Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Tiga Desa di Sepanjang Sungai Batangtoru Masih Terendam, Normalisasi Mendesak

Johan Panjaitan • Jumat, 9 Januari 2026 | 08:49 WIB
Warga di tiga desa sepanjang Sungai Batangtoru, Tapanuli Selatan masih alami kebanjiran. (SUBANTA RAMPANG AYU/SUMUT POS)
Warga di tiga desa sepanjang Sungai Batangtoru, Tapanuli Selatan masih alami kebanjiran. (SUBANTA RAMPANG AYU/SUMUT POS)

TAPANULI SELATAN, Sumutpos.jawapos.com-Saat wilayah lain mulai beranjak dari fase tanggap darurat menuju rehabilitasi dan rekonstruksi pascabanjir, nasib berbeda masih dialami warga di tiga desa yang berada di sepanjang aliran Sungai Batangtoru. Hingga Kamis (8/11/2026), kawasan tersebut masih terendam banjir dengan ketinggian air berkisar setengah hingga satu meter.

Tiga wilayah yang terdampak parah yakni Dusun Suka Maju Benteng dan Kemuning di Desa Hapesong Baru, Kecamatan Batangtoru; Desa Bandar Tarutung, Kecamatan Angkola Sangkunur; serta Dusun Mabang Pasir, Desa Muara Hutaraja, Kecamatan Muara Batangtoru.

Pantauan Sumutpos.jawapos.com menunjukkan, rumah warga hingga fasilitas pendidikan masih terendam air. Luapan Sungai Batangtoru belum surut akibat pendangkalan sungai yang kian parah pascabanjir besar. Kondisi ini membuat aktivitas warga lumpuh total.

Di Dusun Benteng, Desa Hapesong Baru, puluhan keluarga terpaksa mengungsi ke masjid dan posko darurat, baik yang disediakan pemerintah maupun dibangun secara swadaya oleh warga. Pemukiman mereka masih dikepung air, tanpa kepastian kapan akan benar-benar surut.

Ahmad Hulu, tokoh agama sekaligus Ketua Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Masjid Al Iman, mengungkapkan keresahan mendalam atas kondisi tersebut. Menurutnya, banjir kali ini adalah yang terparah sejak ia bermukim di wilayah itu.

“Saya tinggal di sini sejak 1998, dan ini yang paling parah. Dari 84 rumah, ada 76 rumah yang terendam. Dulu kawasan ini rawa-rawa. Saya bahkan pernah berkebun tomat dan jeruk sebelum akhirnya memutuskan membangun rumah di sini,” ujarnya.

Situasi serupa terjadi di Desa Bandar Tarutung. Selain rumah warga, satu sekolah dasar juga terendam banjir, memaksa kegiatan belajar mengajar dihentikan sementara. Anak-anak terpaksa tinggal di pengungsian tanpa kepastian kapan bisa kembali bersekolah.

Hasil penelusuran di lapangan menunjukkan, penyebab utama banjir berkepanjangan ini adalah pendangkalan Sungai Batangtoru yang diperparah oleh tumpukan kayu sisa banjir. Kayu-kayu tersebut menggunung di bantaran sungai dan menyumbat aliran air, menyebabkan muka air sungai naik dan meluber ke pemukiman serta jalan desa.

Kondisi ini membuat air mencari jalur baru dan memperluas genangan ke kawasan padat penduduk. Warga pun mendesak adanya langkah konkret dan segera dari pemerintah, khususnya normalisasi sungai melalui pengerukan dasar sungai dan pembersihan sisa kayu yang menyumbat aliran.

Tanpa upaya tersebut, banjir dikhawatirkan akan terus berulang, menjadikan penderitaan warga di sepanjang Sungai Batangtoru sebagai krisis tahunan yang tak kunjung teratasi.(mag-10/han)

Editor : Johan Panjaitan
#Batangtoru #tapsel #sungai #Pendangkalan