Sumutpos.jawapos.com-Di balik rimbunnya daun kamboja dan deretan nisan yang sunyi di Tanjung Sari, ada sosok pria tegap dengan janggut khas yang tak kenal lelah membersihkan dedaunan kering. Dialah Riswansyah Sutrisno, lahir tahun 1983, yang lebih dikenal dengan nama Iwan Jenggot. Dua dekade terakhir, ia mendedikasikan hidupnya untuk sebuah pekerjaan yang jarang mendapat sorotan yakni: seorang penggali kubur.
Pengabdian Tanpa Gaji Tetap
Sejak 2005, Iwan menjalani profesinya tanpa gaji bulanan tetap. Pemasukan yang ia terima hanya berasal dari pekerjaan yang dilakukan, ditambah uang kebersihan sebesar Rp350.000—jumlah yang jauh dari cukup untuk menutupi kebutuhan keluarga di zaman sekarang.
"Kalau ditanya cukup atau tidak untuk keluarga...," ujarnya sambil terdiam sejenak, menghela napas panjang. "Ya, kadang ada peziarah yang berbelas kasih kasih uang kebersihan, ada juga yang tidak peduli. Pokoknya rezeki itu sudah ada yang mengatur." Senyum getir tapi tulus itu mencerminkan filosofi hidupnya.
Bersih Demi Martabat Jenazah
Bagi Iwan, pemakaman bukan sekadar tempat kerja, melainkan amanah yang harus dijaga. Standar kebersihannya tak tergoyahkan. Selama bertugas, wajah pemakaman Tanjung Sari berubah menjadi rapi, asri, dan penuh ketenangan.
"Saya nggak bisa lihat pemakaman ini kotor, Bang. Kasihan lihatnya," katanya tegas.
Kecintaannya pada kebersihan bahkan kerap menguras kantong pribadinya sendiri. Jika tak ada bantuan untuk membeli cairan pembersih rumput, ia rela merogoh uang sendiri. "Kadang sesekali pakai uang pribadi, Bang. Buat amal lah," ujarnya sambil terkekeh ringan, menegaskan bahwa pengabdian itu lebih besar dari materi.
Dua Dekade yang Terlupakan
Memasuki tahun ke-20 pengabdiannya, Iwan tetap berdiri tegap dengan cangkul di bahunya. Ia adalah bukti bahwa pahlawan tidak selalu mengenakan seragam mentereng. Di Tanjung Sari, pahlawan itu adalah seorang pria yang rela berkeringat demi memastikan tempat istirahat terakhir sesama manusia tetap layak dan bersih, meski nasib ekonominya sendiri sering berada di ujung ketidakpastian.
Dedikasi Iwan Jenggot adalah pengingat nyata: keikhlasan dan tanggung jawab bisa menjadikan pekerjaan yang tak terlihat sekalipun menjadi prestasi yang layak dihormati.(mag-12/han)
Editor : Johan Panjaitan