DAIRI, SUMUT POS- Layanan Hemodialisis (HD) atau cuci darah di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sidikalang ditutup sejak 13 Desember yang lalu. Hal ini, membuat puluhan pasien mencari rumah sakit lain hingga harus keluar kota.
Kian Munthe, Anggota DPRD Dairi dari fraksi Nasional Demokrat (Nasdem) yang juga pasien cuci dari di RSUD Sidikalang mengatakan, sekitar 60 orang pasien HD yang biasa melakukan cuci darah di RSUD Sidikalang, saat ini kocar-kacir cari rumah sakit.
Karena itu, dirinya dan pasien lain harus mencari rumah sakit lain yang berada di luar Dairi.
"Saya cuci darah ke Medan, dan pasien lain banyak yang ke daerah lain," ujarnya kepada wartawan, Sabtu (27/12/2025).
Kian menyebut, layanan HD ditutup pihak rumahsakit karena mesin dialiser di tarik pendor. Dicurigai, penarikan mesin dimaksud karena pihak RSUD Sidikalang telat melakukan pembayaran.
"Pemberitahuan tidak melayani HD dilakukan, 13 Desember 2025, dan pihak rumahsakit berjanji hanya 2 hari. Lalu, muncul lagi pemberitahuan, penutupan layanan HD sampai waktu yang tidak ditentukan. Hal itu membuat puluhan pasien jadi resah," jelasnya.
Menurut Kian Munthe, tidak semua pasien HD dalam kondisi fisik normal. Ada sebagian dari mereka tidak bisa berjalan, dan harus dipapah, jadi sangat kasihan, ucapnya.
"Jadi penutupan itu, sangat menyusahkan dan terkesan menyengsarakan kami selaku pasien HD," ungkap Kian lagi.
Bupati Dairi, Ir Vickner Sinaga, diminta harus segera bertindak untuk mengatasi persoalan apa sebenarnya yang sedang terjadi.
Legislator itu meminta Bupati Vickner Sinaga, segera melakukan investigasi terkait pengadaan mesin dialiser HD tersebut.
"Apa permasalahan, kenapa sampai pihak vendor melakukan penarikan peralatan mesin HD dimaksud," tegas Kian Munthe. (rud/ram)
Editor : Juli Rambe