STABAT, Sumutpos.jawapos.com-Pengelolaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kelurahan Pekanbahorok, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, menuai protes warga. Masyarakat setempat menilai pengelola tidak memprioritaskan putra daerah dalam proses perekrutan tenaga kerja.
Kekecewaan itu disampaikan langsung warga dengan mendatangi lokasi SPPG di Jalan Perintis Kemerdekaan, Rabu (28/1/2026) pagi. Mereka mempersoalkan dominasi tenaga kerja dari luar wilayah Pekanbahorok.
“Dari total kebutuhan 47 orang, hanya sekitar 15 warga lokal yang diterima. Selebihnya justru dari luar daerah,” ujar Aksa, perwakilan warga, Rabu(28/2) siang.
Menurutnya, perekrutan dilakukan tanpa transparansi. Informasi penerimaan tenaga kerja bahkan diumumkan pada tengah malam, sehingga banyak warga setempat tidak mengetahui proses tersebut.
Warga berharap adanya keberpihakan terhadap masyarakat lokal. “Idealnya, minimal 70 persen tenaga kerja berasal dari warga setempat dan 30 persen dari luar. Yang terjadi justru sebaliknya,” katanya.
Aksa menambahkan, jarak tempuh tenaga kerja luar dinilai tidak efektif. “Ada yang datang dari Marike dan Kendit dengan jarak tempuh hingga setengah jam. Padahal warga setempat hanya lima menit dari lokasi,” ujarnya.
Mediasi sempat digelar dan dihadiri Kapolsek Bahorok AKP Tunggul Situmeang. Namun, perwakilan pengelola SPPG dan pihak yayasan disebut tidak hadir dalam pertemuan tersebut.
Terpisah, Koordinator Wilayah SPPG Langkat, Ali Ikhsan, mengakui bahwa pada prinsipnya SPPG harus memprioritaskan masyarakat sekitar dapur layanan. Selain jarak, kondisi ekonomi juga menjadi pertimbangan.
“Namun memang ada kebijakan tertentu dari pihak yayasan terkait persentase tenaga kerja,” katanya, tanpa merinci ketentuan tersebut.
Hingga kini, masyarakat Pekanbahorok masih berharap adanya evaluasi dan kebijakan ulang agar warga lokal mendapat ruang yang adil untuk terlibat dalam operasional SPPG di wilayahnya.(ted/han)
Editor : Johan Panjaitan