Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Mobil Dana Desa Raib, Warga Minta Aparat Usut Dugaan Penyimpangan Aset di Langkat

Johan Panjaitan • Minggu, 9 November 2025 | 14:50 WIB
Kantor Desa Alur Cempedak Kecamatan Pangkalansusu, Langkat. (Istimewa/Sumut Pos)
Kantor Desa Alur Cempedak Kecamatan Pangkalansusu, Langkat. (Istimewa/Sumut Pos)

STABAT, Sumutpos.jawapos.com-Satu unit mobil pikap yang merupakan aset milik Pemerintah Desa di Kecamatan Pangkalansusu, Kabupaten Langkat, diduga hilang. Padahal, kendaraan tersebut dibeli menggunakan dana desa dan seharusnya dijaga serta dipertanggungjawabkan secara administratif.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, mobil pikap tersebut merupakan aset desa yang dibeli pada tahun 2018 sebagai sarana penunjang Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Selain mendukung operasional usaha desa, pikap tersebut juga digunakan untuk membantu warga mengangkut hasil pertanian dan kebutuhan lainnya.

Namun, warga kini heran karena mobil tersebut sudah lama tidak terlihat. Sejumlah warga menduga pikap itu hilang saat anak kepala desa menjabat sebagai pengurus BUMDes.

“Mobil pikap itu hilang pada saat anaknya kades menjadi pengurus BUMDes. Aset desa yang dibeli tahun 2018 itu sekarang tidak ada, bahkan kabarnya sudah dicincang,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya, akhir pekan kemarin.

Warga menilai hilangnya aset desa tersebut mencerminkan lemahnya pengawasan pemerintah desa.

“Aset desa itu dibeli pakai uang rakyat melalui dana desa, jadi harus jelas pertanggungjawabannya. Tidak bisa dibiarkan hilang begitu saja,” ujarnya.

Ironisnya, perangkat desa dan pimpinan desa disebut tidak mengambil langkah serius atas dugaan kehilangan itu. Bahkan, ketika warga menanyakan langsung kepada kepala desa, jawaban yang diberikan dianggap terkesan menyepelekan.

“Kades bilang dia tidak takut. Padahal dulu dia sendiri yang bilang, ‘seribu rupiah pun uang negara’. Tapi kenyataannya sekarang berbanding terbalik,” tambah sumber.

Warga juga menduga, bukan hanya mobil pikap yang bermasalah, tetapi juga beberapa aset desa lain yang tidak disimpan sebagaimana mestinya.

“Aset desa harusnya ada di kantor desa, bukan di tempat orang lain. Tapi sekarang entah di mana letaknya, pencar-pencar,” katanya.

Selain itu, BUMDes yang sebelumnya sempat aktif mengelola usaha panglong kini disebut sudah tidak berjalan lagi sejak empat tahun terakhir.

“Sekarang BUMDes Desa Alur Cempedak sudah mati, yang tersisa cuma bangunan ruko dua pintu. Sekarang jadi rumah kosong,” keluh warga.

Warga mengaku heran karena aparat penegak hukum disebut telah mengetahui kasus tersebut, tetapi belum menindaklanjutinya.

“Kita heran, kenapa tidak ada tindakan dari aparat? Padahal sudah jelas-jelas ini aset negara,” ucapnya.

Hingga berita ini diterbitkan, Kepala Desa Alur Cempedak, RG, belum memberikan tanggapan. Upaya konfirmasi melalui pesan singkat pada Minggu (9/11/2025) belum mendapat jawaban.(ted/han)

Editor : Johan Panjaitan
#dana desa #kabupaten langkat #aset #pemerintah desa #pikap