MEDAN, SUMUT POS- Sekretaris Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Sumatera Utara, Rochani Litiloly, menyampaikan bahwa kondisi ruas jalan nasional di Sumatera Utara pascabencana saat ini dalam keadaan terhubung, meskipun di beberapa titik masih diberlakukan pembatasan akses akibat longsor dan potensi gangguan keselamatan.
Hal itu disampaikannya dalam menghadapi arus mudik Lebaran, di tengah adanya sejumlah titik longsor dan kemacetan di berbagai ruas jalan di Sumut.
“Secara umum, seluruh koridor jalan nasional di Sumatera Utara dalam kondisi terhubung. Namun memang terdapat beberapa titik yang terdampak longsor, jalan amblas, maupun genangan banjir. Seluruhnya sudah dilakukan penanganan, baik sementara maupun permanen secara bertahap,” ujar Rochani saat memberikan keterangannya kepada Sumut Pos, Kamis (5/3/2026).
Rochani merinci, total terdapat 382 lokasi terdampak bencana yang tersebar di 12 kabupaten/kota, yakni Kabupaten Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Dairi, Kabupaten Karo, Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Langkat, dan Kota Binjai.
Dari jumlah tersebut, terdiri atas:
263 titik longsoran tebing
19 titik jalan putus
65 titik jalan amblas
7 titik jembatan putus/rusak
28 titik genangan banjir
“Penanganan 263 titik longsor tebing telah tuntas. Kemudian untuk 19 titik jalan putus, 65 titik jalan amblas, dan 7 titik jembatan putus atau rusak juga sudah dilakukan penanganan sementara dan dinyatakan tuntas. Sementara 28 titik genangan banjir saat ini sudah surut,” jelasnya.
Sejumlah koridor jalan nasional yang terdampak kini telah kembali terhubung, di antaranya:
Koridor Medan–Belawan–Jalan Kapten Sumarsono–Binjai (65,7 km)
Koridor Batas Karo–Panji–Merek–Batas Kabupaten Dairi (44 km)
Koridor Sidikalang–Samosir–Batas Aceh (29,37 km)
Koridor Batas Provinsi Aceh–Barus–Batas Kota Sibolga (110,86 km)
Koridor Tarutung–Sibolga via Rampa–Poriaha (67 km)
Koridor Sibolga–Batangtoru–Padang Sidempuan (65,76 km)
Koridor Batangtoru–Singkuang (117,57 km)
Koridor Batas Provinsi Aceh–Simpang Pangkalan Susu–Batas Tanjung Pura–Binjai (56,6 km)
Koridor Jalan Jamin Ginting–Batas Kota Medan–Batas Karo (46,33 km)
Koridor Tarutung–Sipirok (68,61 km)
Koridor Batas Kota Padang Sidempuan–Batas Kabupaten Mandailing Natal (28,35 km)
Koridor Singkuang–Natal–Simpang Gambir–Batas Provinsi Sumatera Barat (129,49 km)
Menurut Rochani, seluruh koridor tersebut dalam kondisi terhubung dan dapat dilalui kendaraan.
Khusus pada segmen Simpang Rampa–Sibolga via Batu Lubang sepanjang 17 kilometer, saat ini sudah dapat dilalui kendaraan, namun dengan sistem buka tutup menyesuaikan kondisi lapangan.
“Segmen Simpang Rampa–Sibolga via Batu Lubang sudah terhubung dan dapat dilalui kendaraan, namun masih terbatas dengan sistem buka tutup tergantung situasi. Hal ini dilakukan untuk memastikan aspek keselamatan pengguna jalan,” terang Rochani.
Sebagai alternatif, masyarakat yang hendak menuju Kota Sibolga dari arah Tarutung dapat menggunakan jalur Jalan Nasional ruas Batas Kota Tarutung–Simpang Rampa–Poriaha–Sibolga.
Selain penanganan darurat, pemerintah juga telah menyelesaikan Detail Engineering Design (DED) pada 13 lokasi terdampak hingga 25 Januari 2026. Selanjutnya, akan dilakukan penanganan permanen melalui rehabilitasi dan rekonstruksi.
“Kami memastikan penanganan permanen segera dilaksanakan pada lokasi yang telah selesai DED-nya, sehingga infrastruktur jalan nasional di Sumatera Utara dapat kembali optimal dan lebih tangguh menghadapi potensi bencana ke depan,” tutup Rochani.
Dinas Perhubungan Sumut mengimbau masyarakat untuk tetap berhati-hati saat melintas di ruas-ruas terdampak, terutama pada jalur yang masih diberlakukan sistem buka tutup, serta selalu mengikuti arahan petugas di lapangan demi keselamatan bersama. (san/ram)
Editor : Juli Rambe