Serbuan Pedagang Dadakan, Harga Kembang Ziarah di Rantauprapat Anjlok Jelang Ramadan

Johan Panjaitan • Dipublikasikan Rabu, 18 Februari 2026 | 20:55 WIB

Peziarah membeli bunga untuk ziarah kubur  jelang bulan suci Ramadan di lokasi perkuburan muslim di Rantauprapat (Fajar/ Sumut Pos)
Peziarah membeli bunga untuk ziarah kubur  jelang bulan suci Ramadan di lokasi perkuburan muslim di Rantauprapat (Fajar/ Sumut Pos)

LABUHANBATU, Sumutpos.jawapos.com– Menjelang datangnya bulan suci, geliat bisnis musiman penjualan bunga ziarah di Rantauprapat semakin memanas. Banyaknya pedagang dadakan yang berdatangan membuat persaingan kian tajam hingga memaksa para penjual lama banting harga demi mempertahankan pembeli.

Di kompleks perkuburan Muslim Paindoan, seorang pedagang musiman, Nur Aisyiah, mengaku kondisi tahun ini jauh lebih berat dibandingkan sebelumnya. Ia menyebut jumlah penjual meningkat drastis karena banyak pendatang dari luar wilayah ikut mengais rezeki menjelang Ramadan.

“Semakin banyak jumlah pedagang bunga berdatangan. Bahkan dari luar lingkungan sini. Ini yang membuat laba kami menurun,” ujarnya, Rabu (18/2/2026).

Baca Juga: Kejari Binjai Tetapkan Mantan Kadis Ketapang Tersangka Penyalahgunaan Wewenang

Menurutnya, persaingan yang kian ketat membuat harga kembang ziarah terpaksa ditekan. Jika tahun lalu satu bungkus kembang masih bisa dijual Rp2.500 dan air bersih Rp2.000 per botol, kini pola penjualan berubah total.

“Dulu Rp5.000 dapat dua bungkus. Sekarang harus tiga bungkus untuk harga yang sama,” katanya.

Penurunan pendapatan pun tak terelakkan. Ia memperkirakan omzet turun hingga 40 persen. Jika sebelumnya masih bisa membawa pulang sekitar Rp100 ribu per hari, kini pendapatan hanya berkisar Rp60 ribu.

Meski demikian, tradisi ziarah kubur jelang Ramadan tetap menjadi magnet bagi warga Labuhanbatu. Sejak pagi hingga sore, masyarakat terlihat silih berganti mendatangi makam keluarga. Mereka membawa bunga untuk ditabur di pusara setelah berdoa, sebuah tradisi yang terus dijaga dari tahun ke tahun.

Namun di balik suasana religius itu, para pedagang kecil kini harus berjuang lebih keras. Lonjakan jumlah penjual membuat rezeki yang dulu terasa pasti, kini harus dibagi semakin tipis di tengah kompetisi musiman yang makin sengit.(fdh/han)

Editor : Johan Panjaitan
pedagang kembang ramadan ziarah kubur