Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Pascabencana, Sekolah di Tapteng Kembali Buka dengan Pembelajaran Menyenangkan

Johan Panjaitan • Selasa, 6 Januari 2026 | 21:25 WIB
Dinas Pendidikan Tapteng melaksanakan proses belajar mengajar di sekolah darurat dengan menerapkan pembelajaran menyenangkan, Senin (5/1/2026). (FOTO: SMG)
Dinas Pendidikan Tapteng melaksanakan proses belajar mengajar di sekolah darurat dengan menerapkan pembelajaran menyenangkan, Senin (5/1/2026). (FOTO: SMG)

TAPTENG, Sumutpos.jawapos.com-Setelah banjir bandang dan tanah longsor mengguncang Tapanuli Tengah, dunia pendidikan perlahan bangkit. Aktivitas belajar-mengajar kembali dimulai, tidak dengan wajah lama yang penuh target, melainkan dengan pendekatan pelajaran menyenangkan, trauma healing, dan dukungan psikososial bagi peserta didik.

Plt Kepala Dinas Pendidikan Tapteng Johannes Simanjuntak menegaskan bahwa proses belajar telah berjalan sejak 5 Januari 2026, sesuai arahan Bupati dan Wakil Bupati. Sekolah diminta menjadi ruang aman pertama bagi anak-anak yang baru keluar dari ketakutan.

“Mulai tanggal itu, semua sekolah sudah melaksanakan kegiatan belajar dengan menerapkan pembelajaran menyenangkan. Tidak ada beban pekerjaan rumah, bahkan PR ditiadakan,” ujar Johannes, Senin (5/1/2026) di Pandan.

Untuk sekolah yang masih terisolasi seperti SD Sigiring-giring dan SD Hutanabolon 3, kegiatan dilakukan di sekolah darurat menggunakan tenda bantuan Kementerian Pendidikan. Sebagian dari 161 siswa SD Hutanabolon 2 dialihkan ke SD Hutanabolon 1, sementara lainnya tetap belajar di tenda.

Antusiasme anak-anak menjadi energi pemulih tersendiri. “Siswa sangat antusias dan tetap bersemangat mengikuti kegiatan belajar,” katanya.

Pemkab melalui Dinas Pendidikan juga telah menyalurkan seragam sekolah, alat tulis, tas, berdasarkan data siswa terdampak. Di Kecamatan Tukka, mayoritas siswa sudah menerima bantuan pakaian dan perlengkapan belajar.

Namun jejak bencana belum sepenuhnya terhapus. Sejumlah sekolah masih dalam proses pembersihan akibat ketebalan lumpur mencapai sekitar 80 sentimeter. Alat berat dari Dinas PUPR dikerahkan, termasuk excavator, untuk membuka kembali kelas yang sempat terkubur.

Johannes yakin kebangkitan tak cukup oleh bangunan, tetapi oleh manusia di dalamnya. Guru-guru diminta hadir sebagai motivator, memberi semangat, sekaligus mendampingi program trauma healing dan psikososial.

Dari 16 kecamatan terdampak, tingkat kehadiran siswa dilaporkan mencapai 90 persen, dan di sekolah yang telah bersih kegiatan berjalan normal tanpa PR maupun tugas memberatkan.

Besarnya dampak terlihat dari pemetaan awal: 300 lebih sekolah terdampak, terdiri dari 194 SD, 98 SMP, dan sisanya TK/PAUD. Dinas Pendidikan telah mengajukan proposal ke Kementerian Pendidikan dan Kementerian PUPR untuk rekonstruksi dan perbaikan.

“Kami terus melakukan pemetaan agar bantuan tepat sasaran. Sekolah harus kembali menjadi rumah pengetahuan, bukan ruang trauma,” pungkas Johannes.(smg/han)

Editor : Johan Panjaitan
#tapanuli tengah #belajar #Pasca Bencana #banjir