Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Pembangunan SPAM Pasca Bencana di Sumut Dikebut, Tarutung Dapat IPA Baru Kapasitas 50 Liter per Detik

Johan Panjaitan • Minggu, 8 Maret 2026 | 22:16 WIB

Kepala Balai Penataan Bangunan, Prasarana, dan Kawasan Sumut, Yenni Mulyadi. (ISTIMEWA/SUMUT POS)
Kepala Balai Penataan Bangunan, Prasarana, dan Kawasan Sumut, Yenni Mulyadi. (ISTIMEWA/SUMUT POS)

TAPUT, Sumutpos.jawapos.com – Pemerintah melalui Balai Penataan Bangunan, Prasarana, dan Kawasan (BPBPK) Sumatera Utara mempercepat pembangunan sistem penyediaan air minum (SPAM) di sejumlah wilayah terdampak bencana di kawasan Tapanuli. Upaya ini dilakukan untuk memastikan masyarakat kembali memperoleh akses air bersih yang layak dan berkelanjutan.

Salah satu proyek strategis yang kini tengah dikerjakan adalah pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) di Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara. Proyek ini menjadi bagian dari konsolidasi layanan air bersih yang sebelumnya mengandalkan sejumlah sistem SPAM skala kecil.

Kepala Balai Penataan Bangunan, Prasarana, dan Kawasan Sumut, Yenni Mulyadi, menjelaskan bahwa sebelum bencana terjadi terdapat sembilan SPAM kecil di Tarutung yang memanfaatkan sumber mata air. Namun sebagian besar belum dilengkapi instalasi pengolahan air yang memadai sehingga kualitas dan keandalan pasokan air menurun setelah bencana.

“Di Tarutung sebelumnya ada sembilan SPAM kecil yang sumbernya dari mata air. Sebagian besar belum dilengkapi instalasi pengolahan air yang memadai, sehingga setelah bencana kualitas dan keandalannya menurun,” ujar Yenni, Minggu (8/3/2026).

Baca Juga: Fauzi Ajak Masyarakat Bentuk Bank Sampah, Jaga Kebersihan dan Tambah Nilai Ekomonis

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah mengambil langkah konsolidasi dengan membangun satu instalasi pengolahan air terpadu yang memanfaatkan sumber air baku dari intake yang telah tersedia.

“Solusinya adalah kita konsolidasikan sembilan SPAM kecil itu ke satu IPA baru yang memanfaatkan sumber air baku dari intake yang sudah ada dan memiliki kapasitas memadai,” jelasnya.

IPA baru yang tengah dibangun itu memiliki kapasitas produksi air mencapai 50 liter per detik. Kapasitas tersebut diperkirakan mampu melayani sekitar 4.000 sambungan rumah (SR) atau kepala keluarga, dengan potensi pengembangan hingga 8.000 kepala keluarga di masa mendatang.

“Dengan kapasitas 50 liter per detik, kita perkirakan dapat melayani sekitar 4.000 sambungan rumah. Namun potensi pengembangannya bisa mencapai 8.000 kepala keluarga,” kata Yenni.

Pembangunan IPA ini ditujukan untuk melayani masyarakat di Kecamatan Tarutung dan direncanakan akan diperluas hingga wilayah Siatas Barita.

Yenni menyebutkan, pekerjaan proyek telah dimulai sejak diterbitkannya Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) pada Desember tahun lalu. Saat ini pembangunan fisik sedang berlangsung dan ditargetkan rampung dalam waktu sekitar lima bulan.

“SPMK sudah keluar sejak Desember lalu dan pekerjaan fisik sudah mulai berjalan. Targetnya dalam lima bulan ke depan pembangunan ini bisa selesai,” ungkapnya.

Dalam pelaksanaannya, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara juga berperan penting, terutama dalam penyediaan lahan untuk pembangunan fasilitas instalasi pengolahan air.

“Pemerintah kabupaten menyiapkan lahannya, sementara pembangunan infrastrukturnya dilakukan oleh kami,” tambahnya.

Baca Juga: PT DPM Gelar Buka Puasa Bersama, Dorong Literasi Publik tentang Pertambangan yang Bertanggung Jawab

Tak hanya di Tarutung, pembangunan infrastruktur air bersih juga dilakukan di sejumlah daerah lain yang terdampak bencana, seperti Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga.

Di Tapanuli Tengah, misalnya, penanganan dilakukan secara bertahap mulai dari langkah darurat hingga pembangunan infrastruktur permanen. Pemerintah telah memperbaiki jaringan perpipaan yang rusak, memperbaiki intake sementara, serta membangun sumber air baru.

“Saat ini empat jaringan perpipaan di wilayah tersebut sudah kembali berfungsi dan melayani kebutuhan air masyarakat,” jelas Yenni.

Selain itu, pemerintah juga telah membangun delapan sumur bor baru, terdiri dari enam unit di Tukang dan dua unit di Pinangsori, guna memperkuat pasokan air bersih bagi warga.

Penanganan infrastruktur air bersih di wilayah terdampak bencana dilakukan melalui dua pendekatan sekaligus, yakni penanganan darurat dan pembangunan permanen.

Penanganan darurat difokuskan pada pemulihan layanan secepat mungkin melalui perbaikan jaringan yang rusak. Sementara pembangunan permanen dilakukan dengan menghadirkan infrastruktur baru yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Salah satu infrastruktur permanen yang kini tengah dibangun adalah jaringan pipa baru sepanjang 2,2 kilometer yang akan dilengkapi hydrant umum setiap 500 meter, sehingga masyarakat dapat lebih mudah mengakses air bersih.

“Sepanjang jaringan pipa itu nanti kita tempatkan hydrant umum setiap 500 meter supaya masyarakat bisa langsung memanfaatkannya,” ujarnya.

Baca Juga: BSI dan Danantara Berbagi Ramadan untuk 5.000 Anak Yatim, Aceh Tamiang Jadi Pusat Kegiatan

Seluruh pembangunan infrastruktur permanen tersebut ditargetkan selesai tahun ini agar pelayanan air bersih di wilayah terdampak bencana dapat kembali normal, bahkan lebih baik dari sebelumnya.

Setelah pembangunan rampung, pengelolaan operasional sistem air bersih akan diserahkan kepada pemerintah daerah melalui perusahaan daerah air minum (PDAM).

“Kami membangun instalasi pengolahan air dan infrastrukturnya, kemudian nanti dihibahkan kepada pemerintah daerah untuk dikelola melalui PDAM,” pungkas Yenni.(san/han)

Editor : Johan Panjaitan
#BPBPK #sumatera utara #spam #Pasca Bencana