Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Bencana di Tapsel Masih Mengubur Mata Pencaharian Ribuan Warga

Johan Panjaitan • Jumat, 23 Januari 2026 | 10:25 WIB
Tumpukan sampah dan material sisa banjir masih menutupi lahan pertanian para petani di Tapanuli Selatan pasca banjir bandang. (SUBANTA/SUMUT POS)
Tumpukan sampah dan material sisa banjir masih menutupi lahan pertanian para petani di Tapanuli Selatan pasca banjir bandang. (SUBANTA/SUMUT POS)

TAPSEL, Sumutpos,jawapos.com– Tebalnya material pasir, sirtu, batu, serta tumpukan kayu gelondongan yang menimbun lahan pertanian di berbagai wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) hingga kini masih mengubur mata pencaharian ribuan warganya. Mayoritas korban bencana merupakan petani sawah, hortikultura, dan kebun yang selama ini sepenuhnya menggantungkan hidup dari hasil pertanian.

Pada Rabu (21/1/2026), sumutpos.jawapos.com meninjau kawasan persawahan Pulo Godang di Kecamatan Batangtoru, salah satu wilayah terparah terdampak banjir bandang. Hamparan sawah yang berada di tepian Sungai Batangtoru, Desa Telo, kini berubah menjadi hamparan material banjir.

Berdasarkan data Dinas Pertanian Tapanuli Selatan dan keterangan warga setempat, luas lahan terdampak di Pulo Godang mencapai sekitar 57 hektare, terdiri dari sawah, kebun pisang, tanaman cabai, serta perkebunan kelapa sawit. Lahan tersebut selama puluhan tahun menjadi sumber penghidupan warga enam desa, yakni Kelurahan Wek I, Wek II, Wek III, Wek IV, Desa Telo, dan Kampung Napa.

“Warga dari enam desa bertani di Pulo Godang ini sejak dulu sampai sekarang,” ujar Ahmad Harahap, warga Desa Telo, saat ditemui di lokasi.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tapanuli Selatan, Taufik Batubara, mengatakan seluruh areal persawahan di Kecamatan Batangtoru mengalami kerusakan parah akibat tertimbun sisa material banjir dengan ketebalan mencapai 3 hingga 5 meter. Total luas lahan pertanian rusak di kecamatan tersebut tercatat sekitar 157 hektare, dengan Pulo Godang sebagai sentra terluas.

“Di lokasi persawahan ini terdapat 179 petani yang tergabung dalam enam kelompok tani. Informasi yang kami terima, banyak petani kini beralih menjadi buruh harian lepas di PTPN IV Kebun Batangtoru untuk menyambung hidup,” ujar Taufik saat dikonfirmasi melalui WhatsApp.

Pantauan di lapangan menunjukkan lahan persawahan Pulo Godang nyaris tak lagi berbatas dengan sungai. Permukaan lahan telah tertimbun pasir, sirtu, dan batu, sementara kayu-kayu gelondongan masih berserakan di berbagai titik. Beberapa pondok sawah tampak rusak, sedangkan saung tani—yang dibangun melalui program CSR PT AR pada 2023—ambruk tak tersisa.

Kondisi infrastruktur penunjang pertanian juga memprihatinkan. Jembatan kayu atau rambin sepanjang 196 meter yang menjadi satu-satunya akses menuju lahan persawahan porak-poranda. Lantai jembatan rusak parah, sementara jalan setapak menuju rambin lenyap dan berubah menjadi alur sungai baru. Padahal, sebelum banjir, permukaan Sungai Batangtoru berada sekitar enam meter di bawah lantai jembatan.

Rambin tersebut tercatat telah empat kali hancur akibat luapan Sungai Batangtoru, masing-masing pada 2016, 2019, 2023, dan terakhir 2025.

Warga dan petani berharap adanya tindakan serius berupa normalisasi sungai melalui pengerukan sedimen secara menyeluruh. Pengerukan tersebut dinilai penting agar muka air sungai kembali berada di bawah permukaan sawah, sementara hasil kerukan dapat dimanfaatkan sebagai tanggul alami untuk mencegah banjir berulang.

Di lokasi, terlihat dua unit alat berat mulai melakukan pengerukan sedimen di badan Sungai Batangtoru. Namun, masyarakat berharap langkah tersebut dilakukan secara berkelanjutan dan terintegrasi agar lahan pertanian dapat kembali produktif dan mata pencaharian ribuan warga dapat dipulihkan.(mag-11/han)

Editor : Johan Panjaitan
#tapanuli selatan #petani #buruh #sawah #banjir bandang #Bancana