Sumutpos.jawapos.com-Tak ada satu pun orang yang ingin otaknya rusak atau masa depannya hancur. Namun tanpa disadari, banyak remaja justru terjebak dalam kebiasaan-kebiasaan yang pelan-pelan merusak potensi mereka.
Dikutif dari kanal YouTube Sen Life Skill, narator menyampaikan peringatan keras: hampir semua remaja saat ini punya minimal satu dari lima kebiasaan buruk yang secara perlahan bisa menghancurkan otak dan masa depan mereka.
Parahnya, kebanyakan dari mereka tidak menyadari bahayanya hingga semuanya sudah terlambat.
1. Hidup Berdasarkan Mood
Remaja cenderung hanya bergerak saat sedang "mood". Jika merasa malas atau galau, tugas ditunda. Masalahnya, menurut penjelasan yang merujuk pada riset dari Dr. Andrew Huberman, otak tidak akan pernah terlatih disiplin jika terus tunduk pada perasaan.
2. Terlalu Peduli Pendapat Orang
Kebiasaan kedua yang tak kalah berbahaya adalah hidup dengan mempertimbangkan apa kata orang. Rasa takut dinilai, dikritik, atau diomongin membuat banyak remaja menunda langkah besar mereka.
Ironisnya, menurut narator, “kita pasti akan tetap dinilai—baik ketika berhasil maupun tidak. Jadi daripada menunggu penilaian netral yang tak akan pernah datang, lebih baik fokus ke cita-cita.”
3. Prokrastinasi
Menunda-nunda tugas atau pekerjaan adalah pembunuh ide nomor satu. Otak manusia secara alami cenderung menghindari hal yang tidak nyaman, termasuk tugas sekolah atau belajar skill baru.
Solusinya? Terapkan aturan 5 menit. Katakan pada diri sendiri bahwa Anda hanya akan mengerjakan tugas selama lima menit saja. Biasanya, setelah itu otak akan mulai terbiasa dan ingin melanjutkan.
4. Kecanduan Game Berlebihan
Remaja yang bermain game hingga 8–10 jam sehari bukan hanya kehilangan waktu, tapi juga kehilangan momentum emas untuk membangun skill di dunia nyata.
“Bayangkan 350 jam waktu nge-game selama 3 bulan bisa digunakan untuk belajar video editing, membangun karier freelance, atau membentuk tubuh ideal,” tegas narator.
5. Menonton Film Dewasa
Yang paling merusak dari semuanya, menurut narator, adalah kebiasaan menonton film dewasa. Kebiasaan ini bisa menghancurkan sistem dopamin otak, membuat seseorang kecanduan rangsangan ekstrem, dan melemahkan bagian otak yang bertugas untuk mengontrol diri (prefrontal cortex).
Studi menunjukkan bahwa paparan berlebihan terhadap konten pornografi menurunkan kemampuan fokus, pengambilan keputusan, serta motivasi jangka panjang.
Dalam penjelasannya, ia mengajak remaja untuk merenungkan dan mengambil langkah konkret agar lepas dari lima kebiasaan perusak masa depan tersebut. Ditekankan pula bahwa perubahan tidak instan, tapi bisa dimulai hari ini dengan kesadaran dan tekad.(han)
Editor : Johan Panjaitan