Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Ratusan Rumah di Desa Tandihat, Tapsel, Amblas: Ribuan Warga Pilih Mengungsi

Johan Panjaitan • Minggu, 7 Desember 2025 | 21:12 WIB
AMBLAS: Seorang warga melihat rumah amblas akibat adanya pergeseran tanah. (SUBANTA RAMPANG AYU/SUMUT POS)
AMBLAS: Seorang warga melihat rumah amblas akibat adanya pergeseran tanah. (SUBANTA RAMPANG AYU/SUMUT POS)

TAPSEL, Sumutpos.jawapos.com-Ratusan rumah yang berada di Desa Tandihat, Kecamatan Angkola Selatan, diguncang bencana tanah amblas, dan kondisi ini terjadi untuk ketigakalinya.

“Seluruh warga sudah mengungsi. Kami tidak berani tinggal lagi di desa,” ujar Rahman Harahap di pengungsian Afdeling V PTPN III Simarpinggan, Minggu (7/12/2025).

Diungkapkan Rahman, bukan hanya rumah warga, sejumlah fasilitas umum seperti masjid, kantor desa, bangunan sekolah madrasah hingga tiga surau juga mengalami kerusakan berat.

Sementara itu, pantauan Sumutpos.jawapos. com di lokasi menunjukkan Desa Tandihat berubah menjadi kawasan sepi tanpa aktivitas. Rumah-rumah tampak amblas, retak parah dan sebagian roboh.

Tanah di sekitar pemukiman mereka membentuk celah besar, tanda adanya pergerakan tanah yang masif dan terus berlangsung.
Menurut warga di sana, sebelumnya pada Rabu malam jalan Utama di desa tiba-tiba amblas sekitar 2 meter. Dan pada Kamis malam, tebing longsor dan menimpa salah satu surau.

Kondisi itu berlanjut pada Jumat malam, dinding rumah-rumah warga mengalami keretakan. Dan pada Sabtu malam, puluhan rumah terdorong ke atas lalu amblas.

"Sebelumnya usai Salat Jumat, warga sudah mulai mengungsi secara bertahap. “Ini pergerakan tanah terbesar yang pernah kami alami,” ungkap Pangulu Waruwu (71), tokoh masyarakat setempat.

Menurut beberapa warga bermarga Harahap, Dalimunthe dan Hasibuan, sejak Desa Tandihat berdiri pada tahun 1919, desa mereka sudah 3 kali mengalami pergerakan tanah besar.

Hal itu terjadi pada tahun 1962, Tanah amblas hingga beberapa rumah dalam kondisi miring. Kemudian pada tahun 1988, pergerakan tanah mengakibatkan 15 rumah warga mengalami dinding retak. Dan untuk ketiga kalinya pada
tahun ini, 2025, sebanyak 135 rumah rusak parah di luar fasilitas umum. "Hanya 46 rumah masih dinilai layak,"ungkap warga.

Kondisi tanah yang terus bergerak membuat seluruh wilayah desa dinyatakan tidak aman dihuni, hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Seluruh penduduk Desa Tandihat—ribuan jiwa—telah dievakuasi ke beberapa titik pengungsian. Mereka berharap pemerintah segera menetapkan status bencana serta mengambil langkah konkret, mulai dari relokasi, bantuan logistik, hingga dukungan psikososial.

Hingga kemarin, BPBD bersama aparat desa masih mendata kerusakan serta kebutuhan warga terdampak.(mag-10/han)

Editor : Johan Panjaitan
#tapanuli selatan #rusak #amblas #pergeseran tanah