Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Berbohong Demi Kebahagiaan Istri

Admin-1 Sumut Pos • Selasa, 22 Agustus 2017 | 14:49 WIB
Photo
Photo
Photo
Photo
SUMUTPOS.CO
- Pernikahan Tongat dan Butet telah berlangsung selama 4 tahun. Namun mereka belum dikaruniai anak. Alhasil, mereka pun jadi gunjingan tetangga dan keluarga.


“Kok belum mempunyai anak juga ya, masalahnya di siapa ya? Suaminya atau istrinya ya?” bisik-bisik tetangga yang belakangan menjadi berisik.


Tak tahan mendengar gunjingan itu, Tongat dan Butet diam-diam pergi ke seorang dokter untuk konsultasi dan memeriksakan kesuburan masing-masing.


Hasil lab mengungkapkan, ternyata Butet mandul. Pun begitu, Tongat tak mempermasalahkannya. Dia tetap berharap ada keajaiban dan bisa segera memiliki anak.


Mengetahui hasil lab itu, Tongat mendatangi dokter dan meminta agar menyembunyikan kenyataan ini. “Saya akan panggil istri saya untuk masuk ruangan ini. Tapi tolong dokter sampaikan padanya, bahwa masalahnya ada pada saya,” pintanya.


Kontan saja sang dokter menolak dan terheran-heran. Pun begitu, Tongat tetap memaksa si dokter. Belakangan dokter itu setuju untuk menyebutkan bahwa sebenarnya Tongat mandul.


Mendengar penjelasan dokter, Tongat pura-pura terkejut di hadapan Butet. Dengan lesu, pasangan ini lalu pulang. Perlahan-lahan, kabar Tongat mandul menyebar ke tetangga dan keluarga.


Lima tahun kemudian, Butet mendadak minta diceraikan. Alasannya, dia sudah cukup sabar menunggu 9 tahun untuk memiliki momongan. Dirinya ingin menikah lagi agar memiliki anak.


Mendengar emosi Butet yang mencapai puncak, Tongat berkata: “istriku, itu cobaan, kita harus bersabar, kita harus …, harus … dan harus…” sebutnya.


Mendengar jawaban Tongat, Butet memberi satu kesempatan lagi. “OK, saya akan sabar dan hidup bersamamu setahun lagi. Ingat, cuma setahun, tak lebih,” tegasnya.


Tongat sepakat atas permintaan Butet. Dalam dirinya dipenuhi harapan besar, mudah-mudahan Tuhan berikanlah jalan keluar yang paling baik untuk mereka.


Begitu lah, Butet mendadak jatuh sakit. Hasil lab menyebutkan, Butet mengalami gagal ginjal. Kabar itu spontan membuat Butet sangat sedih. Dan kesedihannya itu diungkapkannya dengan emosi kepada Tongat.


“Semua itu karena kamu. Sampai sekarang ini saya menahan kesabaran. Kenapa tak selekasnya kamu menceraikan saya. Saya ingin mempunyai anak, saya menginginkan memomong serta menimang bayi,” tuntutnya kepada Tongat.


Di saat yang genting itu, Tongat mendadak berkata : “Maaf, saya ada pekerjaan keluar negeri, mudah-mudahan kamu baik-baik saja”. “Haah, pergi? ” kata Butet, tak percaya.


“Ya, saya bakal pergi lantaran pekerjaan serta sekalian mencari donatur ginjal, mudah-mudahan dapat,” sebut Tongat.

Satu hari sebelum operasi, datanglah sang donatur ke tempat Butet dirawat. Disepakatilah kalau besok bakal diakukan operasi pemasangan ginjal dari sang donatur.


Waktu itu Butet teringat suaminya yang pergi, ia berkata dalam dirinya : “Suami apaan dia ini, istrinya operasi, eh dia pergi meninggalkanku terkapar dalam ruangan bedah operasi”.


Operasi berhasil dengan begitu baik. Seminggu kemudian Tongat datang. Wajahnya tampak kelelahan. Tanpa sepengetahuan sang istri, ternyata Tongat lah sang donatur itu. Dia menghibahkan satu ginjalnya tanpa sepengetahuan sang istri, tetangga serta siapa pun terkecuali dokter yang dimintanya supaya merahasiakannya.


Sembilan bulan setelah operasi, Butet melahirkan. Jadi bergembira lah pasangan ini, keluarga besar serta beberapa tetangga. Keadaan rumah tangga kembali normal, serta Tongat sudah merampungkan studi S2 serta S3-nya di satu fakultas syari’ah serta sudah bekerja sebagai seseorang panitera.


Suatu hari, Tongat ada pekerjaan dinas jauh. Karena buru-buru, dia lupa menyimpan buku hariannya dari atas meja. Tak sengaja, Butet menemukan dan membaca buku harian itu.


Butet nyaris pingsan saat mengetahui rahasia tentang diri dan rumah tangganya, yakni perihal siapa yang mandul dan donator ginjal. Ia menangis meraung-raung. Sesudah agak reda, dia menelpon suaminya, serta menangis sejadi-jadinya, dia berulang-kali mengulang minta maaf kepada Tongat. Tongat cuma bisa membalas nada telpon istrinya dengan menangis juga.


Sejak terungkapnya rahasia pengorbanan Tongat, selama tiga bulan, Butet sama sekali tidak berani menatap wajah sang suami. Jika ada keperluan, dia bicara dengan menundukkan mukanya. Tak ada kemampuan untuk memandangnya.


Berselang sekian waktu, Butet meninggal dunia karena kelainan pada organ ginjalnya. Begitu terpukulnya Tongat. Sejak itu, Tongat berjanji akan merawat anaknya serta tidak bakal menikah lagi demi cintanya pada Butet.(net/ras) Editor : Admin-1 Sumut Pos
#kehidupan rumah tangga #perceraian