Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Refleksi 80 Tahun Kemerdekaan RI: Belasan Ribu Warga Tabagsel Belum Nikmati Listrik

Johan Panjaitan • Minggu, 17 Agustus 2025 | 17:00 WIB
BELUM TERALIRI LISTRIK:  Desa Dalihan Natolu, Kecamatan Arse, Kabupaten Tapsel sejak 200 tahun berdiri sampai hari ini belum teraliri listrik. (Subanta/Sumut Pos)
BELUM TERALIRI LISTRIK: Desa Dalihan Natolu, Kecamatan Arse, Kabupaten Tapsel sejak 200 tahun berdiri sampai hari ini belum teraliri listrik. (Subanta/Sumut Pos)

PADANGSIDIMPUAN, Sumutpos.jawapos.com-Di tengah perayaan 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, sebuah kenyataan menyentak dari wilayah Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel): belasan ribu jiwa di puluhan desa dan dusun di kawasan ini masih belum menikmati aliran listrik PLN.

Kawasan Tabagsel meliputi Padangsidimpuan, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Padang Lawas Utara, dan Padang Lawas. Meski Sumatera Utara mencatat tingkat elektrifikasi tinggi secara keseluruhan, beberapa wilayah terpencil masih belum terjangkau layanan dasar kelistrikan.

Salah satu contohnya adalah Desa Dalihan Natolu di Kabupaten Tapanuli Selatan. Desa yang telah berdiri selama hampir dua abad ini berpenduduk sekitar 393 jiwa (70 KK), namun hingga kini belum dialiri listrik PLN. Kampung ini terletak di tepi Sungai Siala dan kawasan hutan Nanggar Jati.

"Di kampung Nanggoluon dan Aek Nabara, yang merupakan bagian dari Desa Dalihan Natolu, sama sekali belum ada listrik. Memang, di pusat desa Tano Ponggol sudah ada PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro), tapi itu hanya bisa menyalakan lima titik lampu per rumah. Untuk televisi, kulkas, dan setrika belum bisa," ujar Kepala Desa Dalihan Natolu, Irsan Siregar, saat dihubungi Minggu (17/8).

Hal senada diungkapkan oleh Direktur Paladam, Subanta Rampang Ayu, ST. Menurutnya, di Tapanuli Selatan masih terdapat puluhan kampung yang belum dialiri listrik, tersebar di empat kecamatan, lima desa, dan dua kelurahan, dengan total ratusan KK dan ribuan jiwa.

Bahkan di Kota Padangsidimpuan, yang merupakan kota madya, masih ada wilayah gelap. Salah satunya Lorong Aek Gambir di Kelurahan Palopat Pijorkoling, di mana puluhan rumah belum tersentuh layanan listrik PLN.

"Ini menjadi ironi di tengah semangat pembangunan. Masih ada warga yang hidup dalam gelap, baik secara harfiah maupun simbolis," jelas Subanta.

Di wilayah Muara Batang Gadis (Madina), kawasan Siulang-Aling yang terdiri dari lima desa berpenduduk belasan ribu jiwa juga belum merasakan manfaat listrik PLN. Hal serupa terjadi di kampung-kampung di Dolok dan Dolok Sigompulon, Padang Lawas Utara, yang hingga kini belum mendapat pasokan listrik nasional.

Data resmi "Sumatera Utara dalam Angka 2025" mencatat bahwa tidak ada satu pun kabupaten/kota di wilayah Tabagsel yang memiliki tingkat elektrifikasi 100 persen.

Kabupaten Tapanuli Selatan mencatat tingkat elektrifikasi 98,65 persen, namun masih terdapat 0,7 persen rumah tangga yang tidak menggunakan listrik sama sekali sebagai sumber penerangan.

Di usia kemerdekaan yang ke-80, fakta ini menjadi refleksi bahwa pembangunan belum merata hingga ke seluruh penjuru negeri. Bagi warga di daerah-daerah tersebut, kemerdekaan belum sepenuhnya terasa selama mereka masih hidup dalam gelap gulita di malam hari.

Pemerintah daerah dan pusat diharapkan segera mengambil langkah nyata dan strategis untuk menghadirkan keadilan energi bagi seluruh rakyat Indonesia, sesuai dengan amanat kemerdekaan.(mag-9/han)

Editor : Johan Panjaitan
#desa #Terpencil #Listrik 169 MW #Tabagsel