GUNUNG TUA, Sumutpos.jawapos.com – Di tengah geliat persiapan Idul Fitri, denyut ekonomi rakyat juga menguat di sektor perikanan darat. Dari kolam-kolam yang tenang di wilayah Padang Lawas Utara, tepatnya di sekitar Gunung Tua, seorang pembudidaya bernama Haji Sutan tengah menatap musim panen dengan penuh keyakinan.
Sebanyak 10.000 ekor bibit ikan nila kini dibesarkannya, diproyeksikan mencapai ukuran konsumsi saat permintaan pasar melonjak menjelang Lebaran. Bagi Haji Sutan, momentum hari raya bukan sekadar tradisi, melainkan puncak siklus ekonomi yang harus disambut dengan kesiapan matang.
Keunggulan utama kolam budidaya miliknya terletak pada sumber air yang stabil dan melimpah. Debit yang terjaga memastikan sirkulasi oksigen tetap optimal—faktor krusial dalam pembesaran ikan nila skala besar.
Namun, infrastruktur alam bukan satu-satunya penentu. Haji Sutan menekankan pentingnya konsistensi dalam pemberian pakan. Tidak ada hari tanpa pelet.
“Kuncinya ada pada disiplin. Pakan tidak boleh terputus. Kalau gizinya terjaga, pertumbuhan ikan seragam dan dagingnya lebih padat,” ujarnya tegas di tepi kolam.
Baca Juga: Bupati Dairi Rombak 78 Pejabat, Direktur RSUD Sidikalang Dicopot
Pendekatan itu membuat ribuan ikan tumbuh relatif merata—nilai tambah penting ketika pasar menghendaki ukuran konsumsi yang seragam.
Menjawab Lonjakan Permintaan Lebaran
Ikan nila merupakan salah satu komoditas favorit saat Idul Fitri. Dibakar dengan sambal khas, dimasak gulai, atau dijadikan hidangan keluarga besar, permintaannya cenderung melonjak signifikan.
Dengan populasi mencapai 10.000 ekor, panen Haji Sutan diperkirakan memberi kontribusi nyata terhadap ketersediaan protein hewani di Paluta dan sekitarnya. Lebih dari itu, keberhasilan ini menjadi gambaran bahwa sektor perikanan darat mampu menjadi penopang ekonomi lokal jika dikelola secara profesional.
Potensi yang Menjanjikan
Langkah Haji Sutan menunjukkan bahwa potensi perikanan di Padang Lawas Utara bukan sekadar wacana. Kombinasi sumber daya alam yang mendukung dan manajemen budidaya yang disiplin membuka peluang ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat.
Menjelang Lebaran, kolam-kolam di Gunung Tua tak hanya memantulkan cahaya matahari sore, tetapi juga harapan akan panen melimpah—sebuah “emas hitam” dari air tawar yang mengalir tenang, namun memberi dampak besar bagi roda ekonomi daerah.(mag-12/han)
Editor : Johan Panjaitan