Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Tiga Bulan Pasca-Bencana, 8 Desa di Tapanuli Masih Sulit Ditembus

Juli Rambe • Kamis, 26 Februari 2026 | 22:54 WIB

Kepala Tim Posko Darurat Bencana Sumatera Utara, Basarin Yunus Tanjung. (Dok: istimewa)
Kepala Tim Posko Darurat Bencana Sumatera Utara, Basarin Yunus Tanjung. (Dok: istimewa)

 

MEDAN, SUMUT POS— Tiga bulan telah berlalu sejak bencana banjir dan tanah longsor hebat menghantam Sumatera Utara pada akhir November lalu.

Namun, bagi warga di delapan desa di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) dan Tapanuli Selatan (Tapsel), perjuangan untuk memulihkan konektivitas masih jauh dari kata usai.

Hingga saat ini, akses menuju wilayah-wilayah tersebut masih terbatas. Kendaraan roda empat dilaporkan belum bisa melintas akibat kerusakan parah pada badan jalan dan jembatan yang belum pulih sepenuhnya.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sumut Basarin Yunus Tanjung menegaskan, desa-desa tersebut tidak dalam kondisi terisolasi total. Warga masih dapat beraktivitas menggunakan sepeda motor atau berjalan kaki.

"Wilayah dengan akses terbatas tersebut bukan terisolir. Wilayah itu masih dapat dijangkau dengan kendaraan roda dua dan berjalan kaki. Namun, untuk kendaraan roda empat belum bisa," ujar Basarin di Medan, Kamis (26/2).

Adapun desa-desa yang masih mengalami kendala akses tersebut antara lain, Desa Rura Julu Toruan Kecamatan Sipaholon, Desa Pertengahan, Desa Huta Tua, dan Desa Huta Julu Parbalik Kecamatam Parmonangan di Kabupaten Tapanuli Utara. Kemudian Desa Saur Manggita, Desa Sait Kalangan Dua, Desa Sigiring-giring, dan Desa Sibio-bio di Kecamatan Tukka dan Sibabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah. 

Tantangan Banjir Susulan dan Jembatan 'Rampo'

Dalam percepatan pemulihan pasca-banjir, Pemerintah Provinsi Sumut bekerja sama dengan TNI tengah mengebut pembangunan 10 unit jembatan rampo—konstruksi besi dengan plat penahan yang ditimbun tanah—agar dapat dilalui truk pengangkut logistik. Sayangnya, upaya pemulihan ini sempat terhambat oleh alam. 

Banjir susulan yang terjadi pada 11 dan 16 Februari lalu menyebabkan satu jembatan yang baru saja rampung mengalami pergeseran dan kerusakan.

"Akan kita perbaiki kembali. Jika cuaca mendukung, progresnya kami targetkan selesai pada bulan Maret nanti," tambah Basarin.

Guna mencegah dampak yang lebih luas, Pemprov Sumut telah melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada 18-21 Februari melalui Bandara Silangit dan Kualanamu. Langkah ini diambil untuk memecah konsentrasi curah hujan agar proses pembersihan material longsor tidak terganggu.

Bencana yang terjadi akhir tahun lalu itu tercatat sebagai salah satu yang terdahsyat di Sumut, berdampak pada 1,8 juta jiwa dan merenggut 376 nyawa.

Hingga hari ini, sebanyak 3.506 jiwa masih bertahan di tenda pengungsian, menanti pulihnya akses dan hunian mereka. (bbs/ram)

 

Editor : Juli Rambe
#8 desa terisolir di tapanuli sumut #Akses desa di tapanuli #3 bulan pasxa bendaca di sumut