atau Marpangir dalam budaya masyarakat Mandailing.
Secara filosofis, mandi belimau dimaknai sebagai simbol pembersihan dan pensucian diri, baik lahir maupun batin, sebelum menjalani ibadah puasa Ramadan. Ritual penyiraman air belimau diyakini sebagai upaya membersihkan diri dari dosa serta mempersiapkan hati agar siap menjalani bulan suci dengan rasa sukacita dan keikhlasan.
Mandi belimau adalah tradisi masyarakat Melayu Deli. Hampir di seluruh wilayah yang terdapat masyarakat adat Melayu, tradisi ini dilakukan, baik di Riau, Kepulauan Riau, Kalimantan hingga Bangka Belitung. "Tradisi ini harus terus dilestarikan agar tidak hilang. Kerajaan Kejeruan Metar Bilad Deli selalu junjung tinggi tradisi dan seni warisan Melayu dan melestarikannya," ungkap Tengku Muhammad Fauzi, Raja Kejeruan Metar Bilad Deli XI yang memimpin langsung jalannya ritual.
Ia menegaskan bahwa Kerajaan Kejeruan Metar Bilad Deli memiliki tanggung jawab moral untuk meneruskan adat istiadat, tradisi, kebiasaan warisan leluhur. Meskipun pelaksanaan saat ini dilakukan secara sederhana, bersifat internal dan diikuti oleh kaum pria saja.
Tradisi tersebut dihadiri para kerabat kerajaan, datok perangkat, datok timbalan, datok limpah kurnia, para datin dan OK bergelar.
Ritual dimulai dengan prosesi Raja Kejeruan Metar Bilad Deli XI yang bergelar Al Mulk Akbar Shah memasuki lokasi mandi dengan kawalan secara adat. Setelah duduk di tempat yang telah disiapkan, prosesi dilanjutkan dengan doa dan shalawat sebelum air berlimau disiramkan ke tubuh raja, terdapat air yang hangat dan air yang dingin.
Selanjutnya, para datok mengikuti ritual secara bergantian dimana penyiraman dilakukan langsung oleh raja. Kemudian dilanjutkan kepada anak-anak.
Salah seorang Datok yang turut mengikuti ritual adalah Datok Perangkat bergelar Datok Setia Nara Seni Diraja KMBD Yan Djuna. Tokoh Pemuda Melayu yang dikenal aktif menyuarakan kecintaan terhadap budaya Melayu tersebut mengaku merasakan pengalaman spiritual yang berbeda.
"Subhanallah, saya sangat bersyukur dan merasa mendapatkan kehormatan. Sebelumnya tradisi ini biasa saya lakukan sendiri di rumah, meneruskan kebiasaan ibu saya sewaktu masih hidup. Kini bersama raja dan para datok lainnya, suasana dan vibes-nya tentu sangat berbeda," ujar Yan Djuna.
Bila pemerintah kota Medan sigap, lanjutnya, tradisi mandi belimau dan megang puasa ini punya nilai besar dan berpotensi menjadi atraksi budaya yang mampu menunjang sektor pariwisata dan menarik minat wisatawan dan memperkuat identitas Kota Medan sebagai Tanah Deli Bumi Melayu
"Ini yang tak boleh digeser dan diabaikan. Keberadaan tradisi ini menjadi pengingat akan sejarah panjang peradaban Melayu yang bermarwah tinggi di Sumut," sambungnya
Yan Djuna selama ini dikenal konsisten mengangkat kearifan lokal dan khazanah budaya Melayu melalui berbagai platform, baik lewat media sosial dengan jargon 'Ahoi Medan Bumi Melayu' maupun melalui siaran budaya di RRI Pro 4 FM Medan dalam program “
'Resam Melayu' yang mengudara setiap Jumat malam.
Selain itu, ia juga berkiprah sebagai kepala Studio Podcast Suara Prima di Universitas Prima Indonesia dan marketing communications experts.
Usai pelaksanaan mandi belimau, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan tradisi megang puasa. Tradisi ini serupa dengan meugang di Aceh, punggahan di Jawa atau munggahan di Sunda yang dimaknai sebagai ritual makan bersama sambut Ramadan.
Megang puasa diawali dengan santap bersama usai salat Maghrib berjamaah. Para datin membawa hidangan yang telah dimasak dari rumah masing-masing ke kediaman raja dan disambut permaisuri. Suasana hangat kekeluargaan menjadi inti dari perayaan.
Megang puasa menjadi simbol rasa syukur, kebersamaan, kasih sayang sesama saudara seiman dan gotong royong. Tradisi ini juga menjadi momentum mempererat silaturahim, saling bermaaf-maafan, sekaligus menandai kesiapan lahir dan batin dalam menyambut bulan suci Ramadan.
Dalam kesempatan ini, Raja Kejeruan Metar Bilad Deli juga melakukan penyembelihan kambing yang dibagi-bagikan.
Nilai religius, sosial dan budaya berpadu kuat dalam rangkaian tradisi Melayu yang terus dijaga oleh Kerajaan Kejeruan Metar Bilad Deli.
Ditengah perkembangan zaman dan perubahan cara pandang masyarakat, menurut Yan Djuna, pelestarian tradisi ini dinilai penting sebagai bagian dari identitas Kota Medan yang dari sejarahnya berpenduduk asli dan berbudaya Melayu walau kini beranekaragam budaya.(dmp)
Editor : Johan Panjaitan