Kabupaten Langkat merupakan bekas wilayah kekuasaan kesultanan yang hingga kini jejaknya masih dapat ditemui di beberapa daerah. Melalui peninggalan masjid, jejak kesultanan di Bumi Bertuah (julukan Kabupaten Langkat) dapat ditemui.
SECANGGANG, LANGKAT
Satu di antara peninggalan Kesultanan Langkat adalah Masjid Raya Aziziyah di Desa Secanggang, Langkat. Peninggalan situs sejarah dan budaya ini agaknya hampir dilupakan oleh pemerintah daerah untuk tetap dilestarikan.
Pendirian masjid ini masih jadi perdebatan. Ada yang bilang tahun 1905, 1908 juga 1911. Namun, rumah ibadah dibangun oleh pada masa Sultan Musa yang memimpin Kesultanan Langkat.
Lalu pembangunannya dilanjutkan sang anak, Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmadsyah. Namanya mirip dengan Masjid Raya Azizi di Tanjungpura.
Ternyata mereka dibangun oleh Kesultanan Langkat yang pada masa itu dipimpin Sultan Musa. "Ada (hubungan Masjid Raya Azizi dan Masjid Raya Aziziyah), di sana (Tanjungpura) laki, di sini (Secanggang) perempuan, (dibangun) Kesultanan Musa dulu," ungkap Haji Lukman Nul Hakim, Pengurus Masjid Raya Aziziyah.
Masjid bersejarah ini merupakan salah satu yang tertua di Kabupaten Langkat. Lokasinya di Desa Secanggang, Kecamatan Secanggang.
Untuk menuju ke sana, Sumut Pos bergerak dari Kota Binjai. Melintas Kota Stabat yang kemudian berjalan mengarah ke Secanggang. Sekitar 60 menit dengan Jarak tempuh 24 kilometer. Jalan yang dilalui juga tidak seutuhnya mulus.
Terdapat kerusakan pada sejumlah titik Jalan penghubung Kecamatan Secanggang-Stabat. Salah satunya di Kampung Nangka.
Setibanya di Masjid Aziziyah Secanggang, masyarakat di sana sedang menunaikan salat ashar berjemaah pada 6 Ramadan 1447 Hijriah, Selasa (24/2/2026). Usai salat ashar, wartawan diajak berkeliling oleh Lukman melihat sekeliling Masjid Raya Aziziyah yang terdapat makam dan situs bersejarah sumur.
Lukman berujar, di belakang Masjid Aziziyah ada makam Datuk Jeratin, pembuka Kampung Secanggang. "Di belakang sini, Datuk Gemuk dan juga ada Datuk Lelawangsa," katanya.
Dia menyebut, Masjid Raya Aziziyah Secanggang dibangun di Dusun VI karena lokasinya tidak jauh dari aliran sungai. "Awal-awalnya (Masjid Raya Aziziyah) kayu semua, tiang-tiang kayu," kata Lukman didampingi Ketua Badan Kenaziran, Haji Isnaini; Nazir Masjid, Arrijalul Ihsan dan Imam Masjid, Ismail Ishak bin Jafar.
Baca Juga: Respons Cepat Layanan 110, Kapolda Sumut Berikan Penghargaan ke Kapolres Labuhanbatu
Seiring perkembangan zaman, Masjid Raya Aziziyah dilakukan pemugaran. "Sudah empat kali dipugar," sambungnya.
Warna Masjid Raya Aziziyah mempertahan ciri khas melayu, hijau dipadu dengan kuning. Masjid ini memilki kubah utama yang besar satu yang didukung dengan dua tiang kubah kecil pada tengah, kiri dan kanan serta ditambah pada bagian tengah tiga kubah kecil.
Berkembangnya zaman dan sudah empat kali dipugar, kini hanya menyisakan mimbar yang asli, letaknya di dalam Masjid Raya Aziziyah. "Hanya tinggal lagi inilah, mimbar, lainnya sudah habis, dengan sumur tadi, telagah sumur yang masih lama bangunannya," bebernya.
Selama Ramadan, setiap tahunnya kegiatan rutin dilakukan di Masjid Raya Aziziyah Desa Secanggang. Mulai dari tadarusan yang diikuti anak, remaja hingga ibu-ibu, dan salat tarawih.
"Tidak kami menyiapkan menu berbuka khusus, panitia menyediakan bukaan puasa dari masyarakat dan di sini tarawihnya 23 rakaat," pungkasnya. (ted)
Editor : Johan Panjaitan